Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anak-anak ikuti lomba Dakon Bupati Bantul Cup 2019 di Pyramid Cafe, Sabtu (16/11). IDN Times/Daruwaskita
Anak-anak ikuti lomba Dakon Bupati Bantul Cup 2019 di Pyramid Cafe, Sabtu (16/11). IDN Times/Daruwaskita

Sejumlah permainan tradisional yang dulu marak dimainkan anak-anak di jogja kini mulai ditinggalkan. Penyebabnya beragam, mulai dari daya tarik perangkat digital hingga terbatasnya area terbuka yang memadai untuk bermain. Padahal, permainan tradisonal ini seru dan meriah.

Berikut sejumlah permainan tradisional yang pernah menjadi primadona anak-anak di Jogja.

1. Jamuran

ilustrasi memainkan permainan tradisional (unsplash.com/Aniq Danial)

Dolanan jamuran biasanya dimainkan oleh tujuh sampai sembilan orang. Permainan dengan gerak dan lagu ini seru untuk dimainkan bersama teman-teman sebaya, ini lirik lagunya:

Jamuran

Jamuran ya gégé thok

Jamur apa ya gégé thok

Jamur gajih mbejijih sa ara-ara

Sira mbadhé jamur apa

Jamuran dimainkan di luar ruangan baik saat sore atau malam hari kala bulan purnama. Tak hanya anak laki-laki, perempuan juga bermain kadang dilakukan berbarengan.. Cara bermainnya, ada satu anak yang menjadi pancer atau pusat yang berada di tengah lingkaran, sedangkan anak lainnya saling bergandengan membentuk lingkaran.

2. Bola bekel

Dolanan bekel sering dimainkan saat istirahat sekolah, atau sore hari sebelum mandi. Permainan ini tidak perlu tempat yang luas karena bisa dimainkan sambil duduk.  Jumlah anak yang ikut bermain mulai dua sampai lima anak yang dilakukan secara bergantian. 

Untuk memainkannya perlu bola karet yang disebut bekel, dan biji bekel yang dulu terbuat dari kuningan yang masing-masing sisinya memiliki tanda berbeda. Cara mainnya sederhana, yakni bola dilempar dan pemain berusaha membalikan biji bekel. 

3. Cublak-cublak suweng

Ilustrasi permainan cublak-cublak suweng (javanologi.uns.ac.id)

Siapa tak tahu cublak-cublak suweng? Permainan tradisional ini cukup populer.  Biasanya anak perempuan dan laki-laki bermain bersama. 

Cublak-cublak suweng dimainkan oleh empat sampai lima orang. Satu orang harus terlungkap, lalu pemain lainnya akan meletakkan telapak tangan, menggilir batu sambil bernyanyi. 

4. Egrang

KPOTI lakukan keseruan dengan 11 permainan tradisional di Lapangan Merdeka Kota Medan (Dok. Istimewa)

Egrang adalah permainan yang mengajarkan keseimbangan dengan memakai dua buah tongkat panjang. Bagian bawahnya dipasang penyangga telapak kaki lalu sebagai tempat untuk naik.

Tak hanya keseimbangan, pemain yang menggunakan kayu atau bambu ini, harus konsentrasi. 

5. Dhakon

Anak-anak ikuti lomba Dakon Bupati Bantul Cup 2019 di komplek Pyramid Cafe, Sabtu (16/11). IDN Times/Daruwaskita

Dhakon atau juga disebut congklak, sebenarnya gak hanya ramai di Jogja saja. Permainan ini dimainkan oleh dua orang menggunakan papan yang dua sisinya terdapat lubang untuk diisi biji-bijian atau batu. 

Secara bergiliran, para pemain mengisi lubang tersebut dengan biji dengan searah jarum jam. Bagaimana menentukan pemenangnya? Mudah saja, yakni ia yang memiliki jumlah biji paling banyak.

Beberapa komunitas bermain di Jogja, secara rutin menggelar acara yang menampilkan permainan tradisional. Acara ini didorong untuk mengajak masyarakat bermain kembali, dan yang lebih penting, mencegah punahnya berbagai jenis permainan tradisional ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team