Sleman, IDN Times — Di tengah masifnya gempuran teknologi digital dan dominasi Computer Generated Imagery (CGI) yang seakan menyeragamkan karya di industri hiburan global, sebuah perayaan untuk mengembalikan kemurnian seni animasi kembali digelar. 6th Craft International Animation Festival (Craft Animfest 2026) hadir menantang arus utama dengan menjadikan seni rupa dan teknik pengerjaan tangan (handcrafting) sebagai napas utamanya. Berlangsung di BBPPMPV Seni Budaya, Sleman, Yogyakarta pada 23 hingga 28 Oktober 2026, festival berskala internasional ini membawa misi besar untuk menjadi ruang temu bagi para seniman animasi tradisional maupun kontemporer dari seluruh belahan dunia.
Sejarah lahirnya festival ini tidak lepas dari keresahan mendalam mengenai memudarnya esensi seni kriya (craftsmanship) dalam film animasi modern. Pada tahun 2016, sineas Indonesia Chonie Prysilia dan Hizkia Subiyantoro, bersama sutradara asal Polandia Piotr Kardas, menginisiasi festival ini sebagai respons atas tenggelamnya berbagai teknik animasi yang kaya akibat masifnya digitalisasi.
Memasuki edisinya di tahun 2026, Craft Animfest mengusung tema besar "Moving On". Tema ini diangkat sebagai bentuk refleksi atas satu abad perjalanan seni animasi, yang kini perlahan kembali ke pangkuan seni kriya. Dalam kacamata festival ini, kawasan Asia Tenggara dengan kekayaan tradisi lokalnya—seperti wayang, seni pahat, tekstil, dan metode penceritaan berbasis material—dipandang sebagai "Surga Kreatif" yang mewarisi DNA autentik untuk melahirkan karya-karya animasi yang bernyawa dan berkarakter kuat.
Semangat pergerakan dan gotong-royong tersebut secara apik divisualisasikan oleh Gatot Indrajati, seorang perupa kontemporer kaliber internasional yang didapuk untuk merancang identitas visual festival tahun ini. Gatot merespons tema "Moving On" melalui sebuah karya ilustrasi di atas kanvas yang menampilkan dua sosok imajiner di atas rumput. Sosok berupa rangkaian baterai dan karakter biji mata tersebut digambarkan sedang melompat-lompat dan bergandengan tangan menantang arah angin, di bawah hamparan lanskap pemandangan hijau dengan pop-up awan. Visual eksentrik ini menjadi representasi dari spirit kemajuan dan kolaborasi untuk terus melangkah ke depan.
