Pemutaran Film Lobang Buaya di XXI Empire, Senin (21/9/2026). (IDN Times/ Herlambang Jati Kusumo)
Hanung menjelaskan, cerita dalam Film Lobang Buaya bukanlah kisah nyata. Namun, latar belakang sosial-politik yang menjadi pijakan ceritanya merujuk pada konteks sejarah yang pernah terjadi. Dalam film tersebut, terdapat kisah seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan oleh sejumlah pejabat dan tokoh berkuasa di desa. Mereka digambarkan sebagai bagian dari kelompok yang disebut "tujuh setan desa".
"Jadi sebenarnya bukan kisah nyata, tetapi latar belakangnya itu nyata. Kalau teman-teman semuanya melihat, membaca sejarah, tahun 1963 PKI melancarkan sebuah propaganda mengganyang tujuh setan desa," kata Hanung.
Istilah tersebut merujuk pada kelompok yang dalam propaganda saat itu dianggap mengeksploitasi dan menekan masyarakat desa, khususnya petani. Hanung menyebut di antaranya tuan tanah jahat, kapitalis birokrat, rentenir, tengkulak jahat, pengijon, hingga kelompok yang memiliki kekuasaan.
Menurut Hanung, film ini tidak hanya berbicara mengenai kekerasan terhadap seorang perempuan, tetapi juga mengenai bagaimana orang-orang yang seharusnya melindungi masyarakat justru dapat menggunakan kekuasaan untuk melakukan tindakan kriminal. Paling parah, warga desa juga hanya diam melihat ketidakadilan.