Pemilik usaha Arumanis Haji Ardi, Ardi Sahami. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Meski usaha telah berjalan 15 tahun, Ardi mengakui perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Penurunan omzet sejak pandemi COVID-19 masih dirasakan hingga sekarang, di tengah kenaikan harga bahan baku yang terus menekan biaya produksi.
Ia menyebut tepung sebagai salah satu bahan utama yang mengalami kenaikan signifikan. Pada 2011, harga tepung yang digunakannya masih berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per sak. Kini, harganya mendekati Rp250 ribu per sak dengan berat 25 kilogram.
Kenaikan tersebut menjadi tantangan karena penyesuaian harga jual tidak selalu mudah dilakukan. Menurut Ardi, salah satu kendalanya justru datang dari pemilik toko yang khawatir kenaikan harga akan membuat produk sulit terjual.
Di tengah situasi tersebut, Ardi mengaku berupaya mempertahankan karyawan karena menganggap mereka sebagai aset usaha. Ia bahkan menyebut harus menjual aset untuk menjaga keberlangsungan bisnis.
"Sejak COVID itu sampai sekarang, kami jujur karena kami anggap karyawan itu adalah aset, kita pertahankan. Sambil menunggu ekonomi kita ini bagus sampai kapan," ujarnya.
Dalam mengembangkan usaha, Ardi memanfaatkan akses pembiayaan melalui BMT BIF di Rejowinangun. Ia menjadi anggota lembaga tersebut sejak lama dan merasakan kemudahan persyaratan pembiayaan serta manfaat sisa hasil usaha (SHU).
Direktur Umum dan Hukum Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi, Deva Rachman, mengatakan koperasi berpotensi menjadi solusi untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus mendorong pertumbuhan usaha masyarakat. Melalui skema pembiayaan LPDB dengan bunga sekitar 6 persen per tahun, kelompok usaha diharapkan dapat memperoleh akses permodalan untuk mengembangkan bisnisnya.
Menurutnya koperasi bisa menjadi solusi bagi Indonesia yang saat ini membutuhkan terbukanya lapangan pekerjaan. "Bagaimana koperasi menjadi solusi lapangan kerja bagi anak muda Gen Z dan milenial. Kami harap koperasi yang melibatkan anak muda terus berkembang,” ujar Deva.
Selain membuka peluang kerja, Deva berharap koperasi dapat menjadi alternatif akses keuangan bagi masyarakat agar tidak bergantung pada pinjaman online (pinjol). Melalui usaha yang dikelola secara kolektif, anggota koperasi diharapkan mampu membangun bisnis yang menguntungkan sekaligus memperoleh sisa hasil usaha (SHU).
“Kami harap dengan berkoperasi kita membuat bisnis yang menguntungkan dan akhirnya akan mendapatkan sisa hasil usaha, bisa makin banyak yang terbebas dari pinjol,” katanya.