Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
700 Tangki Air Disalurkan Bantu Kekeringan di Gunungkidul
Ilustrasi dropping air bersih. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
  • Pemda DIY siapkan dana Belanja Tak Terduga (BTT) Rp12 miliar
  • Ratusan tangki air bersih didistribusikan ke warga Gunungkidul akibat kekeringan.
  • Pemda DIY menganggarkan dana BTT, Teknologi Modifikasi Cuaca, dan Dana Siap Pakai untuk penanganan dampak kekeringan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Jutaan liter air bersih setara 700 tangki telah terdistribusikan ke warga Kabupaten Gunungkidul, yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau. "Ya kan ini (kemarau) panjang, jadi sampai hari ini sudah dropping air kurang lebih 700 tangki sudah terdistribusi," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Noviar Rahmad saat dihubungi, Senin (19/8/2024).

Selain krisis air bersih, kemarau di Gunungkidul pada periode ini juga memicu kebakaran lahan di sejumlah titik.

 

 

1. Masih bisa ditangani kabupaten

Ilustrasi warga membeli air bersih karena kekeringan. (IDN Times/Asrhawi Muin)

Noviar menuturkan, ratusan tangki air bersih dikirimkan melalui persediaan yang dimiliki BPBD Kabupaten Gubungkidul serta stok dari kecamatan atau kapanewon.

Menurut Noviar, BPBD setempat mengandalkan persediaan 700 tangki air bersih milik BPBD, dan dua ribuan tangki kepunyaan kecamatan. Distribusi ini tidak menggunakan dana Belanja Tak Terduga (BTT) milik kabupaten.

"Itu anggaran rutin mereka. Nah itu sudah tercukupi belum dengan itu, kita kan melihat dulu, nanti ketika kabupaten sudah habis baru provinsi (turun)," jelas Noviar.

 

2. Siapkan dana Belanja Tak Terduga (BTT) Rp12 miliar

Ilustrasi bencana kekeringan. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Menurutnya, Pemda DIY menganggarkan dana BTT senilai Rp12 miliar apabila kabupaten/kota mulai memerlukan uluran tangan. Provinsi selain itu masih memiliki dana Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), serta Dana Siap Pakai (DSP) yang besarannya ditentukan oleh pusat.

"Dana di BTT ada Rp12 miliar, tapi kan belum kami pergunakan karena masih punya dari pusat dulu," terangnya.

"Dari pusat itu ada dua yang kami minta, pertama dana yang dalam bentuk kegiatan itu adalah TMC kemudian juga ada DSP. Itu juga masih menunggu dari sana (pusat), berapa anggarannya kami belum tahu. DSP ini kita pergunakan untuk dropping dalam bentuk tangki bantuan air bersih ke masyarakat, terutama daerah yang Gunungkidul," sambungnya.

3. Usulan bantuan sumur bor

Ilustrasi kekeringan. (unsplash.com/Md. Hasanuzzaman Himel)

Selain DSP dan TMC, Noviar juga menyebut BNPB mengusulkan bantuan berupa sumur bor sebagai alternatif penanganan dampak kekeringan pada sektor pertanian.

"Itu kan baru tawaran dari sana, dari BNPB, teknisnya juga belum tahu. Apakah memungkinkan untuk sumur bor, itu kalau pertanian. Tapi kalau dampaknya dari kekeringan itu tidak hanya kepada kebutuhan air bersih keperluan rumah tangga, tapi juga ada dampak terhadap panen pertanian pangan," pungkasnya.

Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan untuk wilayahnya yang berlaku sejak 1 Agustus hingga 31 Agustus 2024.

Status siaga darurat bencana kekeringan ditetapkan Sultan HB X menimbang tiga kabupaten di DIY telah berstaus siaga darurat hidrometeorologi, yaitu Kabupaten Gunungkidul, Kulon Progo, dan Sleman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article