Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Buku MUHI untuk Negeri, Rekam 77 Tahun Perjalanan dan  Kiprah Alumni
Soft launching buku digelar dalam rangkaian peringatan milad ke-77 MUHI di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (23/9/2026). (Dok. Istimewa)
  • Buku “MUHI untuk Negeri” merangkum 77 tahun sejarah SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, perjalanan alumni, dan kontribusi mereka; soft launching digelar pada milad ke-77, dengan terbit dijadwalkan September 2026.
  • Disusun empat jurnalis selama lebih dari tiga bulan, buku 418 halaman ini menghimpun wawancara lebih dari 120 narasumber lintas generasi lulusan 1963–2025, termasuk guru, kepala sekolah, dan keluarga tokoh.
  • MUHI disebut sebagai satu-satunya SMA swasta di antara lima sekolah yang mendokumentasikan sejarah serta kiprah alumni, dengan buku diharapkan menjaga ingatan kolektif dan menginspirasi generasi berikutnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times – Perjalanan 77 tahun SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (MUHI) kini dirangkum dalam sebuah buku. Berjudul MUHI untuk Negeri: Sejarah, Alumni, Sumbangsih, buku ini merekam sejarah sekolah, perjalanan para alumni, hingga kontribusi mereka di berbagai bidang.

Buku yang diterbitkan LaksBang Akademika tersebut merupakan hasil kolaborasi Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (IKAMUHI) dan MUHI. Soft launching buku digelar dalam rangkaian peringatan milad ke-77 MUHI di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (23/9/2026).

Buku setebal 418 halaman dengan ukuran 21 x 29 sentimeter ini dijadwalkan terbit pada September 2026. Kehadirannya menjadi upaya untuk membawa sejarah MUHI dari ingatan personal para alumni menjadi dokumentasi yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

1. Digarap Empat Jurnalis, Wawancarai Lebih dari 120 Narasumber

Soft launching buku digelar dalam rangkaian peringatan milad ke-77 MUHI di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (23/9/2026). (Dok. Istimewa)

Ketua Tim Penulis, Fernan Rahadi, mengatakan buku tersebut disusun selama lebih dari tiga bulan. Tim penulis yang terdiri dari empat jurnalis berupaya mengumpulkan cerita dari berbagai generasi keluarga besar MUHI.

Keempat penulis tersebut yakni Fernan Rahadi, jurnalis Republika sekaligus alumni MUHI 2003; Arif Koes Hernawan, mantan jurnalis Gatra yang kini menjadi penulis lepas; Latief Noor Rochmans, jurnalis Kedaulatan Rakyat; serta Rahajeng Kartika Anindita Pramesi, jurnalis Beritajatim.

Selama proses penyusunan, lebih dari 120 narasumber diwawancarai. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai alumni, kepala sekolah dan guru, mantan kepala sekolah dan guru, pembina kegiatan ekstrakurikuler, pegiat sekolah, hingga keluarga sejumlah tokoh yang pernah menjadi bagian dari perjalanan MUHI.

Rentang generasi yang diwawancarai juga mencapai lebih dari enam dekade. Cerita dikumpulkan dari alumni mulai lulusan 1963 hingga 2025. "Namun tidak semuanya berjalan mulus, ada nomor telepon yang tak dapat dihubungi, narasumber yang tak bisa ditemui, hingga alumni yang enggan diwawancarai dan dipublikasikan. Dalam pengumpulan foto-foto pun tak kalah tantangannya, perburuan foto berlangsung hingga akhir tenggat naik cetak," ujar Fernan.

Salah satu alumni tertua yang diwawancarai adalah Siti Hadiroh, lulusan 1963. Namun, dalam proses penyusunan buku, Siti Hadiroh meninggal dunia. Para alumni yang diangkat dalam buku dipilih dengan mempertimbangkan kontribusi mereka di berbagai bidang, baik di tingkat lokal maupun nasional. Keterwakilan bidang, prestasi, rekomendasi, serta data dari pihak MUHI untuk alumni generasi muda juga menjadi pertimbangan tim penyusun.

2. MUHI Jadi SMA Swasta Pertama yang Dokumentasikan Sejarah dan Kiprah Alumni

Buku MUHI untuk Negeri: Sejarah, Alumni, Sumbangsih. (Dok. Istimewa)

Buku MUHI untuk Negeri tidak hanya menceritakan sejarah sekolah. Buku ini juga mendokumentasikan perjalanan para lulusan MUHI dan kontribusi mereka bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam penyusunannya, tim menemukan bahwa di Indonesia baru terdapat lima SMA yang menerbitkan buku dengan cakupan sejarah sekolah sekaligus kiprah para alumninya. MUHI disebut menjadi satu-satunya sekolah swasta dalam daftar tersebut.

Sejumlah alumni yang diangkat sebagai tokoh dalam buku tersebut antara lain Ebiet G. Ade, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Ony Anwar Harsono, Prof. Amir Hamidy, Eros Candra, Fajar Nugros, serta sejumlah alumni lainnya. Mereka disebut sebagai Tokoh MUHI karena dinilai memiliki kiprah menonjol di bidang masing-masing dan memberikan kontribusi di berbagai sektor kehidupan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menilai pendokumentasian sejarah lembaga pendidikan memiliki arti penting dalam menjaga ingatan kolektif. "Sejarah sebuah lembaga pendidikan akan kehilangan maknanya jika tidak dirawat dan diwariskan," kata Haedar.

Menurutnya, buku tersebut menjadi bagian dari upaya IKAMUHI dan MUHI untuk merekam, merawat, sekaligus mewariskan perjalanan panjang sekolah kepada generasi sekarang dan mendatang.

Ketua Umum IKAMUHI Ida Pujiastuti, alumni MUHI 1984, mengatakan buku tersebut lahir dari semangat membangun sinergi antara alumni dan almamater. Menurut Ida, MUHI tidak hanya menjadi institusi pendidikan formal. Sekolah juga menjadi ruang pembentukan karakter, nilai keimanan, semangat kebangsaan, dan pengabdian.

3. Jadi Pengingat untuk Melahirkan Generasi Masa Depan

Soft launching buku digelar dalam rangkaian peringatan milad ke-77 MUHI di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (23/9/2026). (Dok. Istimewa)

Kepala Sekolah MUHI Herynugroho mengatakan buku tersebut merekam sebagian perjalanan panjang sekolah, termasuk pengalaman, perjuangan, dan cerita yang memiliki makna bagi keluarga besar MUHI. Ia berharap buku tersebut dapat menjadi kenangan sekaligus sumber inspirasi bagi generasi MUHI untuk terus berprestasi dan berkembang.

Sementara itu, Ketua KPK RI periode 2010-2011 sekaligus alumni MUHI 1971, Busyro Muqoddas, melihat sejarah panjang MUHI sebagai modal untuk menghadapi tantangan pendidikan saat ini, termasuk perubahan sosial yang dihadapi generasi Z.

Ia berharap buku tersebut turut memperkuat peran alumni dalam mewujudkan MUHI Reborn. Konsep tersebut diarahkan untuk mengembalikan MUHI pada hakikatnya sebagai institusi yang melahirkan calon pemimpin bangsa dan pembelajar yang terus menuntut ilmu dengan tetap menjunjung kemuliaan akhlak.

Proses penyusunan buku juga melibatkan sejumlah unsur IKAMUHI sebagai tim kurator. Mereka yakni Ketua Umum IKAMUHI Ida Pujiastuti, Wakil Ketua Umum Tri Ismu Husnan P., Adwi PY Amri, Afnan Hadikusumo, Sobirin, serta Tri Kusumo Bawono.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article