TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

5 Fakta Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, Jarang Diketahui

Gak sembarang orang bisa jadi abdi dalem

Abdi Dalem Keraton Yogyakarta (instagram.com/kratonjogja)

Saat berkunjung ke Keraton Yogyakarta, kamu pasti pernah melihat beberapa orang memakai pakaian tradisional yang tersenyum ramah ke setiap pengunjung. Merekalah yang disebut dengan abdi dalem. Abdi Dalem sendiri adalah orang yang bersedia mengabdi kepada raja dan keluarga dan menaati segala tata tertib di dalamnya.

Abdi Dalem bukan sembarang orang lho. Agar makin kenal tugas, fungsi abdi dalem, yuk simak ulasan. 

Baca Juga: Millennial Dominasi Pendaftaran Abdi Dalem Kraton Yogyakarta 

Baca Juga: Batik Larangan Keraton Yogyakarta, Tak Boleh Digunakan Sembarang Orang

1. Tugas abdi dalem sebagai aparatur sipil

Abdi Dalem Keraton Yogyakarta (instagram.com/kratonjogja)

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat telah resmi diproklamasikan sejak tahun 1755, tepatnya pada tanggal 13 Maret. Sebagai sebuah negara, tentu membutuhkan aparatur sipil dan aparatur militer. Aparatur militer disebut dengan prajurit keraton sementara aparatur sipilnya adalah abdi dalem.

Abdi Dalem bertugas sebagai staf operasional di organisasi-organisasi yang dibentuk oleh Sri Sultan sebagai raja. Bisa dibilang, abdi dalem adalah sebagai salah satu roda penggerak di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Baca Juga: Intip Yuk, Apa Saja Makanan Kesukaan Raja Keraton Yogyakarta 

2. Abdi dalem berperan sebagai abdi budaya

Abdi Dalem Keraton Jogja (instagram.com/kratonjogja)

Yogyakarta terkenal dengan masyarakatnya yang hangat dan memiliki unggah-ungguh atau tata krama. Untuk menjaga budaya tersebut, merupakan salah salah satu tugas dari abdi dalem keraton yaitu abdi budaya. Apa sih abdi budaya itu? Nah, abdi budaya adalah sosok yang dijadikan panutan untuk orang banyak, khususnya masyarakat Yogyakarta.

Contohnya bersikap seperti tata krama, ramah, sopan dan santun kepada sesama. Bahasa sehari-hari yang digunakan pun harus sesuai dengan ketentuan, yaitu kromo inggil kepada yang lebih tua atau yang pangkatnya lebih tinggi. Mneggunakan krama lugu kepada teman yang belum akrab, ngoko alus untuk teman yang akrab atau kepada tetangga, dan terakhir ngoko lugu yang digunakan oleh orang yang pangkatnya lebih tinggi kepada bawahannya atau orang yang lebih tua kepada yang lebih muda.

3. Selalu memakai pakaian peranakan dan tanpa alas kaki

Abdi Dalem di Keraton Yogyakarta (instagram.com/kratonjogja)

Selain laki-laki, terdapat abdi dalem peremuan yang menggunakan pakaian peranakan. Kata ini berasal dari ‘diper-anak-kan’, artinya abdi dalem akan dianggap sebagai saudara yang dilahirkan oleh seorang ibu.

Selain tidak mengenakan kaki, abdi dalem perempuan juga tak diperkenankan menggunakan perhiasan. Tujuannya mulia adalah agar tidak ada perbedaan antara satu orang dengan lainnya.

4. Ada dua tipe abdi dalem yang bekerja untuk keraton

Abdi Dalem Keraton Yogyakarta (instagram.com/kratonjogja)

Nah yang tidak banyak diketahui terdapat dua tipe atau jenis abdi dalem yang bertugas di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu abdi dalem Punakawan dan Keprajan. Abdi Dalem Keprajan adalah awalnya seorang TNI, Polisi, atau PNS yang umumnya sudah pensiun, lantas diangkat menjadi abdi dalem dengan suka rela.

Sementara abdi dalem Punakawan berasal dari masyarakat biasa. Abdi dalem Punakawan sendiri ada dua jenis, yaitu tepas yang bekerja sebagai karyawan dengan sistem jam kerja dan abdi dalem caos adalah yang hanya datang ke keraton setiap sepuluh hari sekali untuk menunjukkan tanda hormat.

Berita Terkini Lainnya