Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sejarah Sarkem di Jogja, Pasar Bunga hingga Julukan 1.000 Penginapan
Jalan Pasar Kembang. (IDN Times/Febriana Sinta)
  • Pasar Kembang di Sosromenduran, dekat Stasiun Tugu dan Malioboro, bermula dari perdagangan bunga; sebelumnya disebut Balokan karena tumpukan kayu untuk kebutuhan perkeretaapian.

  • Operasional Stasiun Tugu sejak 12 Mei 1887 mendorong mobilitas, perdagangan, jasa, dan penginapan; sumber mengaitkan prostitusi dengan masa kolonial, meski awal kemunculannya belum pasti.

  • Sosrowijayan Wetan dikenal sebagai kampung turis dengan banyak penginapan, sedangkan Gang 3 Sosrowijayan Kulon menjadi hiburan malam; Pemkot menggelar Sarkem Fest sejak 2017.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pasar Kembang atau disebut Sarkem, merupakan kawasan di Kota Yogyakarta yang menyimpan sejarah panjang. Terletak di dekat Stasiun Tugu dan kawasan Malioboro, wilayah ini memiliki sejarah sejak masa kolonial Belanda.

​Sejarah Pasar Kembang mencakup pergeseran fungsi wilayah, dinamika perdagangan, hingga perkembangan jalur transportasi darat. Aktivitas ekonomi dan sosial yang tumbuh di sekitar rel kereta api turut membentuk identitas unik tempat ini dari masa ke masa. Nah, untuk lebih memahami sejarah Sarkem Yogyakarta secara mendalam, yuk simak sampai habis!

1. Asal-Usul nama Pasar Kembang dan Sarkem

Ilustrasi kendaraan yang parkir sembarangan di sepanjang Jalan Pasar Kembang, Kota Yogyakarta. (IDN Times/Paulus Risang)

Pasar Kembang merupakan nama jalan di kawasan Kelurahan Sosromenduran, Kemantren Gedongtengen, Kota Yogyakarta, yang berada tidak jauh dari Stasiun Tugu Yoyakarta. Sesuai namanya, sebutan tersebut berasal dari aktivitas perdagangan bunga atau kembang yang dulu berkembang di sekitar kawasan itu. Bunga yang dijual berupa mawar hias, melati, dan bunga tabur yang digunakan untuk keperluan upacara atau ziarah makam.

Sebelum dikenal sebagai Pasar Kembang, kawasan tersebut pernah disebut Balokan, yang lantaran tumpukan balok kayu di sekitar area stasiun. Kayu-kayu tersebut berkaitan dengan kebutuhan perkeretaapian pada masa jalur kereta api mulai berkembang di Yogyakarta.

Dari nama Pasar Kembang tercetuslah Sarkem yang merupakan singkatan dan menjadi populer di kalangan masyarakat maupun pengunjung dari luar kota. Nama tersebut sering diasosiasikan dengan kawasan prostitusi dibanding asal-usul aktivitas perdagangan bunga.

2. Perkembangan Sarkem pada Masa Kolonial Belanda

Stasiun Tugu Yogyakarta. IDN Times/Tunggul Damarjati

Sejarah Pasar Kembang tak dapat dipisahkan dari pembangunan infrastruktur transportasi di Yogyakarta pada masa kolonial Belanda. Kehadiran Stasiun Tugu yang mulai beroperasi pada 12 Mei 1887, menjadikan kawasan di sekitarnya semakin penting dalam mendukung mobilitas manusia dan distribusi barang. Perkembangan transportasi turut mendorong munculnya berbagai aktivitas ekonomi dan jasa yang melayani kebutuhan masyarakat maupun pendatang.

Seiring peningkatan aktivitas di sekitar stasiun, kawasan Pasar Kembang mengalami perubahan fungsi dan karakternya. Kehadiran pekerja kereta api, pedagang, pendatang, serta orang-orang yang singgah di Yogyakarta menciptakan kebutuhan terhadap penginapan dan berbagai layanan pendukung. Dari sini tercipta perkembangan kawasan yang tak hanya berkaitan dengan perdagangan, tapi juga perubahan pola kehidupan masyarakat perkotaan.

Sejumlah sumber mengaitkan perkembangan praktik prostitusi di kawasan dimulai dari aktivitas masyarakat pada masa kolonial. Namun, waktu awal kemunculannya tak sepenuhnya dapat dipastikan karena terdapat perbedaan keterangan mengenai kronologi dan penyebabnya.

3. Sarkem: Perkampungan dan tempat penginapan wisatawan

Wisatawan sedang foto di tulisan Jalan Pasar Kembang, Kota Yogyakarta. (IDNTimes/Febriana Sinta)T

Kawasan sekitar Stasiun Tugu, tepatnya di Kelurahan Sosromenduran, Kemantren Gedongtengen merupakan wilayah unik, dan menarik. Wilayah ini terbagi menjadi dua bagian, yakni Sosrowijayan Wetan dan Sosrowijayan Kulon. Di satu sudutnya, Kampung Sosrowijayan Wetan (khususnya area Gang 1 dan 2) sejak lama dijuluki sebagai "kampung turis" atau "gang 1.000 penginapan".

Di kawasan ini, suasananya terasa lebih modern, lantaran berderet hotel, losmen, dan kafe. Pengunjungnya datang dari berbagai tempat, baik domestik hingga mancanegara untuk mencari akomodasi selepas turun dari Stasiun Tugu atau berjalan-jalan dari Malioboro.

Berbeda dengan Kampung Sosrowijayan Kulon, khususnya Gang 3, lebih banyak rumah perkampungan. Biasaya pada sore hari, gang ini layaknya perkampungan di kota besar. Warga sering duduk di depan rumah, anak muda menonton televisi di tepi jalan, hingga pedagang makanan keliling. Saat malam tiba, tempat ini menjadi lokasi hiburan malam.

4. Pemkot Yogyakarta gelar Sarkem Festival

Ilustrasi Jalan Malioboro (pexels.com/id-id/@andiravsanjani)

Nama Sarkem disematkan sebagai lokasi praktik prostitusi. Tak hanya Gang Tiga, semua wilayah dinilai sebagai tempat hiburan malam. Pemerintah Yogyakarta mencoba mengubah pandangan yang sudah terlanjur melekat.

Salah satu upaya yang dilakukan menggelar Sarkem Fest yang pertama kali diadakan pada 2017. Acara ini merupakan event tahunan yang biasanya diadakan setiap bulan Oktober. Biasanya digelar kegiatan kesenian dan kebudayaan yang diadakan dari sore sampai malam hari. Meriah, karena pengunjung bisa menyaksikan pertunjukan musik, tari-tarian, hingga kuliner.

Kamu mau mampir di Sarkem Fest, yuk datang di Jalan Pasar Kembang. Event ini digelar mulai 24-31 Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article