Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Dekan UGM Ingatkan Soal Food Waste Program Makan Bergizi Gratis

Ilustrasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).  (IDN Times/Triyan)
Ilustrasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). (IDN Times/Triyan)
Intinya sih...
  • Program Makan Bergizi Gratis perlu dikaji lebih dalam agar tidak menimbulkan food waste
  • Pentingnya standarisasi nasional dalam penentuan menu, kandungan gizi bahan baku, dan pengolahan pangan
  • Kolaborasi dengan berbagai pihak dan edukasi bagi petugas dapur sangat diperlukan untuk keberhasilan program ini
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times - Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Eni Harmayani, menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh pemerintah perlu dikaji lebih dalam agar tidak menimbulkan food waste. Food waste sendiri bisa diartikan sebagai sisa makanan masih layak konsumsi yang terbuang sebagai sampah.

Eni turut menekankan pentingnya mengkaji soal menu makanan dan cara pengolahan yang tepat agar gizi di dalam makanannya tetap terjaga.

1. Standarisasi nasional antisipasi food waste

ilustrasi sampah makanan (pixabay.com/nick_the_photographer)
ilustrasi sampah makanan (pixabay.com/nick_the_photographer)

Berkaca dari dua pekan pelaksanaan MBG dan persoalannya, Eni menyarankan perlunya program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini untuk dikaji lebih dalam mengenai jenis menu makanan dan cara pengolahan agar tidak terjadi food waste. 

"Setiap daerah memiliki budaya atau kebiasaan tersendiri dalam mengolah pangan sehingga penting untuk diadakan standarisasi nasional dalam penentuan menu, kandungan gizi bahan baku, dan pengolahan pangan tersebut agar kandungan gizinya tetap terjaga," kata Eni.

2. MBG baiknya libatkan orang tua siswa

Uji coba program makan gratis (IDN Times/Larasati Rey)
Uji coba program makan gratis (IDN Times/Larasati Rey)

Soal makanan yang tidak sesuai dengan selera anak hingga tak termakan atau terbuang, Eni menyebut dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak agar masalah ini menemukan solusi.

"Program ini perlu adanya indikator keberhasilan yang melibatkan sekolah karena lingkupnya yang kecil sehingga proses pemantauan pun lebih terjaga dan bisa melibatkan orang tua yang lebih mengerti anaknya," katanya.

Selain orang tua, Eni juga mengatakan indikator keberhasilan dan standarisasi nasional juga perlu berkolaborasi dengan pihak sekolah, ahli pangan, ahli gizi, dan pemerintah setempat.

3. Petugas dapur juga harus teredukasi

Ilustrasi penyaluran Makan Bergizi Gratis (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Ilustrasi penyaluran Makan Bergizi Gratis (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Eni mengingatkan, keberhasilan pelaksanaan MBG ini mestinya tak lepas dari pemahaman tentang bagaimana menyiapkan makanan bergizi untuk para petugas dapur.

Oleh karenanya, Eni menilai dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dikelola secara profesional demi memastikan proses menyiapkan makanan hingga aspek kebersihan dapur terjaga dengan baik.

"Perlu adanya edukasi tentang bagaimana cara menyiapkan makanan yang sehat dan bergizi," pungkasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us