Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menengok Thukul Land, Lebaran Komunitas Sarat Makna di Kulon Progo
Kegiatan Lebaran Komunitas Thukul Land di Kulon Progo (Dok.istimewa oleh @kdkclpctrs)
  • Thukul Land perdana digelar 4 Oktober 2026 di Taman Rumah Dinas Bupati Kulon Progo, menghadirkan aktivitas komunitas sejak pagi hingga malam dan menarik sekitar 500 pengunjung.
  • Kolektif ini menjadi wadah bagi komunitas serta warung artisan yang membutuhkan ruang promosi, dengan lebih dari 20 komunitas berkolaborasi secara organik melalui kegiatan sosial dan kreatif.
  • Acara turut melibatkan UMKM lokal lewat pasar artisan serta menerapkan water station dan waste station untuk pengelolaan sampah; penyelenggara berencana menggelarnya kembali tahun depan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Wates, IDN Times - Ada banyak perayaan yang layak disebut 'lebaran' di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain perhelatan seni tiap pertengahan tahun, Lebaran Literasi di Jakal Bookshop Festival, juga ada Lebaran Komunitas di Kulon Progo.

Lewat kolektif bertajuk Thukul Land, perayaan ini mematahkan anggapan bahwa Kulon Progo merupakan wilayah yang sepi dinamika anak muda. Acara ini sebagai bukti tumbuhnya pergerakan lokal.

Lantas, apa sebenarnya Thukul Land dan bagaimana mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 20 komunitas yang fokus dalam satu panggung?

1. Arti lebaran komunitas versi Thukul Land

Kegiatan Lebaran Komunitas Thukul Land di Kulon Progo (Dok.istimewa oleh @kdkclpctrs)

Thukul Land perdana dihelat pada Minggu (4/10/2026) di Taman Rumah Dinas Bupati Kulon Progo, berlangsung semarak sejak pukul 06.00 hingga 22.00 WIB. Kemeriahannya diawali charity run, dan beragam aktivitas seru. Mulai membaca senyap sambil berkebaya hasil kolaborasi Sekali Duduk Reading dan Perempuan Berkebaya Kulon Progo, walking tour bareng Kolektif Eureka dan Warga Bumi Movement, hingga Pesta Warga bersama Ragam Arena serta Zero Pressure Record di akhir acara.

"Thukul Land merupakan kolektif event yang lahir dari keresahan akan keberlangsungan dan ruang promosi komunitas dan warung artisan yang terbatas, sehingga event ini menjadi “pulau” atau wadah yang menyatukan" jelas Habib Ahmad Hashbullah sebagai Creative Director Thukul Land.

Arti Thukul Land mengambil bahasa Jawa yakni 'Thukul' yang artinya tumbuh dan land yang berarti pulau atau wadah, Thukul Land diharapkan bisa menjadi media atau wadah bagi meraka yang sedang bertumbuh. Disebut 'Lebaran Komunitas' karena merupakan ruang bertemunya komunitas, saling menyapa dan terhubung kembali. Selaras dengan konsep lebaran sebagai ruang pertemuan.

Kolaborasi antarjejaring ini tumbuh secara organik berdasarkan kesamaan filosofi maupun teknis. Pada aspek teknis misalnya, Thukul Land menggandeng tiga komunitas sepeda untuk membidani aksi sosial bertajuk Pedal Peduli Wates. Sementara pada aspek filosofis, lahir aktivasi "Membaca" Perempuan yang mengawinkan visi Sekali Duduk Reading, Perempuan Berkebaya Kulon Progo, dan Niswaraya. Hebatnya, perhelatan perdana ini sukses menyedot sekitar 500 pengunjung, mulai dari pegiat komunitas hingga masyarakat.

2. Dari pasar artisan, pengelolaan sampah, hingga semangat kolektif

Kegiatan Lebaran Komunitas Thukul Land di Kulon Progo (Dok.istimewa oleh @rendy_pepe)

Selain pergerakan komunitas, Thukul Land turut merangkul pegiat UMKM lokal lewat pasar artisan terkurasi. Mulai dari kelezatan camilan manis Cokelat Makaryo hingga segarnya racikan InspiTea memanjakan pengunjung.

Menariknya, panitia tak hanya fokus pada aktivitas komunitas, tetapi juga menaruh perhatian besar pada pengelolaan sampah selama acara berlangsung. Langkah ini diwujudkan lewat penyediaan water station gratis bagi pengunjung untuk menekan sampah botol plastik, serta waste station untuk memilah dan mengolah sampah sesuai jenisnya.

Habib mengaku optimistis jika Thukul Land akan diselenggarakan kembali tahun depan. "Melihat antusiasme pada gelaran Thukul Land pertama, pasti akan kita selenggarakan lagi. Tapi mungkin dengan konsep yang berbeda atau dengan perbaikan lainnya. Karena ini event kolektif, kita tidak mempunyai funding tetap, kami berjalan dengan kesukarelaan dan keberanian. Kami berharap mendapatkan support dan dukungan dari segala pihak" pungkasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article