TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Tradisi Nyadran, Akulturasi Jawa dan Islam Sambut Ramadan

Bagian penting dari budaya dan tradisi Jawa yang penuh makna

Tradisi Nyadran di Pondok Wonolelo, Sleman, Sabtu (26/3/2022). (IDN Times/Yogie Fadila)

Yogyakarta, IDN Times - Ada banyak tradisi jelang sambut Ramadan, terutama di Yogyakarta yang terkenal sebagai kota budaya. Salah satunya adalah nyadran. Nyadran adalah tradisi menengok dan membersihkan makam keluarga, lalu dilanjutkan dengan berdoa bersama sambil membagikan makanan tradisional kepada sekitar.

Tradisi ini sudah berjalan sejak ratusan tahun lalu dan sampai sekarang masih dilakukan. Tak hanya sebatas demi menjaga budaya, tapi juga menjadi momen mengingat kembali dan menghormati keluarga yang lebih dahulu meninggal dunia.

Berikut ini hal menarik dari tradisi nyadran yang perlu kamu tahu. Bagian penting dari budaya dan tradisi Jawa yang penuh makna.

Baca Juga: 5 Tempat Favorit di Jogja untuk Tradisi Padusan Jelang Ramadan

1. Merupakan akulturasi budaya Jawa dan Islam di bulan Ruwah

Warga memasak daging kambing saat tradisi Nyadran Kramat di Dusun Pete, Kembangsari, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (25/3/2022). (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Dilansir laman menpan.go.id, tradisi nyadran adalah bagian dari serangkaian acara di bulan Ruwah, yaitu sebutan orang Jawa bagi bulan persiapan memasuki Ramadan. Tradisi nyadran ini tak hanya sekadar kegiatan rutin tahunan, tapi sudah menjadi hal penting bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.

Merupakan akulturasi budaya Jawa dan agama Islam, orang yang melakukan tradisi nyadran menjadikan momen ini sebagai ungkapan menghormati leluhur dan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Umumnya, tradisi nyadran dilakukan satu bulan sebelum puasa atau pada waktu 15, 20, dan 23 pada bulan Ruwah.

2. Tradisi yang juga mempererat tali silaturahmi

Tradisi Nyadran Kramat di Dusun Pete, Kembangsari, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (25/3/2022). (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Orang yang melakukan tradisi nyadran biasanya juga akan membawa makanan. Makanan ini berupa nasi yang dibentuk seperti tumpeng, lauk seperti ayam atau telur, dan aneka sayur. Di beberapa daerah seperti di Temanggung, makanan tradisional ini akan diletakkan dalam wadah tampah dari anyaman bambu, kemudian juga akan diletakkan sejumlah uang.

Tampah ini akan ditinggalkan di makam untuk diberikan kepada pengurus makam dan dibagikan kepada fakir miskin. Hal berbeda dilakukan di beberapa daerah di Yogyakarta. Nasi beserta lauk pauk tadi kemudian dimakan bersama seusai ritual nyadran dilakukan.

Hal unik lain akan dirasakan jika kamu melihat tradisi nyadran di Muntilan, Magelang. Saat prosesi pembersihan makam, orang-orang tidak membawa makanan. Namun, satu hari setelah prosesi bersih-bersih makan, akan diadakan kenduri di mana masyarakat akan membawa hasil bumi, makan bersama, dan dilanjutkan berdoa untuk para leluhur.

Ini jadi bukti bahwa tradisi juga bisa mempererat tali silaturahmi antara keluarga, tetangga, dan sesama manusia.

Baca Juga: 5 Wisata Waduk di Jogja Ini Cocok Buat Piknik, Tempatnya Asyik!

Berita Terkini Lainnya