Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Viral Warga Khawatirkan Girder Tol di Sleman, Ini Jawaban Adhi Karya
Proyek pembangunan Tol Yogyakarta-Solo Seksi 2 Paket 2.2 Trihanggo-Junction Sleman. (Dok. Humas Adhi Karya)
  • Warganet menyoroti girder Tol Jogja-Solo di Kronggahan, Sleman, yang belum dipasang diafragma dan dinilai berisiko bagi warga serta pengguna jalan di bawah proyek.
  • PT Adhi Karya menyatakan girder telah dilengkapi bracing sementara sebelum diafragma dipasang, sebagai pengikat keamanan yang disebut umum digunakan pada proyek tol.
  • Adhi Karya membantah proyek berhenti; pemasangan diafragma telah dimulai, ramp on-off ditargetkan selesai Oktober, sementara target fungsional dari Jasa Marga pada Desember.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times - PT Adhi Karya buka suara tentang unggahan warganet yang merasa hawatir tentang pengerjaan konstruksi di area proyek Tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2 Trihanggo-Junction Sleman.

Unggahan tersebut meminta perhatian pihak pelaksana dan pengawas proyek terhadap keselamatan warga yang melintas di bawah area pembangunan.

Pengunggah mempertanyakan proyek tol di Kronggahan yang berhenti sementara, sekaligus menyoroti balok diafragma yang belum terpasang pada bagian girder yang berdiri bebas. Pengunggah menilai kondisi tersebut berisiko membuat girder terguling apabila terjadi gempa atau gaya lateral.

1. Girder tol dilengkapi bracing sebelum diafragma dipasang

Proyek pembangunan Tol Yogyakarta-Solo Seksi 2 Paket 2.2 Trihanggo-Junction Sleman. (Dok. Humas Adhi Karya)

Merespons unggahan tersebut, Humas PT Adhi Karya Proyek Tol Jogja Solo Seksi 2 Paket 2.2, Agung Murhandjanto menjelaskan pemasangan diafragma girder telah dijadwalkan. Kata Agung, sekalipun belum dipasang diafragma, girder yang dinaikkan telah dilengkapi bracing untuk keamanan. Metode ini, menurutnya, sudah diterapkan di sejumlah proyek tol lain.

"Ini kan ada bracing, jadi sudah ada pengikatnya. Cuma kita itu secara schedule kita memang belum masuk ke arah pemasangan diafragma," kata Agung usai memberikan penjelasan kepada Dinas PUPKP Sleman terkait proses konstruksi proyek tol, Selasa (29/9/2026).

Agung merinci, pemakaian bracing adalah metode umum yang digunakan dalam pembangunan jalan tol di berbagai lokasi. Penggunaannya hanya bersifat sementara pemasangan diafragma.

"Insyaallah safety-nya tetap terjaga dan tadi sudah kita beri penjelasan ke PU Sleman untuk ya istilahnya memberikan informasi, tetap faktor safety keamanan tetap kita jaga," kata Agung.

2. Adhi Karya pastikan proyek tol tak berhenti

Agung turut memastikan sejumlah pekerja telah ditempatkan untuk pemasangan diafragma girder di sisi timur Simpang Empat Kronggahan. Saat ini pembangunan tengah difokuskan pada pendirian Ramp On dan Ramp Off di area Trihanggo.

"Per hari ini sudah kita action untuk pemasangan diafragma," tegas Agung.

Di saat bersamaan, Agung membantah proyek pembangunan jalan tol berhenti. Ia mengatakan pengerjaan terus berjalan sesuai rencana kerja terjadwal.

"Enggak berhenti, insyaallah kita selalu on schedule. Ini nanti insyaallah Oktober ini kita akan selesaikan yang di ramp-on sama ramp-off. Kemudian yang bisa difungsional, target fungsional dari Jasa Marga di bulan Desember," jelasnya.

3. Bracing disebut sesuai SOP Bina Marga

Construction Engineer PT Adhi Karya, Gibran Satria Samudra memaparkan total terdapat 12 girder yang dinaikkan pada area tersebut. Kontraktor mematuhi Standard Operating Procedure (SOP) dari Bina Marga dengan menggunakan bracing secara sementara.

"Bracing itu pengikat antara girder satu dan lainnya. Jadi dilas memanjang dan menyilang, jadi per sekian jarak. Jadi tergantung jarak, tergantung panjang girder-nya itu berapa," papar Gibran.

Pengerjaan bracing sudah dilakukan menggantikan peran diafragma sementara. Secara klasifikasi, besi yang digunakan untuk bracing memiliki kelasnya masing-masing.

Menurut Gibran, dalam proyek Tol Jogja-Solo di Trihanggo, kontraktor menggunakan besi D32 atau besi berdiameter 32 mm. Ini lebih besar dari standar yang ditetapkan pada umumnya di jenis besi D25 yang berdiameter 25 mm.

"Kita sebenarnya sudah memenuhi SOP yang ada untuk penerapan gelagar girder yang sudah terpasang sebelum ke pekerjaan diafragma," ucapnya.

Gibran turut menjelaskan perihal diafragma yang dibahas di media sosial. Diafragma adalah pengikat antara balok-balok girder dan berfungsi mencegah gaya guling atau gaya lateral pada girder

"Tidak secara struktural untuk menahan beban, tapi hanya menahan girder agar tidak terguling, intinya seperti itu. Tapi sebelum girder terpasang, ada peran pengganti yaitu bracing itu tadi, yang bracing yang kami sudah gunakan. Sebenarnya dibilang aman, insyaallah sudah aman," ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article