Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hanung Bramantyo Buka Diskusi Sejarah 65 Lewat Film Lobang Buaya
Sutradara Film Lobang Buaya, Hanung Bramantyo. (IDN Times/ Herlambang Jati Kusumo)
  • Hanung Bramantyo menghadirkan film horor fiksi Lobang Buaya, berlatar setahun sebelum 30 September 1965, untuk membuka diskusi sejarah Indonesia. Film tayang mulai 1 Oktober 2026.

  • Cerita berpijak pada propaganda PKI 1963 tentang “tujuh setan desa”, menyoroti kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, serta warga yang diam menghadapi ketidakadilan.

  • Hanung memilih horor karena isu 1965 masih sensitif, sekaligus mengajak penonton mengaitkan relasi kuasa masa lalu dengan korporasi, pejabat korup, pinjaman daring, dan perdagangan pertanian saat ini.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times — Sutradara Hanung Bramantyo menghadirkan kembali ruang diskusi mengenai sejarah kelam Indonesia 1965 melalui film terbarunya, Lobang Buaya. Film ini mengambil latar satu tahun sebelum peristiwa 30 September 1965 dan mengemas kisah fiksinya dalam genre horor.

Special screening Lobang Buaya digelar di Empire XXI Yogyakarta, Senin (21/9/2026) malam, dan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai Kamis (1/10/2026).

Hanung mengatakan, film tersebut berangkat dari konteks sejarah mengenai kampanye Partai Komunis Indonesia (PKI) pada sekitar 1963 yang menyebut adanya kelompok yang dikenal sebagai "tujuh setan desa".

1. Berangkat dari kisah Tujuh Setan Desa

Pemutaran Film Lobang Buaya di XXI Empire, Senin (21/9/2026). (IDN Times/ Herlambang Jati Kusumo)

Hanung menjelaskan, cerita dalam Film Lobang Buaya bukanlah kisah nyata. Namun, latar belakang sosial-politik yang menjadi pijakan ceritanya merujuk pada konteks sejarah yang pernah terjadi. Dalam film tersebut, terdapat kisah seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan oleh sejumlah pejabat dan tokoh berkuasa di desa. Mereka digambarkan sebagai bagian dari kelompok yang disebut "tujuh setan desa".

"Jadi sebenarnya bukan kisah nyata, tetapi latar belakangnya itu nyata. Kalau teman-teman semuanya melihat, membaca sejarah, tahun 1963 PKI melancarkan sebuah propaganda mengganyang tujuh setan desa," kata Hanung.

Istilah tersebut merujuk pada kelompok yang dalam propaganda saat itu dianggap mengeksploitasi dan menekan masyarakat desa, khususnya petani. Hanung menyebut di antaranya tuan tanah jahat, kapitalis birokrat, rentenir, tengkulak jahat, pengijon, hingga kelompok yang memiliki kekuasaan.

Menurut Hanung, film ini tidak hanya berbicara mengenai kekerasan terhadap seorang perempuan, tetapi juga mengenai bagaimana orang-orang yang seharusnya melindungi masyarakat justru dapat menggunakan kekuasaan untuk melakukan tindakan kriminal. Paling parah, warga desa juga hanya diam melihat ketidakadilan.

2. Hanung ingin penonton mengaitkan cerita dengan kondisi hari ini

Sutradara Film Lobang Buaya, Hanung Bramantyo. (IDN Times/ Herlambang Jati Kusumo)

Hanung berharap penonton tidak hanya melihat Lobang Buaya sebagai film berlatar masa lalu. Ia ingin istilah "tujuh setan desa" dalam film tersebut dibaca kembali melalui kondisi sosial yang terjadi saat ini.

Ia menilai sejumlah bentuk relasi kuasa yang menjadi persoalan pada era tersebut masih memiliki padanan dalam kehidupan masyarakat sekarang, meski istilah dan bentuknya telah berubah.

"Ternyata setelah 30 September justru yang dibabat adalah PKI. Tujuh setan desanya malah enggak. Tujuh setan desanya masih berkuasa sampai hari ini," ujar Hanung.

Ia kemudian mengaitkan sosok tuan tanah dengan korporasi, kapitalis birokrat dengan pejabat yang korup, serta rentenir dengan praktik pinjaman daring. Sementara tengkulak dan pengepul, menurutnya, masih dapat ditemukan dalam persoalan perdagangan hasil pertanian.

Hanung juga menyoroti masyarakat yang memilih diam ketika melihat ketidakadilan di sekitarnya. "Jadi tujuh setan desa ini ternyata masih ada sekarang," katanya.

3. Genre horor dipilih karena isu 1965 masih sensitif

Sutradara Film Lobang Buaya, Hanung Bramantyo. (IDN Times/ Herlambang Jati Kusumo)

Hanung sengaja memilih genre horor untuk menyampaikan cerita Lobang Buaya. Menurutnya, sejarah 1965 masih menjadi topik yang sensitif di Indonesia sehingga ruang untuk mengangkatnya melalui film drama sejarah dinilai memiliki keterbatasan.

Ia membandingkan situasi tersebut dengan negara yang menurutnya memberikan ruang lebih luas bagi pembuat film untuk mengangkat sejarah dengan berbagai perspektif.  "Di Indonesia peristiwa 65 masih dianggap sensitif. Jadi tidak boleh kemudian diungkapkan sebagaimana di negara kalian, kalian bisa membuat film drama, film sejarah dengan bebas," ujarnya saat berbicara mengenai penayangan film tersebut di Rotterdam.

Menurut Hanung, pendekatan horor justru menjadi cara untuk memancing penonton memikirkan kembali peristiwa yang selama ini dianggap sensitif. Ia juga menyebut film tersebut merupakan upayanya membuka ruang diskusi mengenai sejarah 1965. Hanung menilai pembahasan mengenai peristiwa tersebut saat ini banyak muncul melalui YouTube, tetapi tidak selalu mendapatkan perhatian sebesar konten hiburan.

Hanung mengaku sebelumnya pernah memiliki proyek untuk membuat remake film G30S/PKI. Proyek tersebut bahkan disebut telah memiliki investor dan sponsor, tetapi kemudian dihentikan karena dinilai belum siap untuk diproduksi. Karena itu, ia memilih membuat cerita fiksi dengan latar belakang sejarah 1965 melalui Lobang Buaya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article