Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
GIK Education Festival 2026, di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Rabu (4/11/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • GIK Education Festival 2026 di UGM menghadirkan lebih dari 80 institusi dari 21 negara dan menyediakan lebih dari 1.000 beasiswa pendidikan tinggi Eropa.

  • Delegasi Uni Eropa menilai kerja sama pendidikan penting menghadapi perkembangan teknologi dan AI; pada 2025, lebih dari 6.000 mahasiswa, peneliti, dan akademisi Indonesia belajar di Eropa.

  • UGM dan Pemda DIY mendorong akses informasi beasiswa serta kolaborasi internasional; festival gratis ini juga menawarkan diskusi magister dan sesi pengenalan universitas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times – Ribuan generasi muda dan mahasiswa memadati Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (4/11/2026). Mereka berburu informasi peluang studi ke luar negeri melalui ajang GIK Education Festival 2026 yang menawarkan lebih dari 1.000 beasiswa pendidikan tinggi dari negara-negara anggota Uni Eropa.

Pameran pendidikan internasional ini menghadirkan lebih dari 80 institusi pendidikan dari 21 negara. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–18.00 WIB tersebut menjadi kesempatan bagi pelajar dan mahasiswa untuk mengenal berbagai pilihan perguruan tinggi, program studi, hingga peluang beasiswa di luar negeri.

GIK Education Festival 2026 menggabungkan dua agenda besar, yakni Global EduFair (GEF) 2026 dan European Higher Education Fair (EHEF) Indonesia 2026. Penyelenggaraan EHEF di Yogyakarta tahun ini menjadi yang ketujuh kalinya.

1. Eropa tawarkan lebih dari 1.000 beasiswa

GIK Education Festival 2026, di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Rabu (4/11/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Kuasa Usaha Ad Interim Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Marco Bonetti, mengatakan penguatan kerja sama pendidikan antara Eropa dan Indonesia menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, serta mencari solusi atas berbagai tantangan yang terus berkembang.

"Kita hidup di era perubahan besar. Teknologi berkembang sangat cepat, kecerdasan buatan, teknologi-teknologi mutakhir. Sulit untuk memprediksi secara pasti di mana kita akan berada nanti. Namun, yang ingin kita capai adalah agar anak-anak muda belajar bagaimana menghadapi perubahan, mengajukan pertanyaan, dan menemukan jawaban yang tepat," ujar Marco.

Ia menyebut, salah satu daya tarik utama EHEF 2026 adalah tersedianya lebih dari 1.000 beasiswa dari negara-negara anggota Uni Eropa. Peluang tersebut diharapkan semakin membuka akses mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di Eropa.

Marco mengungkapkan, pada 2025 tercatat lebih dari 6.000 mahasiswa, peneliti, dan akademisi Indonesia berada di Eropa untuk menempuh pendidikan maupun mengembangkan pengetahuan. "Angka ini cukup signifikan, tetapi kami menginginkan lebih. Kami menilai Indonesia adalah negara yang sangat besar dengan potensi luar biasa serta dipenuhi anak-anak muda yang cerdas. Kami ingin mereka datang ke Eropa untuk berbagi pengetahuan dan belajar bersama kami," katanya.

2. UGM dorong kolaborasi internasional untuk memperkuat modal sosial

GIK Education Festival 2026, di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Rabu (4/11/2026). (Dok. Istimewa)

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Wening Udasmoro, menilai pameran pendidikan internasional ini memiliki peran penting dalam memperluas kesempatan generasi muda mendapatkan pendidikan berkualitas. Menurutnya, pendidikan tinggi luar negeri tidak seharusnya hanya bisa diakses kelompok masyarakat tertentu. Karena itu, informasi mengenai peluang studi dan beasiswa perlu semakin mudah dijangkau.

"Acara ini penting untuk meningkatkan modal sosial (social capital) kita. Kita tahu bahwa pendidikan sebetulnya merupakan hal yang biasa bagi sebagian orang, tetapi bisa menjadi sebuah kemewahan (luxury) bagi yang lain," kata Wening.

Ia menilai, kehadiran puluhan institusi pendidikan internasional dapat membuka jalan bagi calon mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas dan memperluas perspektif. Wening juga mendorong institusi pendidikan di Indonesia agar tidak hanya menjalankan kegiatan pembelajaran secara rutin, tetapi mulai memperkuat kolaborasi internasional.

"Yang penting sekali adalah bahwa kita enggak cuma dalam posisi sekarang ngajar business as usual, tapi bagaimana betul-betul meningkatkan semaksimal mungkin. Kolaborasi internasional itu menjadi hal yang sangat penting bagi semua institusi pendidikan, tidak hanya perguruan tinggi. Saya kira SMA-SMA harus mulai juga untuk kolaborasi internasional," tuturnya.

Ia menambahkan, Yogyakarta memiliki ekosistem pendidikan yang kuat dengan keberadaan lebih dari 200 perguruan tinggi. Kondisi tersebut menjadi potensi untuk memperluas jejaring pendidikan internasional.

3. Pemda DIY sebut kesempatan studi ke Eropa sebagai golden opportunity

GIK Education Festival 2026, di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Rabu (4/11/2026). (Dok. Istimewa)

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY, Gofar Ismail, menyambut baik penyelenggaraan GIK Education Festival 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan posisi Yogyakarta sebagai Kota Pelajar. Ia menyebut, kesempatan bertemu langsung dengan perwakilan perguruan tinggi Eropa dapat membantu generasi muda memperoleh informasi sekaligus memperluas wawasan mengenai pendidikan global.

"Inisiatif ini merupakan inisiatif yang sangat bagus untuk Yogyakarta sebagai kota pelajar, kota pendidikan. Yogyakarta tentu saja sangat menyambut baik inisiatif untuk kerja sama dalam bidang pendidikan," ujar Gofar.

Gofar menegaskan kesempatan tersebut merupakan peluang berharga yang perlu dimanfaatkan generasi muda, bukan sekadar untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga mendapatkan pengalaman dan perspektif baru. "Ini merupakan golden opportunity bagi generasi muda di Yogyakarta dan sekitarnya. Ini bukan hanya bisa membuka wawasan, mendapatkan gelar saja, tetapi juga bisa membuka cakrawala yang lebih luas bagi generasi muda," katanya.

Ia menjelaskan, Pemda DIY selama ini telah menjalin sejumlah kerja sama sister province dengan daerah di luar negeri. Namun, untuk kawasan Eropa, kerja sama yang berjalan masih banyak didominasi sektor kebudayaan. Karena itu, keberadaan 27 negara anggota Uni Eropa diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk menjajaki peluang pendidikan dan kerja sama yang lebih luas.

Direktur Utama GIK UGM, Alfatika Aunuriella Dini, mengatakan festival pendidikan ini diselenggarakan untuk mendekatkan akses informasi beasiswa dan jejaring internasional kepada masyarakat.

Seluruh rangkaian kegiatan dapat diikuti secara gratis. Pada penyelenggaraan sebelumnya, acara serupa berhasil menarik sekitar 6.000 pengunjung. Sementara tahun ini, panitia menargetkan 4.000 hingga 5.000 pengunjung di Yogyakarta. Sejumlah institusi pendidikan Eropa yang hadir berasal dari Prancis, Belanda, Swedia, Finlandia, Jerman, Austria, Belgia, Irlandia, Italia, Polandia, Rumania, Spanyol, dan Hungaria.

Selain pameran pendidikan, pengunjung juga dapat mengikuti diskusi panel mengenai tren penerimaan mahasiswa program magister (master) di luar negeri serta sesi University Spotlight untuk mengenal lebih jauh institusi pendidikan yang berpartisipasi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article