DIY Alami Deflasi 5 Bulan Berturut-turut, Ini Langkah Pemda

- DIY mengalami deflasi 0,10 persen (mtm) dan inflasi tahunan 1,85 persen (yoy) pada September 2024.
- Pemda DIY gencarkan kampanye beli produk lokal di berbagai event untuk menjaga ekosistem UMKM menghadapi tren deflasi.
- Pemda DIY merangsang masyarakat dan instansi untuk memprioritaskan belanja produk UMKM lokal dengan diskon, kemudahan, dan event seni budaya.
Yogyakarta, IDN Times - Deflasi berlangsung selama lima bulan berturut-turut termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian DIY setempat mengalami deflasi pada September 2024 sebesar 0,10 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 1,85 persen (yoy).
Sedangkan secara nasional perekonomian Indonesia mengalami deflasi 0,12 persen (month-to-month/mtm) pada September 2024.
Tren deflasi ini telah berlangsung sejak Mei 2024, dengan rincian deflasi 0,03 persen pada Mei, 0,08 persen pada Juni, 0,18 persen pada Juli, dan 0,03 persen pada Agustus.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY Wisnu Hermawan mengatakan Pemda DIY menggencarkan kampanye beli produk lokal di berbagai event untuk menjaga ekosistem UMKM menghadapi tren deflasi.
"Kami coba jaga dengan kampanye 'ayo belanja produk lokal kita sendiri, ayo kita melarisi produk UMKM kita sendiri'," kata Wisnu Hermawan, Rabu (9/10/2024).
1. Berikan diskon banyak

Wisnu menjelaskan Pemda DIY berupaya merangsang masyarakat serta berbagai instansi untuk lebih memprioritaskan belanja produk UMKM lokal ketimbang barang impor.
"Sekarang kami juga mengeluarkan banyak diskon, kemudahan-kemudahan atau banyak event yang membuat masyarakat itu kemudian bisa konsumtif terhadap produk lokal," ujarnhya dikutip Antara.
2. Gelar sejumlah kegiatan seni

Menurut Wisnu langkah lain yang digalakkan adalah dengan berbagai kegiatan seni dan budaya juga banyak digelar. Tujuannya, kata Wisnu, untuk memancing kunjungan wisata serta kegiatan "Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition (MICE)" tetap ramai di Yogyakarta.
"Tujuannya merangsang masyarakat kemudian bisa konsumtif dan harapannya ekonomi bisa tetap tumbuh dan bergerak," ujar dia.
3. Pemda DIY sediakan program Sibakul bagi UMKM

Wisnu menambahkan menghadapi potensi penurunan daya beli masyarakat, Dinas Koperasi dan UKM DIY meminta pelaku UMKM mengantisipasi dengan tetap kreatif dan inovatif serta lebih jeli melihat peluang pasar.
"Harus jeli melihat keadaan tapi tetap kreatif dan harus terus inovatif, karena kalau gejolak ekonomi ini berlaku secara nasional, kita harus bisa berhati-hati, jangan sampai ekonomi ini lesu," kata dia. Bahkan, katanya, untuk memperkuat ekosistem UMKM, Pemda DIY telah menyediakan aplikasi SiBakul Jogja sebagai market hub sekaligus sarana edukasi UMKM lokal. Wisnu menyebut tidak kurang 350 ribu UMKM di DIY telah bergabung di dalam aplikasi SiBakul.
















