Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Simfoni 1001 Pembatik di sepanjang Jalan Malioboro, Sabtu (3/10/2026). (Dok. Pemkot Yogyakarta)
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian, Emi Suryandari, mengatakan pengembangan batik perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga batik sebagai bagian dari budaya Indonesia.
“Upaya tersebut kami arahkan untuk bagaimana batik sebagai industri atau sebagai budaya kita itu industrinya bisa tetap tumbuh, mempunyai daya saing, inovasi, dan juga berkelanjutan,” ungkapnya.
Pemerintah juga memberikan sejumlah fasilitasi bagi industri, seperti sertifikasi halal, SNI industri hijau, dan verifikasi gas rumah kaca. Melalui program Batik Go to Government, Kementerian Perindustrian juga mengajak 628 instansi pemerintah di seluruh Indonesia untuk memahami pentingnya mengenal, menggunakan, dan mendukung batik asli Indonesia.
Emi menekankan bahwa batik bukan sekadar kain bermotif, tetapi juga mencakup proses pembuatannya. “Batik ini bukan hanya sekadar kain yang terlihat seperti motif batik, tetapi prosesnya pun juga proses membatik,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat menggunakan batik asli Indonesia sekaligus mendukung keberlangsungan industri batik. “Pelestarian batik membutuhkan gerakan bersama,” katanya.
Menurut Emi, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan batik Indonesia. Ia pun mengajak peserta Simfoni 1001 Pembatik untuk mengenal dan mencintai batik. “Kalau tidak, maka budaya ini tidak akan ada yang melestarikan,” tegasnya.