Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi Malioboro (unsplash.com/Agto Nugroho)
  • Nama Malioboro memiliki beberapa versi asal-usul, termasuk Sanskerta malyabhara, kaitan bahasa Jawa, dan sebutan Margorojo sebagai jalur sakral raja.

  • Jalan Malioboro telah ada sebelum Keraton Yogyakarta, diresmikan pada 1755, serta menjadi bagian Sumbu Filosofis UNESCO dan garis imajiner utara-selatan.

  • Malioboro pernah menjadi jalur gerilya pada Serangan Umum 1 Maret 1949 dan pusat komunitas sastra-seni sejak 1960-an yang kini dihidupkan lewat berbagai kegiatan kreatif.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berbicara tentang Kota Yogyakarta tentu tidak bisa dilepaskan dari Jalan Malioboro. Sebagai salah satu destinasi paling ikonik di Indonesia, kawasan ini selalu dipadati oleh wisatawan yang ingin menikmati suasana belanja, berburu kuliner, hingga menikmati alunan musik jalanan.

Di balik keramaian para pelancong dan pedagang kaki lima, kawasan ini ternyata menyimpan berbagai cerita sejarah serta fakta unik yang jarang disadari banyak orang. Berikut adalah beberapa fakta menarik Malioboro Jogja yang wajib kamu ketahui. Simak sampai habis, ya!

1. Asal-usul nama Malioboro

ilustrasi Malioboro (unsplash.com/Farhan Abas)

Teori yang paling umum menyatakan bahwa nama Malioboro berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu malyabhara, yang berarti "karangan bunga" atau "dihiasi dengan karangan bunga". Konon, pada masa lalu, saat Kesultanan Yogyakarta mengadakan acara besar atau penyambutan tamu kerajaan, jalan ini akan dipenuhi dengan taburan atau hiasan bunga yang memperindah suasana.

Selain versi Sanskerta, ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan tokoh kolonial Inggris, yakni John Churchill, Adipati Marlborough Pertama. Sebagian orang sempat menduga nama jalan ini diambil dari sang jenderal yang namanya diabadikan di Yogyakarta pada periode 1811–1816 M. Namun, teori ini dibantah oleh sejarawan terkemuka seperti Peter Carey. Menurutnya, jalan ini sudah ada dan digunakan untuk keperluan seremonial Kesultanan Yogyakarta jauh sebelum kedatangan maupun kekuasaan Inggris di tanah Jawa.

Menariknya lagi, penamaan ini juga memiliki interpretasi dari sudut pandang bahasa Jawa. Sebagian kalangan mengaitkannya dengan gabungan kata maliyo (menjadi wali) dan oboro (mengembara), atau frasa malih oboro yang bermakna menjadi pelita atau cahaya di sepanjang jalan hidup yang menghubungkan Keraton dengan Tugu Yogyakarta.

Tidak berhenti di situ, pada abad ke-19 hingga ke-20, jalan penuh sejarah ini sempat dikenal dengan sebutan Margorojo—berasal dari kata margo yang berarti jalan dan rojo yang berarti raja. Penamaan tersebut diberikan karena kawasan ini dulunya merupakan jalur utama yang sakral bagi prosesi sang raja.

2. Usianya lebih tua dari Keraton Jogjakarta

ilustrasi Malioboro (unsplash.com/muhammad arief)

Keberadaan Jalan Malioboro ternyata sudah ada jauh sebelum berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada masa lampau, jalur ini berfungsi sebagai jalan penghubung menuju Pesanggrahan Gerjitawati atau Ayogya yang kini menjadi lokasi berdirinya Keraton Yogyakarta.

Selain itu, jalur ini juga kerap dilalui oleh rombongan Kerajaan Mataram Islam dari Kartasura. Secara resmi, usia Jalan Malioboro telah mencapai 271 tahun, di mana jalan ikonik ini mulai dibangun dan diresmikan pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai jalan protokol dan bagian penting dari Sumbu Filosofis Yogyakarta yang kini telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

3. Bagian dari garis lurus imajiner yang sakral

ilustrasi Malioboro (unsplash.com/Farhan Abas)

Kawasan Malioboro merupakan poros utama dari garis imajiner utara-selatan yang melambangkan siklus kehidupan manusia (Sangkan Paraning Dumadi). Poros sakral ini merefleksikan keseimbangan antara alam, manusia, dan spiritualitas.

Jalur ini menghubungkan sejumlah titik penting secara berurutan. Dari sisi utara terdapat Gunung Merapi sebagai simbol kekuatan alam dan Sang Pencipta, yang kemudian mengarah ke Tugu Yogyakarta sebagai lambang persatuan antara penguasa dan rakyat. Setelah melewati Malioboro yang berfungsi sebagai jalur prosesi serta pusat sosial-ekonomi menuju Keraton Yogyakarta, poros ini terus berlanjut ke selatan melewati Panggung Krapyak hingga bermuara di Pantai Parangkusumo atau Parangtritis yang menyimbolkan asal-usul kehidupan.

4. Pernah menjadi markas pejuang dan jalur gerilya

ilustrasi kawasan Malioboro (unsplash.com/Farhan Abas)

Jalan Malioboro menyimpan sejarah perjuangan bangsa sebagai medan pertempuran sengit saat Agresi Militer Belanda dan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Lorong-lorong dan tata kota di sepanjang Malioboro dimanfaatkan para pejuang sebagai labirin gerilya untuk menyusup dan merebut pusat kota dari pendudukan kolonial selama 6 jam penuh.

Bangunan-bangunan vital di kawasan ini, seperti Benteng Vredeburg dan Gedung Agung, juga menjadi target utama sabotase dan pengepungan untuk memutus rantai komunikasi militer musuh. Kini, jejak kepahlawanan tersebut diabadikan melalui Monumen Serangan Umum 1 Maret di Titik Nol Kilometer, ujung selatan Malioboro.

5. Pusat komunitas seni dan sastra

ilustrasi kawasan Malioboro (unsplash.com/Budi Puspa Wijaya)

Pada dekade 1960-an, kawasan Malioboro sempat menjelma menjadi kawah candradimuka serta pusat komunitas sastra dan seniman terkemuka di tanah air. Sudut-sudut jalan ini menjadi ruang pergaulan kreatif bagi para tokoh legendaris seperti Umbu Landu Paranggi yang memelopori Persada Studi Klub (PSK), Emha Ainun Nadjib, Ebiet G. Ade, hingga Kirdjomuljo, untuk melahirkan karya puisi, cerpen, dan pertunjukan seni, yang kemudian melahirkan istilah "Sastrawan Malioboro" oleh pakar sastra Farida Soemargono.

Kini, aktivitas tersebut dihidupkan kembali melalui berbagai inisiatif , seperti pentas rutin Selasa Wagen di Teras Malioboro, ruang kreatif Oase Malioboro, gerakan literasi Malioboro Writers, serta peran Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sebagai laboratorium seni para generasi penerus.

Itulah 5 fakta unik tentang Malioboro yang kamu perlu ketahui sebelum datang berkunjung. Menurut kamu fakta mana yang paling menarik?

Curated For You

Editorial Team

Related Article