Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Holtikultura Dioptimalkan di Lahan Kering, Potensi Ekspor di Depan Mata

Kab. Sleman
4 min read
Holtikultura Dioptimalkan di Lahan Kering, Potensi Ekspor di Depan Mata
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan sekaligus Project Director HDDAP, Freddy. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Kementan mengoptimalkan lahan kering lewat program HDDAP untuk meningkatkan produktivitas hortikultura, kelembagaan petani, serta akses pasar domestik dan internasional di 7 provinsi dan 13 kabupaten.

  • HDDAP memperkuat rantai pasok dari budidaya hingga ekspor, termasuk koperasi sebagai Kelembagaan Ekonomi Petani untuk meningkatkan posisi tawar dan kemitraan petani.

  • Sebanyak 20 ton salak dari Klaster HDDAP Wonosobo dilepas untuk ekspor ke Kamboja, dengan tuntutan konsistensi kualitas, pasokan, standar, dan produksi berkelanjutan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong optimalisasi lahan kering melalui pengembangan komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Upaya ini dilakukan melalui program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP), yang bertujuan meningkatkan produktivitas, memperkuat kelembagaan petani, sekaligus memperluas akses pasar hingga ke tingkat internasional.

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan sekaligus Project Director HDDAP, Freddy, mengatakan pengembangan hortikultura di wilayah lahan kering perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari budidaya hingga pemasaran dan ekspor. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan peluncuran Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) dan Ekspor Hortikultura HDDAP 2026 di Hotel Alana Yogyakarta, Kamis (29/10/2026).

“Melalui program HDDAP, kita berupaya mengembangkan potensi hortikultura di wilayah lahan kering agar mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani dan masyarakat,” ujar Freddy.

  1. 1. Kementan dorong lahan kering jadi sumber ekonomi petani

    WhatsApp Image 2026-10-30 at 09.34.08.jpeg
    Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan sekaligus Project Director HDDAP, Freddy. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Freddy menjelaskan, tantangan pembangunan hortikultura tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi. Kualitas hasil panen, kesesuaian dengan kebutuhan pasar, akses distribusi, dan daya saing produk juga perlu diperhatikan agar usaha petani dapat berkembang secara berkelanjutan.

    Menurutnya, petani tidak cukup hanya mampu menghasilkan produk berkualitas. Hasil pertanian juga harus memiliki kepastian pasar dan memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha di tingkat hulu.

    Karena itu, HDDAP mendorong penguatan rantai pasok hortikultura secara menyeluruh, mulai dari proses budidaya, penguatan kelembagaan petani, penanganan pascapanen, pengolahan, hingga pemasaran dan ekspor.

    Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu petani di wilayah lahan kering mengembangkan potensi komoditas unggulan daerah menjadi usaha yang lebih produktif dan berdaya saing. “HDDAP saat ini menjangkau 7 provinsi dan 13 kabupaten yang menjadi basis lahan kering utama di Indonesia,” kata Freddy.

  2. 2. Kelembagaan ekonomi petani diperkuat

    ilustrasi rupiah (Pexels.com/Defrino Maasy)
    ilustrasi rupiah (Pexels.com/Defrino Maasy)

    Peluncuran Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) menjadi salah satu langkah HDDAP untuk memperkuat usaha bersama dan meningkatkan posisi tawar petani. Dalam program ini, koperasi dikembangkan sebagai salah satu bentuk kelembagaan yang dapat menghubungkan petani dengan pelaku usaha dan pasar.

    Freddy berharap, penguatan kelembagaan tersebut dapat membuka ruang kemitraan yang saling menguntungkan, sekaligus memastikan hasil produksi petani terserap pasar. Meski masih berada pada tahap awal, pengembangan koperasi diharapkan menjadi praktik baik yang dapat dipelajari dan diterapkan di wilayah lain.

    “Produksi harus terhubung dengan kebutuhan pasar, kelembagaan petani harus semakin kuat, dan para pelaku usaha perlu memiliki ruang untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan,” katanya.

  3. 3. Salak Wonosobo disiapkan untuk ekspor ke Kamboja

    ilustrasi salak pondoh
    ilustrasi salak pondoh (commons.wikimedia.org/Dudva)

    Salah satu langkah konkret pengembangan hortikultura melalui HDDAP adalah perluasan pasar ekspor. Pada Jumat (30/10/2026), dilaksanakan pelepasan ekspor salak dari Klaster HDDAP Kabupaten Wonosobo ke Kamboja melalui mitra usaha CV Agronusa sebanyak 20 ton. “Ekspor ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar internasional bagi produk hortikultura yang dikembangkan melalui program HDDAP,” ujarnya.

    Freddy mengatakan, ekspor tidak hanya berkaitan dengan pengiriman produk ke luar negeri, tetapi juga menuntut konsistensi kualitas, kepastian pasokan, pemenuhan standar, dan keberlanjutan produksi. Karena itu, keberhasilan ekspor salak Wonosobo diharapkan dapat menjadi dorongan bagi klaster HDDAP lainnya untuk meningkatkan kualitas produk dan mengembangkan komoditas unggulan daerah.

    Selain membuka peluang pasar yang lebih luas, kegiatan ini diharapkan memperkuat kemitraan antara petani dan pelaku usaha, sekaligus meningkatkan nilai tambah serta pendapatan petani. “Ekspor salak ke Kamboja juga menjadi bagian dari upaya menghubungkan potensi pertanian di wilayah lahan kering dengan kebutuhan pasar internasional,” ujarnya.

    Freddy menegaskan, pengembangan hortikultura melalui HDDAP membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, kelompok tani, pelaku usaha, hingga mitra pembangunan. Ia menyampaikan apresiasi kepada Asian Development Bank (ADB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) atas dukungan kemitraan pembangunan. Apresiasi juga diberikan kepada Kementerian Keuangan, jajaran Kementan, pemerintah daerah, tim pelaksana, konsultan, dan seluruh pihak yang mendukung program tersebut.

    Menurutnya, keberhasilan HDDAP tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan atau peluncuran program. Hal yang lebih penting adalah manfaat nyata bagi petani, semakin kuatnya kelembagaan usaha, terbukanya akses pasar, dan tumbuhnya usaha hortikultura yang berkelanjutan. Melalui pengembangan hortikultura di lahan kering, penguatan kelembagaan petani, dan perluasan akses ekspor, Kementan berharap potensi pertanian daerah dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More