ilustrasi Malioboro (unsplash.com/Farhan Abas)
Teori yang paling umum menyatakan bahwa nama Malioboro berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu malyabhara, yang berarti "karangan bunga" atau "dihiasi dengan karangan bunga". Konon, pada masa lalu, saat Kesultanan Yogyakarta mengadakan acara besar atau penyambutan tamu kerajaan, jalan ini akan dipenuhi dengan taburan atau hiasan bunga yang memperindah suasana.
Selain versi Sanskerta, ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan tokoh kolonial Inggris, yakni John Churchill, Adipati Marlborough Pertama. Sebagian orang sempat menduga nama jalan ini diambil dari sang jenderal yang namanya diabadikan di Yogyakarta pada periode 1811–1816 M. Namun, teori ini dibantah oleh sejarawan terkemuka seperti Peter Carey. Menurutnya, jalan ini sudah ada dan digunakan untuk keperluan seremonial Kesultanan Yogyakarta jauh sebelum kedatangan maupun kekuasaan Inggris di tanah Jawa.
Menariknya lagi, penamaan ini juga memiliki interpretasi dari sudut pandang bahasa Jawa. Sebagian kalangan mengaitkannya dengan gabungan kata maliyo (menjadi wali) dan oboro (mengembara), atau frasa malih oboro yang bermakna menjadi pelita atau cahaya di sepanjang jalan hidup yang menghubungkan Keraton dengan Tugu Yogyakarta.
Tidak berhenti di situ, pada abad ke-19 hingga ke-20, jalan penuh sejarah ini sempat dikenal dengan sebutan Margorojo—berasal dari kata margo yang berarti jalan dan rojo yang berarti raja. Penamaan tersebut diberikan karena kawasan ini dulunya merupakan jalur utama yang sakral bagi prosesi sang raja.