2 Jemaah Haji Asal Bantul Meninggal Dunia di Tanah Suci

- Dua jemaah haji asal Bantul meninggal dunia di tanah suci
- Jumiyo 80 tahun dan Nur Hasin 84 tahun wafat setelah menyelesaikan ibadah haji, dimakamkan di Arab Saudi
- Pemerintah memaksimalkan perlindungan terutama bagi jemaah lansia, dengan program "Haji Ramah Lansia" dan pendampingan intensif
- Ada 300an jemaah haji lansia dari Bantul yang mendapatkan pendampingan intensif dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH)
Bantul, IDN Times - Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bantul mencatat dua jemaah haji meninggal dunia di tanah suci. Keduanya wafat setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji.
1. Jemaah haji yang meninggal dunia dari Kapanewon Bambanglipuro dan Sewon

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bantul, Ahmad Shidqi mengatakan, kedua jemaah haji yang meninggal dunia yakni Jumiyo 80 tahun dari Kloter 71, warga Sumbermulyo, Bambanglipuro, wafat pada Jumat dini hari, dan Nur Hasin 84 tahun dari Kloter 64, warga Krapyak, Panggungharjo, Sewon. Meninggal di hari yang sama saat siang hari.
"Penyebab meninggalnya dua jemaah haji karena faktor kelelahan usai menyelesaikan seluruh tahapan ibadah haji. Bapak Nur Hasin meninggal di rumah sakit setelah mengalami kelelahan. Sementara Bapak Jumiyo wafat di kamar hotel tidak lama setelah kembali dari Mina, usai menyelesaikan ritual utama haji," katanya, Senin (16/6/2025).
Sedangkan untuk proses pemakaman kedua jemaah haji dilakukan di Arab Saudi. “Informasi yang kami terima, kedua jemaah dimakamkan di pemakaman Syaraya, Mekah, sesuai prosedur yang berlaku bagi jemaah wafat di sana,” terangnya.
2. Maksimalkan perlindungan kepada jemaah usia lanjut

Pemerintah, kata Ahmad Shidqi telah memaksimalkan upaya perlindungan terutama terhadap jemaah lansia. Sejak 2023, program “Haji Ramah Lansia” digalakkan Kemenag dengan menyediakan perlakuan khusus.
“Lansia dan jemaah risiko tinggi diberikan kemudahan, seperti mekanisme murur di mana mereka cukup singgah sejenak di Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan, lalu langsung diberangkatkan ke Mina,” paparnya.
3. Ada 300an jemaah haji lansia dari Bantul

Ahmad Shidqi menjelaskan, terdapat 300an jemaah haji lansia dari Bantul yang mendapatkan pendampingan intensif dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Setiap kloter didampingi satu dokter dan sejumlah paramedis yang rutin melakukan visitasi ke kamar hotel.
“Kalau ada yang sakit dan tak bisa ditangani di sektor, akan dirujuk ke Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) atau bahkan rumah sakit di Saudi. Pemerintah sudah berusaha maksimal,” ujarnya.