Aksi 'Suara Ibu Indonesia' bertajuk 'Liburan Tetap Melawan' di kawasan sekitaran Bundaran UGM, Sleman, DIY, Jumat (3/7/2026) sore. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Rikka Iffati, bagian dari Suara Ibu Indonesia mengatakan, pihaknya menuntut pemerintah menghentikan program pelatihan SPPI yang berbau militeristik.
Terlebih, Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer KDMP menelan anggaran hingga Rp30 juta per orang.
"Program latihannya yang ternyata tidak tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan malah lebih cenderung ke militeristik, dan ternyata itu menimbulkan, mengakibatkan korban-korban nyawa yang tidak perlu dan sangat mahal," kata Rikka.
"Itu kan kami ya, uang uang pajak rakyat yang seharusnya digunakan untuk hal-hal yang jauh lebih penting seperti misalnya membayari tenaga-tenaga pendidik dengan lebih layak," lanjutnya.
Langkah Kemhan menghentikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi peserta SPPI dan menggantinya dengan Latihan Pembekalan Bela Negara serta Manajerial, menurut Rikka, belumlah cukup.
Pihaknya lebih meminta agar program itu dihentikan sepenuhnya atau diubah konsepnya secara total.
"Tentu saja (tuntutan) dihentikan, tapi saya dengar kurikulumnya sudah diubah ya. Tapi masih banyak unsur-unsur pelatihan lain yang menurut kami itu buang-buang uang. Dana segitu besar, kenapa enggak misalnya menggandeng yang asosiasi koperasi atau apa, itu kan sudah ada ya," katanya.
"Kenapa enggak menggandeng itu? Kenapa harus militer yang masuk? Padahal ini kan KDMP kan harusnya koperasi, harusnya di sesuatu yang diinklusi oleh masyarakat sipil. Jadi kami menolak itu juga menolak militerisasi dalam berbagai hal yang seharusnya dilakukan oleh sipil," sambung dia.