Construction Engineer PT Adhi Karya, Gibran Satria Samudra memaparkan total terdapat 12 girder yang dinaikkan pada area tersebut. Kontraktor mematuhi Standard Operating Procedure (SOP) dari Bina Marga dengan menggunakan bracing secara sementara.
"Bracing itu pengikat antara girder satu dan lainnya. Jadi dilas memanjang dan menyilang, jadi per sekian jarak. Jadi tergantung jarak, tergantung panjang girder-nya itu berapa," papar Gibran.
Pengerjaan bracing sudah dilakukan menggantikan peran diafragma sementara. Secara klasifikasi, besi yang digunakan untuk bracing memiliki kelasnya masing-masing.
Menurut Gibran, dalam proyek Tol Jogja-Solo di Trihanggo, kontraktor menggunakan besi D32 atau besi berdiameter 32 mm. Ini lebih besar dari standar yang ditetapkan pada umumnya di jenis besi D25 yang berdiameter 25 mm.
"Kita sebenarnya sudah memenuhi SOP yang ada untuk penerapan gelagar girder yang sudah terpasang sebelum ke pekerjaan diafragma," ucapnya.
Gibran turut menjelaskan perihal diafragma yang dibahas di media sosial. Diafragma adalah pengikat antara balok-balok girder dan berfungsi mencegah gaya guling atau gaya lateral pada girder
"Tidak secara struktural untuk menahan beban, tapi hanya menahan girder agar tidak terguling, intinya seperti itu. Tapi sebelum girder terpasang, ada peran pengganti yaitu bracing itu tadi, yang bracing yang kami sudah gunakan. Sebenarnya dibilang aman, insyaallah sudah aman," ujarnya.