Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Berawal dari Sales, Haji Ardi Bertahan Lestarikan Arumanis Tradisional
Rumah produksi arumanis Haji Ardi, di Kalasan, Selasa (13/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Ardi Sahami mengembangkan Arumanis Haji Ardi sejak 2011 dari pengalaman sebagai sales, bermodal pinjaman, hingga kini mempekerjakan sekitar 30 orang.

  • Usaha ini memperluas pemasaran melalui penjualan langsung, sales, armada distribusi, dan daring, sambil mempertahankan arumanis tradisional original dalam berbagai kemasan.

  • Penurunan omzet pascapandemi dan kenaikan harga tepung menekan bisnis; Ardi mempertahankan karyawan serta memanfaatkan pembiayaan BMT BIF untuk keberlangsungan usaha.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Ardi Sahami tak pernah menyangka perjalanan kariernya sebagai sales, membawanya menjadi pemilik usaha arumanis tradisional yang membuka lapangan pekerjaan bagi puluhan orang. Berbekal pengalaman memasarkan berbagai produk makanan, Ardi mengembangkan usaha arumanis mulai tahun 2011.

Pemilik usaha Arumanis Haji Ardi mengaku awalnya memasarkan beragam produk makanan, mulai dari stik cokelat, emping melinjo, keripik pisang, hingga onde-onde. Setelah melihat respons pasar yang baik terhadap arumanis, ia memutuskan untuk fokus mengembangkan jajanan tradisional tersebut.

"Saya mengawali itu dengan bukan tanpa modal, tapi minus. Karena berhubungan dengan pihak ketiga, kita pinjam dana secukupnya," kata Ardi, Selasa (13/10/2026).

Saat merintis usaha di Kowang, wilayah Sleman, Ardi mempekerjakan tiga karyawan. Mereka bertugas di bagian produksi dan pengemasan, sementara ia turun memasarkan produk ke berbagai wilayah.

1. Berkeliling dari kota ke kota untuk memasarkan arumanis

Rumah produksi arumanis Haji Ardi, di Kalasan, Selasa (13/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Pada tahun pertama merintis usaha, Ardi fokus memasarkan arumanis di Kota Yogyakarta. Setelah usaha mulai berjalan, ia merekrut tenaga pemasaran untuk melanjutkan penjualan di dalam kota.

Ardi kemudian memperluas jangkauan pasar ke luar Yogyakarta dengan menerapkan sistem penjualan langsung atau direct selling. Ia berkeliling dari satu kota ke kota lain untuk memperkenalkan produknya kepada calon pelanggan.

Perjalanan tersebut membuat produk arumanisnya menjangkau sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setelah wilayah pemasaran semakin luas, kembali merekrut tenaga kerja untuk meneruskan distribusi dan penjualan.

Kini, usaha Arumanis Haji Ardi memiliki sekitar 30 karyawan. Untuk pemasaran di Yogyakarta, terdapat delapan tenaga sales yang menggunakan sepeda motor. Sementara distribusi ke luar kota ditopang dua armada, masing-masing melayani wilayah timur hingga Bali dan wilayah barat hingga sekitar Ciamis, Jawa Barat.

Pemasarannya menyasar berbagai segmen, mulai dari toko oleh-oleh, minimarket, hingga warung. Penjualan secara daring juga tetap dijalankan untuk memperluas jangkauan konsumen.

2. Menjaga jajanan tradisional tetap dikenal

Rumah produksi arumanis Haji Ardi, di Kalasan, Selasa (13/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Bagi Ardi, mengembangkan arumanis bukan sekadar menjalankan bisnis makanan, tetapi juga menjaga keberadaan jajanan tradisional yang pernah populer di kalangan anak-anak sekolah.

Ia mengenal cerita tentang arumanis tradisional dari mertuanya yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Pada masa lalu, jajanan ini dijajakan berkeliling sekolah dengan bunyi khas sebelum dibungkus menggunakan kertas.

Seiring perkembangan zaman, jajanan tradisional tersebut menghadapi tantangan. Masyarakat semakin akrab dengan makanan instan dan produk industri, sedangkan proses pembuatan arumanis tradisional membutuhkan ketelatenan dan kesabaran.

Ardi menjelaskan, nama arumanis berkaitan dengan dua unsur utama pembuatannya. Aroma berasal dari tepung yang digoreng, sedangkan rasa manis berasal dari gula yang direbus hingga menjadi karamel.

Ia juga membedakan produknya dari arumanis yang banyak dijumpai di pasar malam. Menurutnya, produk yang dikembangkan merupakan arumanis tradisional atau jajanan lawas.

Saat ini, Arumanis Haji Ardi masih mempertahankan rasa original dengan pilihan kemasan yang beragam. Produk tersedia dalam bungkus ekonomis, kemasan cup berbagai ukuran, hingga toples untuk disajikan kepada tamu. Harga produk per bungkus mulai Rp3 ribu. Sementara kemasan toples berisi 14 buah dibanderol Rp30 ribu.

3. Bertahan di tengah kenaikan bahan baku

Pemilik usaha Arumanis Haji Ardi, Ardi Sahami. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Meski usaha telah berjalan 15 tahun, Ardi mengakui perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Penurunan omzet sejak pandemi COVID-19 masih dirasakan hingga sekarang, di tengah kenaikan harga bahan baku yang terus menekan biaya produksi.

Ia menyebut tepung sebagai salah satu bahan utama yang mengalami kenaikan signifikan. Pada 2011, harga tepung yang digunakannya masih berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per sak. Kini, harganya mendekati Rp250 ribu per sak dengan berat 25 kilogram.

Kenaikan tersebut menjadi tantangan karena penyesuaian harga jual tidak selalu mudah dilakukan. Menurut Ardi, salah satu kendalanya justru datang dari pemilik toko yang khawatir kenaikan harga akan membuat produk sulit terjual.

Di tengah situasi tersebut, Ardi mengaku berupaya mempertahankan karyawan karena menganggap mereka sebagai aset usaha. Ia bahkan menyebut harus menjual aset untuk menjaga keberlangsungan bisnis.

"Sejak COVID itu sampai sekarang, kami jujur karena kami anggap karyawan itu adalah aset, kita pertahankan. Sambil menunggu ekonomi kita ini bagus sampai kapan," ujarnya.

Dalam mengembangkan usaha, Ardi memanfaatkan akses pembiayaan melalui BMT BIF di Rejowinangun. Ia menjadi anggota lembaga tersebut sejak lama dan merasakan kemudahan persyaratan pembiayaan serta manfaat sisa hasil usaha (SHU).

Direktur Umum dan Hukum Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi, Deva Rachman, mengatakan koperasi berpotensi menjadi solusi untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus mendorong pertumbuhan usaha masyarakat. Melalui skema pembiayaan LPDB dengan bunga sekitar 6 persen per tahun, kelompok usaha diharapkan dapat memperoleh akses permodalan untuk mengembangkan bisnisnya.

Menurutnya koperasi bisa menjadi solusi bagi Indonesia yang saat ini membutuhkan terbukanya lapangan pekerjaan. "Bagaimana koperasi menjadi solusi lapangan kerja bagi anak muda Gen Z dan milenial. Kami harap koperasi yang melibatkan anak muda terus berkembang,” ujar Deva.

Selain membuka peluang kerja, Deva berharap koperasi dapat menjadi alternatif akses keuangan bagi masyarakat agar tidak bergantung pada pinjaman online (pinjol). Melalui usaha yang dikelola secara kolektif, anggota koperasi diharapkan mampu membangun bisnis yang menguntungkan sekaligus memperoleh sisa hasil usaha (SHU).

“Kami harap dengan berkoperasi kita membuat bisnis yang menguntungkan dan akhirnya akan mendapatkan sisa hasil usaha, bisa makin banyak yang terbebas dari pinjol,” katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article