Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta (IDN TImes/Febriana Sinta)
  • Pemda DIY menyebut pemasangan kawat berduri di Titik Nol Kilometer Yogyakarta merupakan inisiatif kepolisian, sementara pemerintah daerah belum menerima pemberitahuan terkait tindakan tersebut.
  • Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti meminta langkah pengamanan atau simulasi di kawasan cagar budaya dikoordinasikan lebih dulu untuk mencegah persepsi penjagaan berlebihan.
  • Pemda DIY mendorong pendekatan humanis dalam tindakan preventif di Titik Nol dan Malioboro, mengingat kawasan Sumbu Filosofi itu ramai digunakan masyarakat serta wisatawan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) merespons beredarnya foto bergambar pemasangn kawat berduri oleh pihak kepolisian di kawasan Titik Nol Kilometer, Kota Yogyakarta.

Foto yang viral di media sosial tersebut menjadi polemik dan menuai beragam respons masyarakat.

1. Inisiatif Polri, Pemda DIY harap koordinasi

Kawat berduri (pixabay.com/Kranich17)

Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, Pemda DIY mengatakan, pemasangan kawat berduri merupakan inisiatif pihak kepolisian. Pihaknya mengapresiasi langkah Polri untuk menjaga keamanan di wilayah DIY, termasuk kawasan cagar budaya.

Kendati demikian, Made berharap setiap langkah pengamanan maupun simulasi di kawasan cagar budaya dapat dikoordinasikan terlebih dahulu dengan berbagai pihak terkait.

"Ketika ini bicaranya di kawasan heritage, kawasan cagar budaya, saya kira ini menjadi berbeda, seperti itu. Sehingga harapan besar kami, ini kan inisiatif dari kepolisian ya, untuk memasang kawat berduri itu mungkin sebagai latihan atau apa ya, soalnya kami belum diberitahu untuk berkaitan dengan hal itu, mungkin perlu penekanan di sisi koordinatif," kata Made, Selasa (03/11/2026).

2. Antisipasi kemunculan persepsi berlebihan

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti. (Dok. Istimewa)

Made berpendapat, komunikasi dan koordinasi penting guna mengantisipasi kemunculan persepsi mengenai pengamanan yang berlebihan di tengah masyarakat.

"Mungkin kami berharap ke depannya hal-hal yang seperti ini kita kuatkan koordinasinya. Sehingga ketika ada langkah-langkah persuasif yang dilakukan, ini kami bisa mengantisipasi hal-hal yang mungkin dianggap sebagai persepsi terjadinya penjagaan yang berlebihan," kata Made.

"Ini yang mungkin juga kami berharap bahwa ke depan tingkat koordinatifnya lebih diperkuat," sambung Made.

3. Pendekatan humanis, Malioboro-Nol Kilometer ruang aktivitas masyarakat

Sehari pascaaksi demonstrasi di kawasan Jalan Malioboro,, aktivitas warga berjalan normal. Berdasarkan pantauan di lokasi, Kamis (29/10/2026) siang. (IDNTimes/Tunggul Damarjati)

Selain itu, Made menambahkan, koordinasi antarpihak perlu dilakukan dengan mengedepankan pendekatan yang humanis, serta mempertimbangkan karakteristik kawasan yang menjadi ruang aktivitas masyarakat dan wisatawan.

Apalagi, lanjut Made, Titik Nol Kilometer adalah bagian kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang terhubung dengan kawasan Malioboro dan ramai dikunjungi masyarakat maupun wisatawan.

"Karena itu kan termasuk kawasan sumbu filosofis, kawasan Malioboro, banyak pengunjung, banyak wisatawan. Jadi bagaimana kemudian ketika akan dilakukan tindakan preventif dan lain-lain, itu mungkin perlu ada koordinasi yang humanis, yang bisa diterima oleh semua," pungkas Made.

Curated For You

Editorial Team

Related Article