ilustrasi cerpen (pexels.com/cottonbro)
Program Tutur Tumurun 2026 juga menjadi ruang bagi penulis muda DIY untuk mengeksplorasi cerita mengenai alam, mitologi, sejarah, hingga kehidupan masyarakat melalui karya sastra.
Rangkaian program telah dimulai sejak Juli 2026 melalui lokakarya bersama Paksi Raras Alit, Raudal Tanjung Banua, dan Herlina Tiens. Setelah itu, peserta mengikuti Sayembara Penulisan Cerpen Geomitologi.
Sebanyak 75 naskah karya penulis muda DIY berusia 17–35 tahun masuk dalam sayembara. Dewan juri yang terdiri dari Ramayda Akmal, Mahfud Ikhwan, dan Hasta Indriyana kemudian memilih 10 karya sebagai nomine sebelum menyaringnya menjadi lima karya terbaik.
Mewakili dewan juri, Hasta Indriyana mengatakan membaca puluhan naskah tersebut seperti menyusuri Yogyakarta melalui peta mitologis. "Tempat-tempat yang selama ini kita hafal dalam rute geografis seperti mendapatkan jiwa melalui cerita di balik batu, gunung, jalanan, tanah, air, dan roh-roh yang bertutur," ujar Hasta.
Menurutnya, sejumlah naskah tidak hanya kuat dari sisi penceritaan, tetapi juga mampu mengembangkan tema geomitologi ke persoalan yang lebih luas, seperti identitas, kesenian, sejarah, gender, hingga kekerasan.