Sultan: Toko Kelontong Jadi Fondasi Ekonomi Rakyat DIY

- Toko kelontong dan usaha retail tradisional adalah fondasi ekonomi rakyat DIY
- Warung kecil mampu bersaing dengan retail modern dan berkontribusi dalam stabilisasi harga
- Peningkatan kapasitas UMKM toko kelontong melalui SRC memberikan dampak positif, termasuk peningkatan omzet dan diversifikasi usaha
Yogyakarta, IDN Times – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X mendorong pertumbuhan toko kelontong hingga retail tradisional untuk menjaga denyut ekonomi rakyat. Menurutnya, penguatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi strategi utama, bukan sekadar pilihan sampingan.
“Bagi Daerah Istimewa Yogyakarta, UMKM bukan sekedar sektor ekonomi, melainkan fondasi kehidupan masyarakat,” ujar Sri Sultan HB X, saat membuka Pesta Retail 2026 yang digelar Sampoerna Retail Community (SRC), di Lapangan Siwa Mandala Prambanan, Rabu (11/1/2026) malam.
1. Denyut ekonomi rakyat yang tumbuh

Sri Sultan melanjutkan bahwa toko kelontong, warung, dan usaha retail tradisional adalah simpul distribusi kebutuhan sehari-hari, penjaga stabilitas konsumsi rumah tangga, sekaligus pencipta lapangan kerja di tingkat kampung. Dari ruang-ruang kecil inilah denyut ekonomi rakyat tumbuh dan bertahan.
“Ketika ekonomi global menghadapi ketidakpastian, justru usaha rakyatlah yang terbukti paling tangguh. Karena itu, penguatan UMKM adalah strategi utama, bukan pilihan sampingan. Namun kita juga menyadari, lanskap usaha telah berubah. Persaingan semakin ketat, perilaku konsumen semakin dinamis, dan teknologi berkembang sangat cepat. Dalam situasi seperti ini, usaha tradisional tidak cukup hanya bertahan. Ia harus bertransformasi,” ujar Sri Sultan HB X.
Sri Sultan HB X mengatakan digitalisasi proses bisnis, pencatatan keuangan yang tertib, pengelolaan stok berbasis data, sistem pembayaran non-tunai, hingga integrasi dengan rantai pasok modern, merupakan prasyarat agar peritel kecil mampu bersaing setara. Hal tersebut merupakan langkah konkret agar UMKM naik kelas, lebih efisien, dan berkelanjutan.
“Dalam konteks itulah kehadiran Sampoerna Retail Community menjadi relevan dan strategis. Program pendampingan, pelatihan manajemen usaha, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan jejaring antar peritel telah membantu ribuan toko kelontong beradaptasi dengan perubahan zaman. SRC bukan sekadar komunitas, tetapi ekosistem pembelajaran dan pemberdayaan,” ucap Sri Sultan HB X.
2. Warung kecil yang mampu bersaing

Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, Septo Soepriyatno mengatakan terkait dengan aspek pertumbuhan ritel. Warung atau toko kelontong merupakan bagian yang sangat besar, jumlahnya mencapai 98 persen lebih dari ekosistem ritel yang ada di Indonesia. Menurutnya secara daya saing toko kelontong ini mampu bersaing dengan retail modern.
Septo juga menyebutkan bahwa dengan kehadiran SRC menjadi bentuk dari pengembangan warung tradisional atau toko kelontong. “Pedagang kelontong merupakan jajaran garda terdepan kita. Mereka berkontribusi didalam stabilisasi harga dan distribusi barang kebutuhan pokok,” ungkap Septo.
Pada kesempatan itu, Septo juga memaparkan tiga program Kementerian Perdagangan. Pertama, bagaimana Kemendag melakukan pengamanan pasar dalam negeri. Kedua, perluasan pasar ekspor, dan ketiga lokal untuk global. Diharapkan melalui program-program tersebut juga bisa mengangkat UMKM yang ada di dalam negeri.
3. Bertahan dan berkembang di era ekonomi digital

Direktur PT HM Sampoerna Tbk., Elvira Lianita mengatakan saat ini lebih dari 250.000 toko kelontong tergabung dalam SRC, didukung oleh 6.300 Mitra SRC, dan terhubung melalui 10.000 Paguyuban SRC di seluruh Indonesia. Transformasi tersebut digerakkan oleh pendampingan yang adaptif dan konsisten.
“Melalui penguatan keterampilan bisnis, manajemen usaha, literasi digital yang terintegrasi dalam ekosistem AYO by SRC, sehingga ritel tradisional dapat bertahan dan berkembang di era ekonomi digital saat ini,” ujar Elvira.
Elvira mengungkapkan peningkatan kapasitas UMKM toko kelontong melalui SRC terbukti memberikan dampak yang sangat positif. Setelah bergabung dengan SRC, rata-rata omzet toko meningkat 42 persen, dengan hampir 90 persen di antaranya telah terdigitalisasi. Selain itu, 77 persen toko SRC memperluas lini usaha, mulai dari produk digital hingga layanan pembayaran, sehingga tercipta sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat loyalitas para pelanggan.
“Di balik pencapaian tersebut, di antara pemilik toko SRC perempuan, lebih dari 54 persen di antaranya merupakan tulang punggung keluarga,” ungkap Elvira.


















