Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BGN Uji Coba MBG Prasmanan di 2 Sekolah Dasar di Jogja
Ilustrasi pembagian MBG di sekolah. (Dok. IDN Times)
  • BGN menguji coba Program Makan Bergizi Gratis berkonsep prasmanan di SDN Soprayan dan SD Muhammadiyah Bantar, Jogja, dengan total 106 siswa penerima manfaat.
  • Pilot project mengevaluasi keamanan pangan, higiene, kenyamanan, dan alur layanan; uji organoleptik menyatakan makanan layak, sementara kepatuhan penggunaan APD siswa mencapai 99 persen.
  • Kepuasan siswa dan guru di dua sekolah meraih skor 5 dari 5, sedangkan total sisa makanan 3,3 kilogram menjadi bahan evaluasi preferensi menu dan pengurangan food waste.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji penerapan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan. Di Jogja, uji coba tersebut berlangsung di dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Senin (5/10/2026).

Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, mengatakan pelaksanaan pilot project ini merupakan bagian untuk mengevaluasi model pelayanan MBG sebelum dikembangkan lebih lanjut. Pengujian dilakukan dengan memperhatikan sejumlah aspek, mulai keamanan pangan hingga tingkat kenyamanan penerima manfaat.

1. Dua sekolah di Jogja jadi lokasi uji coba

Pilot project MBG prasmanan merupakan inisiatif Kedeputian Sistem dan Tata Kelola BGN yang disampaikan kepada jajaran BGN di daerah melalui nota dinas.

Pengujian dilakukan SPPG Sleman Turi Bangunkerto 2 yang melayani SDN Soprayan. Sementara lokasi kedua berada di SPPG Polda DIY dengan penerima manfaat dari SD Muhammadiyah Bantar. Sebanyak 106 siswa menjadi penerima manfaat dalam uji coba tersebut. Rinciannya, 59 siswa kelas 4 hingga 6 SDN Soprayan dan 47 siswa kelas 5 hingga 6 SD Muhammadiyah Bantar.

"Dalam pelaksanaannya, titik SPPG dan satuan pendidikan yang menjadi lokasi pilot project telah ditentukan sesuai dengan arahan dan ketetapan dalam pelaksanaan pilot project tersebut," kata Gagat, Selasa (6/10/2026).

2. Kepuasan siswa dan guru capai skor maksimal

BGN bakal turut mengevaluasi aspek keamanan pangan dan higiene selama penerapan sistem prasmanan. Hasil uji organoleptik di kedua lokasi menunjukkan makanan yang disajikan dinyatakan layak.

Selain itu, kepatuhan siswa dalam menggunakan alat pelindung diri (APD) tercatat mencapai 99 persen. Aspek tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan untuk memastikan proses pelayanan makanan tetap memenuhi standar kebersihan.

Dari sisi penerimaan, respons siswa dan guru tergolong sangat baik. Penilaian yang dilakukan di kedua sekolah menunjukkan tingkat kepuasan penerima manfaat mencapai skor 5 dari 5. "Respons penerima manfaat juga menunjukkan hasil yang sangat positif," klaim Gagat.

3. Sisa makanan jadi bahan evaluasi BGN

Penerapan metode prasmanan juga memberikan gambaran mengenai jumlah makanan yang tersisa setelah siswa menyelesaikan waktu makan. Dari dua lokasi, total food waste yang tercatat mencapai 3,3 kilogram.

Rinciannya, sebanyak 1,6 kilogram sisa makanan berasal dari SDN Soprayan dan 1,7 kilogram dari SD Muhammadiyah Bantar. Catatan tersebut digunakan untuk mengevaluasi pola konsumsi sekaligus melihat preferensi penerima manfaat terhadap menu yang disediakan.

Gagat mengatakan hasil uji coba ini akan menjadi bahan bagi BGN untuk menyempurnakan penerapan MBG dengan metode prasmanan. Evaluasi mencakup alur pelayanan, aspek higiene, kenyamanan, kepuasan penerima manfaat, hingga upaya menekan food waste.

"Melalui pilot project ini, BGN berharap pengembangan model layanan MBG dapat terus dilakukan secara terukur berdasarkan hasil pelaksanaan di lapangan, sehingga ke depan dapat menghadirkan layanan yang semakin aman, berkualitas, nyaman, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan penerima manfaat," pungkas Gagat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article