Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Inflasi DIY pada Akhir 2025 Dipicu Skincare hingga Tembakau

ilustrasi inflasi
ilustrasi inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)
Intinya sih...
  • BPS DIY mencatat komoditas seperti cabai, emas, daging ayam, bensin, dan beberapa sayuran mempengaruhi inflasi. Emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi bulanan sepanjang tahun 2025.
  • Sektor pertanian di DIY mencatat kinerja positif dengan nilai tukar petani naik 2,77 persen. Kenaikan dipicu oleh harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan harga yang dibayar petani.
  • Hortikultura mencatat kenaikan NTP tertinggi, sementara subsektor tanaman pangan dan perkebunan rakyat mengalami penurunan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Inflasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tercatat masih dalam kondisi terkendali pada akhir tahun 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY melaporkan inflasi bulanan pada Desember 2025 sebesar 0,65 persen dibandingkan November 2025. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan serta kebutuhan rumah tangga.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik 1,83 persen dengan andil 0,13 persen. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 1,66 persen dan menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi Desember 2025 dengan andil 0,47 persen.

1. Komoditas yang mendorong dan menahan laju inflasi

ilustrasi membeli perhiasan emas (freepik.com/freepik)
ilustrasi membeli perhiasan emas (freepik.com/freepik)

Plt. Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati, menyebut sejumlah komoditas menjadi pendorong utama inflasi bulanan, di antaranya cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, bensin, cabai merah, bawang merah, telur ayam ras, tomat, cabai hijau, dan wortel. Di sisi lain, beberapa komoditas tercatat menahan inflasi atau mengalami deflasi, seperti kelapa, buncis, dan ketimun.

“Secara umum, selama Januari–Desember 2025, komoditas dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau relatif lebih sering menjadi penyumbang utama inflasi. Selain itu, emas perhiasan tercatat sebagai komoditas utama penyumbang inflasi bulanan pada 10 bulan sepanjang tahun 2025,” ujar Herum dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (5/1/2026), dilansir laman resmi Pemda DIY.

Herum menambahkan, inflasi tahunan atau year-on-year pada Desember 2025 tercatat sebesar 3,11 persen dibandingkan Desember 2024, masih berada dalam kisaran target inflasi nasional. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 14,49 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,00 persen. Komoditas seperti emas perhiasan, beras, cabai rawit, cabai merah, dan kelapa menjadi penyumbang utama inflasi tahunan.

“Perkembangan harga di tingkat kabupaten/kota pun menunjukkan dinamika berbeda. Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi y-on-y sebesar 2,93 persen dan inflasi m-to-m sebesar 0,74 persen. Sementara Kota Yogyakarta mencatat inflasi y-on-y 3,33 persen dan inflasi m-to-m 0,53 persen,” jelasnya.

2. Kinerja sektor pertanian positif

Ilustrasi petani memanen padi saat musim panen raya. (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)
Ilustrasi petani memanen padi saat musim panen raya. (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)

Di tengah tekanan inflasi, sektor pertanian di DIY justru mencatat kinerja positif. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2025 tercatat naik menjadi 110,03, atau meningkat 2,77 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut dipicu oleh Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang tumbuh 4,65 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 1,83 persen.

“Ayam ras pedaging, kacang tanah, melon, dan cabai merah tercatat memberi andil terbesar terhadap kenaikan It. Sementara kenaikan Ib turut dipengaruhi meningkatnya harga sejumlah komoditas konsumsi dan biaya produksi, termasuk cabai rawit dan daging ayam ras,” imbuh Herum.

3. Inflasi terkendali

ilustrasi inflasi
ilustrasi inflasi (IDN Times/Aditya Pratama)

Di tingkat subsektor, hortikultura mencatat kenaikan paling tinggi dengan NTP mencapai 155,61 atau melonjak 20,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Tren positif juga terlihat pada subsektor peternakan dan perikanan yang masing-masing meningkat menjadi 105,66 dan 95,94. Sementara itu, NTP pada subsektor tanaman pangan serta tanaman perkebunan rakyat tercatat mengalami penurunan.

“Tak hanya NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) DIY juga meningkat menjadi 117,03, ditopang kenaikan harga hasil pertanian. Subsektor hortikultura kembali menjadi pendorong utama dengan kenaikan mencapai 21,89 persen,” tandas Herum.

Secara keseluruhan, inflasi yang tetap terkendali disertai kenaikan NTP mencerminkan kondisi perekonomian DIY yang relatif stabil pada akhir 2025. Di sisi lain, kesejahteraan petani menunjukkan kecenderungan membaik, sehingga penguatan koordinasi lintas sektor tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More

Pemandangan Tepi Pantai Sepanjang Usai Ratusan Kios Dibongkar

07 Jan 2026, 21:09 WIBNews