Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Minat Belajar Bahasa Indonesia di Australia Menurun, Ini Pemicunya

Minat Belajar Bahasa Indonesia di Australia Menurun, Ini Pemicunya
ilustrasi kuliah di Australia (pixabay.com/narleymedia)
Intinya Sih
  • Minat belajar Bahasa Indonesia di Australia menurun drastis, kini hanya tersisa 13 universitas yang masih membuka programnya, turun dari sekitar 35 kampus dua dekade lalu.

  • Penurunan ini dipicu faktor eksternal seperti bom Bali dan pandemi COVID-19, serta faktor internal Australia seperti politik, sistem migrasi, dan keterbatasan tenaga pengajar Bahasa Indonesia.

  • Promosi budaya, pariwisata, beasiswa Darmasiswa, dan peran diaspora penting untuk menghidupkan kembali minat global terhadap Bahasa Indonesia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Yogyakarta, IDN Times - Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) Wira Kurniawati, menyoroti penurunan minat mempelajari Bahasa Indonesia di luar negeri. Berdasarkan data Konsorsium Australia untuk Studi Indonesia di Dalam Negeri (ACICIS), jumlah perguruan tinggi di Australia yang masih menyelenggarakan program Bahasa Indonesia pada 2023 tinggal 13 institusi, jauh berkurang sekitar 22 kampus dalam dua dekade terakhir.

Menurut Wira hal ini dipicu sejumlah faktor, baik yang berasal dari dinamika internal maupun eksternal di Australia. Baginya, peristiwa geopolotik di kedua negara, seperti peristiwa bom Bali serta pandemi COVID-19 menjadi salah satu pemicu. “Banyak juga sekolah-sekolah yang mulai menutup kelas bahasa Indonesia karena diawali dari permasalahan bom Bali dan COVID-19. Di Australia juga terdapat beberapa permasalahan internalnya seperti kondisi politiknya, sistem migrasi, dan sumber daya manusia yang menguasai Bahasa Indonesia terbatas,” ujarnya dikutip laman resmi UGM, Selasa (2/3/2026).

Wira menambahkan, peningkatan kemahiran masyarakat Indonesia dalam berbahasa Inggris turut memengaruhi urgensi warga Australia dalam belajar bahasa Indonesia. “Belum lagi, masyarakat Indonesia sudah mahir dalam berbahasa Inggris, sehingga urgensi mereka untuk belajar bahasa Indonesia tidaklah banyak,” tambahnya.

1. Pengakuan Bahasa Indonesia di PBB tingkatkan legitimasi

ilustrasi kamus bahasa Indonesia (pixabay.com/Orna Wachman)
ilustrasi kamus bahasa Indonesia (pixabay.com/Orna Wachman)

Saat ini masih terdapat beberapa alasan bagi mahasiswa asing tertarik untuk mempelajari Bahasa Indonesia, antara lain ekonomi, pendidikan, adat istiadat, dan pariwisata. Menurutnya, penguasaan Bahasa Indonesia membuka peluang kerja sama bisnis dan investasi sekaligus memperluas akses berjejaring secara profesional. Pengakuan Bahasa Indonesia di sidang PBB pada tahun 2023 juga turut meningkatkan legitimasi dan daya tarik global, khususnya bagi mereka di bidang pendidikan dan penelitian.

Selain itu, sektor pariwisata juga mengambil peran yang besar mengingat Indonesia dikenal sebagai destinasi wisata unggulan yang membuat banyak wisatawan terdorong mempelajari bahasanya demi memperkaya pengalaman selama berkunjung. “Mereka tertarik untuk pergi ke Bali, sehingga mereka pun berbondong-bondong untuk mempelajari Bahasa Indonesia,” kata Wira.

2. Pengiriman tenaga pengajar dan pemberian fellowship

Wira menyatakan untuk meningkatkan minta belajar Bahasa Indonesia, pemerintah dan diaspora dapat mengirimkan tenaga pengajar ke luar negeri sebagai bentuk penguatan sumber daya manusia dalam pengajaran Bahasa Indonesia, pemberian beasiswa Darmasiswa maupun fellowship bagi warga negara asing, dan peran perwakilan Indonesia di luar negeri seperti Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dalam membina hubungan dengan komunitas diaspora.

Namun, ia mengakui sepertinya terdapat keterbatasan internal Australia dalam mendukung upaya ini. “Dulu beasiswa Darmasiswa itu masih cukup banyak. Tapi entah mengapa sekarang jumlahnya sedikit dan ini turut memengaruhi minat belajar Bahasa Indonesia,” tambahnya.

3. Promosi budaya dan pariwisata

Ilustrasi tari Bali. (IDN Times/Yuko Utami)
Ilustrasi tari Bali. (IDN Times/Yuko Utami)

Sektor budaya dan pariwisata menurutnya juga berpotensi meningkatkan daya tarik bagi warga asing untuk mengenal bahasa sebagai pintu masuk memahami budaya secara lebih mendalam. Oleh karena itu, optimalisasi promosi budaya dan pariwisata dapat menjadi strategi berkelanjutan. “Budaya dan pariwisata kita bermacam-macam sekali, jadi dari sana saya rasa bisa kita sama-sama membangun untuk meningkatkan potensinya,” pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Jogja

See More