Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Eks Kepala BMKG: Lempung Biru Picu Tanah Gerak di Tegal

Warga membersihkan puing-puing rumah yang rusak akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Warga membersihkan puing-puing rumah yang rusak akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Intinya sih...
  • Eks Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut tanah bergerak di Tegal dipicu lempung biru yang mengembang saat jenuh air akibat curah hujan tinggi.
  • Beban bangunan dan jalan memperparah kondisi lempung hingga memicu rayapan tanah, yakni pergerakan lambat namun merusak infrastruktur.
  • Rayapan tanah bukan bencana mendadak, melainkan proses bertahap yang bisa berlangsung setahun atau lebih sebelum dampaknya parah.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Eks Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, mengungkap pemicu fenomena tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, yang membuat ratusan rumah rusak dan ribuan jiwa harus mengungsi.

Dwikorita bilang, fenomena ini tak lepas dari karakter geologi kawasan tersebut yang terdiri dari lempung biru (blue clay). Material ini mengandung mineral montmorillonite yang pejal saat kering, namun begitu sensitif untuk mengembang ketika kena air.

"Itu jenis lempung yang apabila kena air bisa mengembang, volumenya berkembang bisa sampai delapan kali lipat dari volume awal. Bahasa Jawanya itu jadi mlenyok (melunak) ya. Jadi seperti pasta gigi," kata Dwikorita saat dihubungi, Selasa (10/2/2026).

1. Curah hujan tinggi, tanah lempung biru kian mengembang

Sejumlah warga membawa barang-barang miliknya saat akan mengungsi ketika terjadi bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Sejumlah warga membawa barang-barang miliknya saat akan mengungsi ketika terjadi bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Dwikorita bilang, lempung ini secara tekstur melunak bak pasta gigi apabila mencapai titik jenuh air. Dia menengarai tingginya curah hujan belakangan turut memengaruhi kondisi ini.

"Pertama kondisi hujannya, dan kedua mungkin dulu-dulu itu tidak ada bangunan-bangunan, tidak ada jalan. Jadi satu memang belum bergerak, kedua mungkin belum ada yang rusak. Ini secara fisika, beban itu kan juga membuat kemampuannya untuk bertahan stabil. Beban bangunan, beban di atas tanah itu juga memperparah kondisi itu untuk bergerak," paparnya.

Melunaknya lempung inilah yang memicu tanah gerak atau Dwikorita menyebut ini lebih tepatnya sebagai fenomena rayapan tanah.

"Lempung itu sering terkubur di atas tanah yang bergerak tadi. Jadi sebenarnya yang bergerak itu lapisan lempung di bawahnya, nah tanahnya itu tumpukan yang ada di atasnya sehingga tanah itu seperti naik lempung tadi, dia ikut bergerak merayap," jelas eks rektor UGM itu.

2. Rayapan tanah, pelan tapi merusak

Warga berada samping bangunan Pondok Pesantren Al-Adalah yang hancur akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Warga berada samping bangunan Pondok Pesantren Al-Adalah yang hancur akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Dwikorita menekankan, rayapan tanah ini beda dengan tanah longsor. Gerak tanah pada fenomena ini sangat lambat, seringkali terjadi pada lereng landai atau bahkan agak mendatar sekalipun.

Apabila kecepatan tanah pada kejadian longsor cenderung tinggi dan memiliki tingkat risiko fatalitas karena terjadi pada lereng curam atau bidang miring maupun lengkung, lain halnya dengan rayapan tanah.

Rayapan tanah bergerak secara perlahan, tidak langsung destruktif macam longsor, akan tetapi tetap saja merusak infrastruktur mulai dari rumah, jalan, juga jembatan.

"Yang bahaya itu kalau merusak rumah, rumahnya bisa terpotong turun sebagian dan rumahnya bisa ambruk. Nah, ambruknya rumah itu yang bisa membunuh. Jadi bukan karena rayapan. Jadi yang di Tegal itu tipenya rayapan karena pergerakannya lambat," papar pakar geologi itu.

3. Bukan bencana tiba-tiba

Warga membawa barang-barang miliknya saat akan mengungsi ketika bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Warga membawa barang-barang miliknya saat akan mengungsi ketika bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Dugaan lain dari Dwikorita, bahwa rayapan tanah ini tidak terjadi secara mendadak atau tiba-tiba. Dia mensinyalir, para warga setempat tidak menyadari ketika fenomena ini mulai terjadi.

"Itu biasanya mestinya tidak mendadak seperti itu. Itu gerakannya tuh ada awalnya, awalnya tuh nggak ketara, cuma rayapan retakan kecil. Tapi kalau bertahun-tahun menjadi parah seperti itu," katanya.

Perkiraan dia, fenomena rayapan tanah ini butuh waktu kisaran satu tahun untuk mencapai kondisi seperti di Desa Padasari sekarang ini.

"Jadi dugaan saya itu sebelumnya sudah pernah, mungkin pada nggak tahu ya, atau terabaikan ya. Kok sampai parah, jadi itu nggak ujug-ujug begitu tuh nggak. Biasanya tuh perlu waktu beberapa tahun bisa seperti itu. Minimal setahun lebih lah, seperti itu," pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More

Eks Kepala BMKG: Lempung Biru Picu Tanah Gerak di Tegal

11 Feb 2026, 08:45 WIBNews