Yogyakarta, IDN Times – Film Laut Bercerita garapan sutradara Yosep Anggi Noen tidak hanya mengangkat kisah penghilangan paksa aktivis pada masa Orde Baru. Diadaptasi novel best seller karya Leila S. Chudori, film persembahan Pal 8 Pictures ini juga menyoroti trauma keluarga yang ditinggalkan, perjuangan keluarga korban, serta harapan untuk mewujudkan Indonesia lebih baik.
Yosep Anggi Noen mengatakan proses penggarapan film ini tidak hanya bertumpu pada novel. Ia juga membaca berbagai laporan jurnalistik, serta dokumen dan buku yang membahas gerakan politik pada masa tersebut. Namun Anggi tidak ingin menjadikan adegan kekerasan sebagai pusat perhatian dalam filmnya. Ia memilih menyoroti dampak yang dirasakan para korban dan keluarga mereka.
“Yang ingin saya tunjukkan itu sebenarnya adalah efek dari itu. Traumatik momennya pasca kekerasan itu kuat sekali. Plus sebenarnya juga membayangkan keluarga yang membayangkan kekerasan. Itu mengerikan sekali sebagai sebuah keluarga,” ujar Anggi, saat konferensi pers di Yogyakarta, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada keluarga korban dan para penyintas. Ia ingin penonton memahami bagaimana mereka bertahan, menjaga harapan, dan terus memperjuangkan keadilan di tengah ketidakpastian. "Jadi menurut saya fokus kita itu jujur ke bagaimana resiliensi orang. Resiliensi keluarga. Keputusan untuk tetap berharap," ucap Anggi.
