Ki Hajar Dewantara (commons.wikimedia.org)
Dalam jurnal karya Heronimus Heron berjudul "Tugu Ngejaman: Penanda Kuasa dan Pengingat Waktu di Yogyakarta" yang dimuat dalam Retorik Vol.10 (1) (2022: 16), sejarah adanya Tugu Ngejaman berawal dari takluknya Belanda dari Prancis pada Januari 1795, di mana salah satu konsekuensinya adalah tunduknya Jawa di tahun 1808-1811. Namun saat tahun 1814, Prancis kalah dalam perang melawan Rusia sehingga Belanda dapat bernegosiasi dengan Inggris pada tahun 1816 mengenai wilayah jajahannya dan menghasilkan kesepakatan bahwa Belanda menguasai Jawa dan Inggris mendapatkan Malaka.
Seratus tahun berselang, Belanda ingin merayakan secara besar-besaran atas satu abad kembalinya Jawa pada pangkuan mereka. Perayaan ini menggunakan uang pajak yang caranya dikumpulkan dari sumbangan rakyat hingga mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk Ki Hadjar Dewantara.
Ki Hadjar Dewantara mengkritik keinginan Belanda di surat kabar De Expres milik Indische Partij pada edisi 13 Juli 1913 dengan tulisan yang berjudul 'Als ik eens Nederlander was' atau yang artinya 'Seandainya Aku Seorang Belanda'. Dalam tulisan tersebut Ki Hadjar Dewantara menyatakan, "Sungguh seandainya saya ini orang Belanda, maka saya tak akan pernah mau merayakan pesta peringatan seperti itu di sini, di suatu negeri yang kita jajah. Berikan dulu rakyat yang tertindas itu kemerdekaan, baru sesudah itu kita memperingati kemerdekaan kita sendiri”.
Dianggap sebagai ancaman, Ki Hadjar Dewantara lantas dibuang oleh pemerintah kolonial ke Belanda pada tanggal 18 Agustus 1913. Setelahnya, Belanda lantas melanjutkan kembali rencana perayaan mereka dengan memungut pajak dari rakyat serta dirayakan di kota-kota di Jawa termasuk di Bandung pada tahun 1913.
Sedangkan di Yogyakarta sendiri, Belanda membangun sebuah tugu atau stadsklok di Jalan Malioboro atau pada saat itu dibangun di depan rumah kediaman Kepala Residen Cornelis Canne. Selain sebagai tanda peringatan satu abad kedudukan Belanda di Jawa, juga sebagai penanda berakhirnya kekuasaan dan hilangnya bayang-bayang Inggris terhadap Belanda.