Cerita Kayla Rajin Organisasi Plus Jadi Mahasiswa UGM Lulusan Tercepat

- Mahasiswa UGM lulus tercepat dalam 3 tahun 8 bulan 5 hari
- Kayla aktif bergorganisasi dan mengejar prestasi non-akademik
- Dukungan keluarga, teman, dan tujuan hidup yang jelas menjadi kunci kesuksesannya
Sleman, IDN Times - Mahasiswa aktif organisasi sekaligus jadi lulusan tercepat? Ya, ini dialami oleh Demetria Dahayu Kayla Didrika, mahasiswa UGM Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Fakultas Teknik. Ia berhasil menjadi lulusan S1 tercepat di UGM dalam waktu 3 tahun 8 bulan 5 hari. Padahal, umumnya masa studi program sarjana adalah 4 tahun 2 bulan.
1. Target lulus tepat waktu sekaligus aktif bergorganisasi

Selayaknya mahasiswa pada umumnya, perempuan yang disapa Kayla ini sejak hari pertama masuk kuliah, hanya memiliki target buat lulus tepat waktu. Ia mengaku terkejut menjadi lulusan tercepat UGM di wisuda kali ini.
“Jadi, untuk bisa berhasil mencapai target yang sudah saya rencanakan, saya harus bekerja semaksimal mungkin selama di perkuliahan,” kata Kayla, Kamis (28/8/2025).
Menariknya, meski lulus dengan waktu lebih cepat, Kayla tidak hanya mengejar prestasi akademik tapi juga aktif mengikuti berbagai kegiatan non-akademik, termasuk terlibat kegiatan organisasi maupun kepanitiaan. Jabatan sebagai ketua himpunan, tergabung dalam kepanitiaan di tingkat fakultas dan prodi, menjadi Co-Fasilitator PPSMB Palapa 2022, sampai mengikuti lomba dilakukan disela perkuliahan.
2. Orangtua dan teman jadi tempat keluh kesah

Keluarga menurutnya adalah alasan terbesar buat bisa bertahan hingga ke titik ini. Buatnya, doa dan semangat orangtua adalah sumber kekuatan utama.
Sementara teman-temannya menjadi tempat terbaik baginya buat berkeluh kesah, agar tetap termotivasi untuk belajar. “Mereka selalu menyemangati saya untuk bangkit lagi. Jadi saya berterima kasih dan bersyukur adanya teman-teman yang sudah menjadi keluarga saya selama di Jogja,” ujarnya Kayla.
3. Pentingnya miliki tujuan hidup yang jelas bagi mahasiswa

Berasal dari Semarang dan memilih hijrah ke UGM bukan tanpa alasan. Kayla mengatakan ia memilih UGM karena kekagumannya dengan konsep kampus yang memihak pada kaum marginal.
“Karena salah satu tujuan utama PWK adalah untuk menyetarakan akses ke seluruh lapisan masyarakat dalam mendapatkan kualitas hidup yang baik melalui perencanaan spasial, jadi menurut saya konsep ini dan visi UGM adalah kombinasi yang cocok dengan motivasi diri saya,” ujarnya.
Di setiap semester, ia mengikuti mata kuliah studio yang membuatnya bekerja kelompok sekaligus praktik lapangan. Ini membuatnya belajar berkomunikasi, dan bekerja dengan tim, hingga berani menyuarakan pendapat.
“Saya yang dulunya tidak adventurous jadi terbiasa turun lapangan, mulai survei ke hutan, menjelajah kampung, tersesat di jalan, hingga harus membawa motor di jalur Pantura yang penuh dengan truk besar. Itu pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, tetapi justru membentuk siapa saya hari ini,” ungkapnya.