Yogyakarta, IDN Times - Tahun 2026 menandai 20 tahun perjalanan Papermoon Puppet Theatre. Dari kelompok teater boneka kecil di Yogyakarta, mereka kini telah memproduksi lebih dari 35 karya dan tampil di lebih dari 12 negara di 4 benua. Pesta Boneka, festival yang mereka gagas sejak 2008, memasuki edisi ke-10 pada 6-11 Oktober 2026 dengan 193 seniman dari 24 negara dan tema “Holding Hands”.
IDN Times mewawancarai secara khusus pendiri Papermoon, Maria Tri Sulistyani atau Ria Papermoon, di sela Pesta Boneka #10, Kompleks Kampoeng Media, Sleman, Minggu (11/10/2026). Ria berbagi refleksi atas dua dekade berkarya. Ria bercerita tentang mimpi yang terus bergerak, cara festival memperlakukan para seniman, hingga hal yang tak lagi perlu dibuktikan oleh teater boneka.
Setelah 20 tahun membangun Papermoon, apa keyakinan tentang dunia seni yang paling banyak berubah?
Ria Papermoon: Aku merasa 20 tahun Papermoon ini justru semakin optimis. Lihat saja yang terjadi hari ini di Pesta Boneka, seniman dari berbagai negara datang, penonton juga datang. Aku merasa seni punya tempat yang lebih dalam di publik yang lebih luas. Sepertinya publiknya siap, semoga senimannya juga siap.
Papermoon pernah bermimpi punya museum dan sekolah teater boneka. Kini yang dibicarakan hutan. Bagaimana menjaga mimpi-mimpi itu tetap menyala, dan adakah yang direlakan?
Ria Papermoon: Semua mimpi itu sebenarnya organik. Siapa pun boleh punya angan-angan. Dulu aku ingat sekali, setiap kami pergi ke berbagai negara dan melihat ruang pertunjukan kecil, kami terpikir, “Kalau Papermoon punya gedung pertunjukan kecil, lucu ya.” Omongan seperti itu mungkin diucapkan terus-menerus.
Tiba-tiba hari ini kami dipercaya bekerja sama dengan Kampoeng Media untuk menggunakan beberapa ruangan. Rasanya seperti diberi kesempatan untuk meminjam mimpi itu lewat pertunjukan ini. Sekarang mimpinya bergerak ke tempat lain. Menurutku mimpi itu adalah cara kami menjawab pertanyaan zaman hari ini. Kenapa pertunjukan multigenerasi? Kenapa edukasi? Karena kita bicara tentang multigenerational (lintas generasi) dan our future (masa depan kita). Edukasi ini bukan hanya untuk anak-anak. Para manula pun kadang tidak punya kesempatan menonton pertunjukan teater kontemporer. Jadi banyak hal yang menjawab tantangan hari ini.
Para seniman di Pesta Boneka disebut tidak menerima honorarium. Bagaimana membedakan gotong royong yang lahir dari kesepakatan bersama dengan romantisasi pengorbanan pekerja seni?
Ria Papermoon: Pertanyaan ini menarik sekali. Pesta Boneka berbentuk seperti ini karena pengalaman Papermoon sendiri bepergian ke banyak negara. Setiap diundang ke festival di luar negeri, pekerjaannya begini: mendarat, masuk hotel, besoknya bump in (masuk dan menyiapkan gedung teater), membangun set sampai malam, kembali ke hotel, besoknya pentas, lalu pulang ke bandara. Di gedung sebelah ada pertunjukan lain, tetapi kami tidak punya kesempatan menonton. Kami dibayar mahal untuk itu. Tapi apakah betul hanya itu yang kami butuhkan?
Pertanyaan itu muncul terus. Apakah aku bisa menonton pertunjukan lain? Tidak. Apakah aku bisa bertemu warga yang tinggal di sekitar situ? Tidak. Itu yang akhirnya berusaha kujawab. Mungkin banyak seniman lain yang punya pikiran sama. Maka kami memutuskan bentuk Pesta Boneka seperti ini. Kebutuhan dasarnya kami penuhi semua, mulai dari akomodasi, makan, fasilitas pertunjukan, sampai antar-jemput bandara. Kami juga paham bahwa ada teman-teman yang butuh “vitamin” lain, bukan hanya diberi uang.
Setelah 20 tahun, ternyata ini disambut sangat baik oleh banyak seniman, apalagi di hari ini ketika semua merindukan relasi yang akrab. Menurutku bedanya ada pada kebutuhan dasar yang harus terpenuhi, dan ada tawaran yang memang betul-betul diperjuangkan. Ini juga lewat open call (pendaftaran terbuka), jadi tawarannya sudah ada sejak awal untuk disepakati bersama. Kalau tidak sepakat, tidak usah mendaftar. Mereka yang mendaftar adalah yang punya kemiripan cara berpikir.
Papermoon biasa berkarya bersama anak-anak. Apakah pengalaman itu mengubah cara mendengarkan dan bekerja dengan orang lain, terutama anak-anak dan seniman muda? Apa yang perlu dipelajari agar seniman tidak terlalu cepat mengendalikan imajinasi orang lain?
Ria Papermoon: Mungkin Papermoon agak berbeda dari yang lain. Pendorong kami lebih banyak bekerja bersama dan untuk anak-anak muncul ketika aku sudah punya anak. Waktu itu aku sedang menulis naskah, lalu harus mendongeng sebelum tidur. Misalnya, ceritanya tentang pembunuhan massal, tiba-tiba ada anak kecil yang harus kudongengi. Dari situ aku berpikir, kenapa tidak? Ya sudah, aku ngobrol saja dengan anakku.
Yang menarik adalah proses mendengarkan, bagaimana kita melihat mereka setara. Aku bukan “si paling”. Aku selalu merasa apa yang mereka keluarkan itu luar biasa, imajinasinya dahsyat. Menurutku, orang dewasa yang mulai suka mengontrol pada titik tertentu sebenarnya juga mulai gelisah karena kehilangan rasa bermain-main. Ketika kita mampu menjaga keasyikan bermain, semuanya boleh. Kita playful (suka bermain) dan berimajinasi bersama.
Tanpa sadar, semakin dewasa kita semakin kehilangan semangat bermain. Orang bilang, “Kita harus kerja, kita harus mengejar ini.” Padahal sering kali masalah bisa diselesaikan dengan imajinasi, dan imajinasi muncul karena kita masih mau bermain. Itu yang terus kami rawat di Papermoon untuk lebih banyak orang.
Setelah 20 tahun, apa yang kini tidak lagi perlu dibuktikan kepada siapa pun? Sebaliknya, apa yang masih ingin diperjuangkan?
Ria Papermoon: Yang tidak perlu dibuktikan lagi, sepertinya, adalah bahwa teater boneka hanya untuk anak-anak. Itu pekerjaan rumah besar yang di awal Papermoon berjalan setengah mati membongkarnya, karena orang dewasa menganggap ini tidak penting sebab untuk anak-anak. Sekarang di titik itu sudah, ya sudah, kita jalan saja untuk siapa pun. Apalagi Papermoon semakin bulat memilih berkarya untuk multigenerational. Mau untuk anak atau dewasa, gas saja.
Tapi semuanya tetap harus diperjuangkan. Titik nyaman, ketika orang melihat Papermoon dan berkata, “Oh, sudah 20 tahun, sudah bisa mengundang sebanyak ini,” justru dikhawatirkan membuat kami lengah dan tidak lagi eksploratif dan nakal. Itu yang mau terus kami perjuangkan.
Orang mungkin sudah melihat bentuk boneka dan tahu, “Ini Papermoon banget.” Tetapi masih sangat sedikit yang tahu dibanding jumlah penduduk Indonesia dan dunia. Pekerjaan rumahnya masih ke situ: banyak yang belum tahu Papermoon, belum menonton pertunjukannya, belum mengalaminya. Kami ingin berkarya terus sampai tidak bisa berkarya lagi. Itu pekerjaan rumah pertama.
Andai semua boneka Papermoon yang pernah dibuat bisa mengucapkan satu kalimat tentang Ria, apa yang akan mereka katakan?
Ria Papermoon: Aduh, aku tidak tahu mereka akan bilang apa. Jangan-jangan mereka bilang, “Ampun, ampun.”
Justru aku yang akan bilang ke mereka: terima kasih banyak, karena apa yang kualami hari ini terjadi karena mereka. Aku belajar medium teater boneka dari Ki Ledjar Subroto almarhum, Wilde Vogel Theater dari Jerman, Snuff Puppets dari Australia, Sue Giles dari Australia, Tom Lee dari Amerika, dan banyak sekali teman yang kutemui. Aku juga belajar dari Jae (Sirikarn Bunjongtad) dari Thailand, yang membuatku sadar tentang teater bayangan yang hilang di Jawa, dan dari Mas Catur “Benyek” Kuncoro.
Menurutku dunia teater boneka membuatku melihat semuanya dengan lebih baik, bahwa masih ada harapan, dan ada satu medium yang membuat manusia menghilangkan egonya. Di atas panggung, pemainnya luruh dan yang tampil adalah karakternya. Manusia bukan satu-satunya pusat, bukan yang paling segalanya. Itu membuatku belajar banyak, semoga bisa membuat hidup lebih baik.
