Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BPPTKG Bantah Status Gunung Merapi Turun ke Normal
Gunung Merapi (unsplash.com/Fadhila Nurhakim)
  • BPPTKG menegaskan status Gunung Merapi tetap Level III atau Siaga, membantah tampilan “Normal” di situs Magma yang diduga terjadi akibat kesalahan manusia.
  • Informasi status Merapi pada situs Magma sedang diperbaiki. BPPTKG menyatakan aktivitas gunung masih berpotensi bahaya karena erupsi dan guguran material terus teramati.
  • Pada 2–8 Oktober 2026, Merapi mencatat 40 guguran lava, 122 awan panas guguran, serta aktivitas gempa yang relatif sama dengan pekan sebelumnya; masyarakat diminta mematuhi rekomendasi resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memastikan belum ada perubahan atau penurunan status Gunung Merapi yang berada di perbatasan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah.

BPPTKG menyatakan adanya kesalahan pada informasi yang terteta di situs Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia (Magma).

Magma adalah sistem informasi dan aplikasi resmi berbasis web dan seluler kemhangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM. Magma berfungsi untuk menyajikan informasi dan rekomendasi terkait aktivitas gunung api, gempa bumi, tsunami, dan gerakan tanah secara real-time dan interaktif.

Bantah status turun ke normal

Dalam sejumlah unggahan beredar di media sosial, situs Magma memajang status Merapi 'Normal'. BPPTKG pun menegaskan bahwa status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga hingga Senin (12/10/2026).

"Tidak benar, untuk status Merapi saat ini masih Siaga atau Level III," kata Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, Senin.

Ada human error

Agus pun menduga disinformasi itu muncul akibat kesalahan manusia (human error). "Maaf ada human error sepertinya," kata Agus.

Namun demikian, menurut Agus, data informasi pada situs Magma kini sudah dalam proses perbaikan. "Ini sedang diperbaiki," tegas Agus.

Aktivitas terbaru Gunung Merapi

Agus menekankan, aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan potensi bahaya, melihat adanya fenomena erupsi dan guguran material hingga periode terakhir pengamatan.

Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode 2 hingga 8 Oktober 2026, petugas mengamati 40 kali guguran lava dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.500 meter. Dari sisi kegempaan, tercatat 52 gempa vulkanik dangkal, 533 gempa fase banyak, tiga gempa tremor, dan 483 gempa guguran.

Intensitas kegempaan ini relatif sama dibandingkan pekan sebelumnya. Adapun untuk jumlah kejadian awan panas guguran sepanjang periode itu tercatat sebanyak 122 kali.

BPPTKG mencatat volume kubah lava barat daya tercatat mencapai 4.182.700 meter kubik dan kubah tengah kawah mencapai 2.369.600 meter kubik.

Status Siaga dipahami supaya masyarakat harus tetap mematuhi rekomendasi resmi BPPTKG. Utamanya, menyangkut potensi bahaya guguran lava dan awan panas guguran di alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article