Oemah Sabut Kelapa Ubah Limbah Jadi Komoditas yang Tembus Pasar Dunia

- Oesaka dirintis pada 2018, fokus pada pengolahan sabut kelapa dan penjualan daring serta luring untuk memahami pasar.
- Pandemi Covid-19 meningkatkan permintaan produk berbahan sabut kelapa seperti pot tanaman dan cocovit.
- Oesaka memproduksi beragam olahan berbahan sabut kelapa dan berhasil diekspor ke berbagai negara.
Sleman, IDN Times - Sabut kelapa yang kerap dianggap limbah tak bernilai justru diolah menjadi produk ramah lingkungan oleh Ichsan Mubaidi. Melalui Oemah Sabut Kelapa (Oesaka) yang ia dirikan, serabut kelapa tersebut kini dipasarkan hingga ke luar negeri. Usaha berbasis kemitraan ini melibatkan sekitar 50 pengrajin di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, khususnya wilayah Kebumen.
Ichsan mengungkapkan, gagasan tersebut berawal dari keprihatinannya melihat sabut kelapa yang selama ini terbuang percuma. Menurutnya, bahan tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi jika diolah dengan tepat dan dapat memberi manfaat bagi banyak orang. “Awalnya saya melihat sabut kelapa ini sering terbuang percuma. Padahal kalau diolah dengan benar, nilainya bisa jauh lebih tinggi dan berdampak ke banyak orang,” ujar Ichsan pada Kamis (15/1/2026), dilansir KIM Seyegan Media Center Sembada.
1. Berkembang saat COVID-19
Oesaka mulai dirintis pada 2018, saat Ichsan Mubaidi belum langsung memfokuskan usaha pada pengolahan sabut kelapa. Pada fase awal, ia menjual beragam produk melalui jalur daring dan luring untuk memahami karakter pasar sekaligus membangun kepercayaan konsumen.
“Waktu itu saya jual apa saja, yang penting belajar dulu bagaimana pasar bekerja dan bagaimana membangun kepercayaan konsumen,” katanya.
Perubahan arah usaha terjadi saat pandemi Covid-19 melanda. Di tengah perlambatan ekonomi, permintaan produk berbahan sabut kelapa justru meningkat, terutama pot tanaman dan cocovit, seiring melonjaknya aktivitas berkebun di rumah. Dari situ, Ichsan melihat bahwa pasar sabut kelapa telah terbentuk dan memiliki prospek berkelanjutan.
“Saat orang lebih banyak di rumah, mereka mulai berkebun. Dari situ saya sadar, ternyata pasar sabut kelapa ini sudah terbentuk,” tutur Ichsan.
Melihat peluang tersebut, Ichsan mengembangkan Oesaka secara lebih serius dengan mendirikan fasilitas produksi di Kebumen dan menerapkan sistem kemitraan bersama pengrajin lokal. Produksi dijalankan dengan dukungan mesin, namun tetap melibatkan rumah produksi setempat, sementara pengelolaan usaha dipusatkan di kantor pemasaran Oesaka di Seyegan dengan melibatkan warga sekitar.
“Saya ingin usaha ini tumbuh bersama lingkungan sekitar. Kalau bisnis jalan tapi warga sekitar tidak ikut merasakan, rasanya ada yang kurang,” ucapnya.
2. Dipasarkan ke berbagai negara

Oesaka memproduksi beragam olahan berbahan sabut kelapa, mulai dari keset, media tanam, pot, sangkar burung, tali, tas, sandal hotel, hingga produk khusus sesuai permintaan konsumen. Produk-produk tersebut dipasarkan ke berbagai negara, seperti Jerman, Belanda, Prancis, Israel, Lebanon, Malaysia, Singapura, dan Australia, serta menjangkau hampir seluruh provinsi di Indonesia.
“Ekspor itu bukan soal besar-kecil usaha, tapi soal konsistensi kualitas dan komitmen memenuhi pesanan,” kata Ichsan.
Dalam perjalanannya, Oesaka juga menghadapi sejumlah tantangan. Kenaikan harga kelapa yang dipicu kebijakan impor kelapa utuh berdampak pada mahalnya bahan baku. Selain itu, musim hujan kerap menghambat proses penjemuran, sementara keterbatasan tenaga kerja muda di desa menjadi persoalan lain.
“Anak-anak muda sekarang lebih tertarik kerja di kota. Ini PR besar bagaimana industri desa tetap menarik bagi mereka,” ungkapnya.
3. Jadi narasumber hingga fasilitator
Ketekunan Ichsan dalam mengembangkan usaha sabut kelapa membuatnya kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan. Ia menjadi narasumber untuk mahasiswa KKN, pelatihan pelaku UMKM, hingga program CSR perusahaan nasional seperti Pertamina, PLN, dan Bank Indonesia di sejumlah wilayah. Kepercayaan serupa juga datang dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) di bawah PBB yang menunjuknya sebagai fasilitator pelatihan pengolahan sabut kelapa bagi masyarakat Timor Leste.
“Saya percaya, potensi desa itu luar biasa. Tinggal bagaimana kita mau serius mengelolanya dan berbagi ilmu,” pungkas Ichsan.
Di tengah maraknya penggunaan produk berbahan plastik, Oesaka menunjukkan bahwa sabut kelapa atau coco fiber tetap memiliki relevansi sebagai bahan ramah lingkungan. Selain bernilai ekonomi, produk tersebut juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat dan upaya menjaga keberlanjutan.

















