Jejak Sejarah Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Tertua di Yogyakarta

- Masjid Gedhe Mataram Kotagede dibangun pada akhir abad ke-16 oleh Ki Ageng Pamanahan dan Panembahan Senopati sebagai pusat awal Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta.
- Kompleks masjid ini mengusung konsep masjid-makam, menjadi tempat peristirahatan keluarga besar raja-raja Mataram seperti Ki Ageng Pamanahan, Panembahan Senopati, dan Sultan Hamengku Buwono II.
- Arsitekturnya mencerminkan akulturasi budaya Islam, Jawa, Hindu, dan Cina melalui bentuk gapura mirip candi, tata ruang kerajaan Jawa, serta atap tajug bersusun tiga menyerupai pagoda.
Saat mendengar nama Kotagede, banyak orang langsung teringat pada sentra kerajinan peraknya yang terkenal. Padahal, kawasan yang berada di wilayah selatan Yogyakarta ini juga menyimpan jejak sejarah penting dari masa Kerajaan Mataram Islam.
Salah satu peninggalan bersejarah yang masih berdiri hingga kini adalah Masjid Gedhe Mataram atau Masjid Agung Kotagede. Masjid yang dibangun pada akhir abad ke-16 ini dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Yogyakarta sekaligus saksi perkembangan awal Kerajaan Mataram Islam.
1. Dibangun pada masa pemerintahan Ki Ageng Pamanahan

Asal muasal kisah Masjid Gedhe Mataram terjadi ketika Ki Ageng Pamanahan membuka alas atau hutan Mentaok yang terletak di Kotagede. Ia berniat membangun pemukiman yang kelak berfungsi sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Masjid Agung Kotagede pun didirikan dan selesai dibuat tahun 1589 atau pada akhir abad ke-16.
Apriyanto dalam skripsi berjudul "Akulturasi Budaya dalam Arsitektur Masjid Gedhe Mataram Kotagede" (2015) menjelaskan struktur bangunan masjid pada mulanya masih berupa langgar. Baru ketika anak Ki Ageng Pamanahan, Panembahan Senopati, bertakhta, surau tersebut dipindahkan dan lokasi di mana langgar itu berada dibangun masjid yang kemudian menjadi cikal bakal Masjid Agung Kotagede.
2. Berdiri berdasarkan konsep masjid-makam

Bangunan Masjid Gedhe Mataram dibagi menjadi beberapa bagian, yakni halaman, pagar keliling, masjid, dan makam. Makam yang terdapat di Masjid Agung Kotagede hanyalah diperuntukkan bagi keluarga besar trah raja-raja Mataram Islam.
Ada juga tempat peristirahatan terakhir yang terletak di belakang masjid. Tempat tokoh penting kerajaan seperti Ki Ageng Pamanahan dan Panembahan Senopati disemayamkan. Selain itu, ada pula makam Sultan Hamengku Buwono II, serta Panembahan Seda Krapyak yang merupakan ayah raja terakhir Mataram Islam, Sultan Agung.
3. Bentuk akulturasi dengan budaya lain

Meski menjadi tempat ibadah bagi umat muslim, Masjid Agung Kotagede merupakan peninggalan sejarah akulturasi budaya yang berlangsung saat Kerajaan Mataram Islam. Beberapa budaya antara lain Islam, Jawa, Hindu, dan Cina bisa ditemukan jejaknya pada tata bangunan masjid berusia ratusan tahun tersebut.
Peneliti dari Universitas Diponegoro dalam jurnal “Akulturasi Budaya pada Bangunan Masjid Gedhe Mataram Yogyakarta” (2017) mengatakan pengaruh budaya Hindu terlihat kental pada bagian luar kompleks Masjid Gedhe Mataram. Pengunjung akan melihat gerbang masjid berbentuk gapura layaknya yang ada pada candi. Dinding pagar yang mengelilingi masjid, di sisi lain, juga berhiaskan relief candi.
Selain itu, terdapat juga tempat pemandian yang dilengkapi dengan gapura di dalam kompleks masjid. Dinding makam keluarga besar trah raja-raja pun berhiaskan ornamen seperti di candi.
4. Mengadopsi budaya Jawa dan Islam

Di samping budaya Hindu, Masjid Gedhe Mataram juga menyerap budaya Jawa dan Islam. Bangunan yang bercirikan budaya Jawa dalam hal ini adalah pacaosan yang biasanya digunakan sebagai ruang tunggu ketika ada kegiatan di masjid. Dalam tata ruang Jawa, pacaosan merupakan tempat seseorang menunggu jika ingin masuk ke ruang raja. Selain itu, tata ruang di luar Masjid Agung Kotagede pun menyerupai pola kerajaan Islam Jawa di mana ada halaman yang menyerupai alun-alun lengkap dengan pohon beringin.
5. Atap yang mirip pagoda Cina

Terakhir, unsur budaya Cina seperti atap berbentuk tajug bersusun tiga yang menyerupai pagoda, pembuatan fondasi dari batu alam, dan penggunaan dinding batu bata tampak pada Masjid Agung Kotagede. Pengaruh ini tidak terlepas dari sejarah orang Cina yang datang ke Nusantara untuk berdagang dan kejayaan Kerajaan Mataram Islam. Oleh karena Kerajaan Mataram Islam mengalahkan banyak kerajaan di pesisir yang menjadi tempat tinggal orang Cina, teknologi membangun masjid pun juga diterapkan saat mendirikan Masjid Agung Kotagede.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, Masjid Agung Kotagede menyimpan jejak panjang sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Arsitekturnya yang memadukan unsur Jawa, Islam, Hindu, hingga Cina menjadi bukti bagaimana budaya saling bertemu dan membentuk identitas Yogyakarta hingga hari ini.
Jika berkunjung ke Kotagede, masjid ini bisa jadi destinasi wisata sejarah yang menarik untuk disinggahi. Dari bangunan hingga kompleks makamnya, setiap sudut Masjid Gedhe Mataram menyimpan cerita tentang masa lalu yang masih terjaga sampai sekarang.

















![[QUIZ] Pilih Olahraga Favoritmu, Kami Tahu Tempat Healing di Jogja buat Akhir Pekan](https://image.idntimes.com/post/20250706/fuu-j-r2njpbeyusq-unsplash_2485ef76-bbda-4393-8d3f-f03fd7479c78.jpg)