Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Layanan Kanker 514 Kabupaten-Kota Indonesia Ditargetkan Terwujud Tahun 2029

Kota Yogyakarta
4 min read
Layanan Kanker 514 Kabupaten-Kota Indonesia Ditargetkan Terwujud Tahun 2029
Seminar Internasional Farmasi Onkologi di Grand Hotel De Djokja, Jumat (16/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Kemenkes menargetkan layanan kanker tersedia di seluruh 514 kabupaten/kota pada 2029 melalui pemenuhan rumah sakit tipe C, alat diagnosis, radioterapi, dan SDM secara bertahap.

  • Program pengampuan kanker menghubungkan rumah sakit rujukan dengan RSUD agar pasien dapat ditangani sesuai kapasitas daerah, sementara kasus kompleks dirujuk ke fasilitas lebih lengkap.

  • Kemenkes menekankan kompetensi apoteker untuk pengelolaan kemoterapi aman; seminar onkologi di Yogyakarta diikuti 347 apoteker dan membahas pengobatan presisi serta teknologi digital.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperluas akses pelayanan pengobatan kanker di daerah. Pemerintah menargetkan pemenuhan fasilitas kesehatan, peralatan medis, dan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung layanan pengobatan kanker dilakukan secara bertahap hingga 2029.

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI, Rizka Andalusia, mengatakan saat ini masih terdapat 66 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia yang belum memiliki rumah sakit tipe C. Pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan tersebut sekaligus memperkuat kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kanker.

“Di rumah sakit tipe C di masing-masing kabupaten/kota harus bisa melakukan layanan kanker,” kata Rizka saat menghadiri seminar internasional farmasi onkologi di Yogyakarta, Jumat (16/10/2026) malam.

Menurutnya, pengembangan layanan kanker tidak hanya berkaitan dengan penyediaan rumah sakit, tetapi juga kelengkapan peralatan untuk mendukung diagnosis dan pengobatan pasien. Fasilitas tersebut di antaranya CT scan, MRI, laboratorium patologi anatomi, serta peralatan untuk menyiapkan obat kemoterapi.

Kemenkes menargetkan pemenuhan kebutuhan fasilitas dan SDM kesehatan dilakukan secara bertahap hingga 2029. Pengadaan alat medis berteknologi tinggi membutuhkan waktu karena harus melalui proses pemesanan, instalasi, hingga penyiapan fasilitas pendukung.

“Kalau alat-alat canggih itu kan harus indent, harus instal. Kayak radioterapi harus bangun bunkernya dulu dan sebagainya, tapi itu sudah kita programkan. Sampai 2029 diharapkan sudah akan terpenuhi semua,” ujarnya.

  1. 1. Rumah Sakit Daerah Diperkuat melalui Program Pengampuan

    WhatsApp Image 2026-10-16 at 22.30.48-3.jpeg
    Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI, Rizka Andalusia. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Untuk mempercepat pemerataan layanan, Kemenkes juga menjalankan program pengampuan kanker. Melalui program ini, rumah sakit dengan layanan kanker yang lebih lengkap membina rumah sakit lain agar mampu menangani pasien sesuai kapasitas dan tingkat pelayanannya.

    Rizka mencontohkan rumah sakit rujukan seperti Rumah Sakit Kanker Dharmais dan RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta, serta RSUP Dr. Kariadi di Semarang dan RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta. Rumah sakit yang menjadi pengampu diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan rumah sakit daerah, termasuk rumah sakit umum daerah (RSUD), sehingga penanganan pasien kanker tidak seluruhnya terpusat di kota-kota besar.

    “Jadi jangan semua-semua harus dikirim ke Cipto Mangunkusumo atau harus dikirim ke Dharmais. Di daerah sudah bisa menangani. Kalau sulit banget baru dikirim,” jelasnya.

    Melalui skema tersebut, rumah sakit daerah diharapkan mampu memberikan pelayanan sesuai kompetensinya. Pasien yang membutuhkan penanganan lebih kompleks selanjutnya dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas dan keahlian yang lebih lengkap.

    Di tengah perkembangan pengobatan modern, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan. Rizka mengatakan, teknologi tersebut perlu diadopsi agar tenaga kesehatan tidak tertinggal dalam perkembangan ilmu kedokteran. Namun, penerapannya harus disertai proses kurasi dan validasi untuk memastikan keamanan serta ketepatan penggunaannya.

    Ia menyebut Kemenkes telah memiliki kebijakan terkait dengan teknologi medis berbasis AI serta komite AI untuk melakukan peninjauan terhadap teknologi yang digunakan dalam pelayanan kesehatan. Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus tetap mempertimbangkan validitas informasi dan kebutuhan klinis. Dengan demikian, inovasi digital dapat mendukung pengambilan keputusan medis tanpa mengabaikan keselamatan pasien.

  2. 2. Perkuat Kompetensi Apoteker Onkologi

    WhatsApp Image 2026-10-16 at 22.30.48-4.jpeg
    Jumpa pers seminar internasional Farmasi Onkologi di Grand Hotel De Djokja, Jumat (16/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Selain fasilitas kesehatan, kesiapan tenaga kesehatan menjadi perhatian pemerintah dalam memperluas layanan kanker. Apoteker memiliki peran penting dalam penanganan pasien, terutama dalam pengelolaan obat kemoterapi yang bersifat toksik dan membutuhkan ketelitian tinggi.

    Rizka menjelaskan, apoteker perlu memiliki kompetensi khusus untuk memastikan pengelolaan obat, perhitungan dosis, dan penyiapan obat kemoterapi dilakukan secara tepat dan aman. Karena itu, peningkatan kapasitas apoteker harus berjalan seiring dengan pengembangan layanan kanker dan peningkatan kompetensi tenaga medis lainnya.

    “Tenaga kesehatan bukan cuma dokter, apoteker juga kan. Apotekernya juga harus mengikuti. Makanya event-event kayak gini (seminar internasional) penting sekali untuk meningkatkan kompetensi apotekernya supaya bisa mengikuti nanti dengan dokter-dokternya kalau melakukan pelayanan,” katanya.

    Peningkatan kompetensi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan pasien memperoleh pengobatan yang aman, sekaligus mengurangi risiko kesalahan dalam penggunaan obat kanker.

  3. 3. Seminar Internasional Farmasi Onkologi Diikuti 347 Apoteker

    WhatsApp Image 2026-10-16 at 22.30.48-5.jpeg
    Jumpa pers seminar internasional Farmasi Onkologi di Grand Hotel De Djokja, Jumat (16/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Penguatan kompetensi apoteker menjadi salah satu agenda dalam seminar internasional bertajuk Precision Medicine in Oncology, Enhancing Patient Safety, and Optimizing Therapeutic Outcomes in the Digital Era.

    Kegiatan yang berlangsung pada 15–17 Oktober 2026 di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, tersebut diselenggarakan oleh HISFARSI PD IAI Daerah Istimewa Yogyakarta bersama HISFARSI PD IAI Jawa Tengah dan Asia Pacific Oncology Pharmacy Community (APOPC), bekerja sama dengan Kemenkes RI, Kolegium Farmasi, serta Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kolegium Farmasi.

    Ketua Panitia Seminar Internasional, Hendra Octavian, mengatakan kegiatan ini diikuti 347 apoteker dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik. Peserta berasal dari kalangan akademisi maupun praktisi rumah sakit.

    Seminar tersebut membahas pengobatan presisi atau precision medicine, keselamatan pasien, serta optimalisasi hasil terapi kanker melalui integrasi teknologi digital. Melalui forum ini, para peserta diharapkan memperoleh pembaruan ilmu kefarmasian sekaligus memperluas jejaring dan kolaborasi dengan praktisi farmasi onkologi dari berbagai negara.

    “Penguatan keahlian apoteker di bidang onkologi diharapkan dapat mendukung penerapan standar pelayanan yang lebih aman dan terintegrasi, seiring upaya pemerintah memperluas akses layanan kanker hingga ke daerah,” ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More