Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

RS Bethesda Bidik Medical Tourism 2027, Periksa Kesehatan Sambil Wisata

Kota Yogyakarta
4 min read
RS Bethesda Bidik Medical Tourism 2027, Periksa Kesehatan Sambil Wisata
Rumah Sakit (RS) Bethesda Yogyakarta, Senin (26/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • RS Bethesda Yogyakarta menargetkan pengembangan wisata medis pada 2027, menawarkan pemeriksaan dan perawatan terjadwal serta program wellness bagi pasien yang ingin berwisata di Yogyakarta.
  • Pengembangan wisata medis tidak menangani kasus darurat dan menggabungkan layanan modern dengan kearifan lokal, termasuk jamu, guna memperluas layanan serta mendorong ekonomi masyarakat sekitar.
  • Melalui program Sapa Bethesda Jogja, rumah sakit memperkuat pengalaman pasien; pada Oktober 2026, Bethesda meraih 10.000 ulasan Google dengan rating 4,8.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times – Rumah Sakit (RS) Bethesda Yogyakarta mengembangkan layanan medical tourism atau wisata medis sebagai upaya memperluas jangkauan pelayanan kesehatan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. Layanan ini akan menjadi salah satu fokus pengembangan rumah sakit pada 2027, dengan mengandalkan layanan kesehatan yang dapat dijadwalkan serta program kebugaran (wellness).

Direktur Utama RS Bethesda Yogyakarta, Edy Wibowo, mengatakan Yogyakarta memiliki potensi untuk menjadi destinasi wisata medis karena didukung fasilitas akomodasi, pariwisata, dan layanan kesehatan yang memadai. Pasien dapat menjalani pemeriksaan atau perawatan terencana sekaligus menikmati destinasi wisata di Kota Gudeg.

“Kita akan bergerak ke sana. Kita juga berterima kasih kepada Pemkot yang menyambut keberadaan medical tourism ini. Dengan banyaknya hotel dan fasilitas, Jogja menjadi tempat yang layak untuk periksa kesehatan sambil piknik,” ujar Edy saat konferensi pers, Senin (26/10/2026).

  1. 1. Medical toursim dan upaya meningkatkan perekonomian

    Direktur Utama RS Bethesda Yogyakarta, Edy Wibowo. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Direktur Utama RS Bethesda Yogyakarta, Edy Wibowo. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Edy menjelaskan, pengembangan medical tourism RS Bethesda akan dimulai melalui layanan yang dapat direncanakan sebelumnya, bukan untuk menangani kasus kegawatdaruratan. Pengembangan tersebut diharapkan memberikan pilihan layanan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat dari luar Yogyakarta. “Jadi, layanan ini memang untuk kasus-kasus yang bisa dijadwalkan, bukan kasus emergensi,” jelasnya.

    Menurut Edy, pengembangan wisata medis tidak hanya berorientasi pada peningkatan layanan rumah sakit. Bethesda juga ingin mengintegrasikan potensi kesehatan dengan kearifan lokal yang dimiliki Yogyakarta, salah satunya melalui pelestarian jamu.

    Ia mencontohkan keberadaan penjual jamu di area lobi rumah sakit sebagai salah satu upaya memperkenalkan kembali produk tradisional tersebut. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengobatan modern dengan tradisi kesehatan lokal. “Kita mencoba menggabungkan kedokteran timur dan barat. Kearifan lokal seperti jamu juga kita dorong supaya semakin berkembang,” katanya.

    Edy berharap, pengembangan wisata medis turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi masyarakat dan keberlanjutan layanan kesehatan merupakan dua hal yang saling berkaitan.

  2. 2. Sapa Bethesda tingkatkan pengalaman pasien

    Rumah Sakit (RS) Bethesda Yogyakarta, Senin (26/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Rumah Sakit (RS) Bethesda Yogyakarta, Senin (26/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Selain mengembangkan layanan baru, RS Bethesda berupaya meningkatkan kualitas pelayanan melalui pendekatan yang lebih ramah dan berorientasi pada pengalaman pasien. Salah satu program yang dijalankan adalah Sapa Bethesda Jogja, yang diluncurkan pada 2025.

    Edy mengatakan, pelayanan rumah sakit sebelumnya cenderung berfokus pada aspek klinis, seperti pemeriksaan dan kesembuhan pasien. Namun, rumah sakit kemudian menyadari bahwa pengalaman pasien juga dipengaruhi oleh cara tenaga kesehatan dan karyawan berkomunikasi.

    Menurutnya, sapaan yang ramah dan sikap yang bersahabat dapat memberikan rasa nyaman kepada pasien, bahkan sebelum mereka bertemu dokter atau menjalani pengobatan. “Dulu fokusnya hanya kesehatan, bagaimana pasien yang sakit bisa sembuh. Ternyata, kepuasan juga penting. Kadang, ketika pasien sudah merasa senang dan nyaman, itu memberikan pengalaman yang berbeda,” ungkapnya.

    Edy menegaskan, pendekatan tersebut tetap berjalan seiring dengan mandat pelayanan rumah sakit, termasuk memberikan pertolongan kepada pasien yang membutuhkan penanganan segera. Ia mencontohkan pelayanan di Unit Gawat Darurat (UGD), yang mengutamakan pemberian pertolongan kepada pasien sebelum urusan administrasi diselesaikan.

    “Harapannya, jangan sampai ada orang masuk ke sini untuk berobat, tetapi ditanya uangnya dulu. Selama ini, di UGD pun pasien yang datang langsung ditolong terlebih dahulu,” ujarnya.

  3. 3. Tembus 10 ribu ulasan Google dengan rating 4,8

    Jumpa pers Rumah Sakit (RS) Bethesda Yogyakarta, Senin (26/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Jumpa pers Rumah Sakit (RS) Bethesda Yogyakarta, Senin (26/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Upaya meningkatkan pengalaman pasien juga tercermin dari capaian RS Bethesda Yogyakarta yang berhasil mencapai 10.000 ulasan di Google dengan rating 4,8 pada Oktober 2026. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan sekitar 1.600 ulasan pada 1 Januari 2025.

    “Melalui semangat 10.000 Ulasan, 10.000 Terima Kasih, Bethesda menyampaikan apresiasi kepada pasien dan keluarga yang telah membagikan pengalaman mereka. Ulasan tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi untuk memahami kebutuhan masyarakat sekaligus mengidentifikasi aspek pelayanan yang masih perlu diperbaiki,” ujar Edy.

    Edy mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kontribusi berbagai unsur rumah sakit, mulai dari tenaga medis, keperawatan, tenaga kesehatan lainnya, hingga bagian administrasi dan penunjang. Pengalaman pasien terbentuk sejak pendaftaran, pemeriksaan, perawatan, hingga proses kepulangan.

    "Bethesda mengajak pasien dan keluarga untuk terus menyampaikan pengalaman secara jujur dan sukarela. Kritik, saran, maupun apresiasi diharapkan dapat menjadi masukan bagi rumah sakit untuk mempertahankan kualitas pelayanan sekaligus memperbaiki kekurangan," kata Edy.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More