Comscore Tracker

Mahasiswa UNY Buat Kendali pH Otomatis untuk Limbah Tahu

Pabrik tahu berskala besar masih mengontrol pH secara manual

Sleman, IDN Times - Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang terdiri dari Muhammad Ikhsan Ardi Hansyah, Hilal Fahruh Hamam, Ersa Ivadany, Fitria Alsya Yasmin dan Chayyu Zalena Hawie membuat alat kendali pH otomatis untuk pengolahan limbah pabrik tahu.

Alat ini sendiri diciptakan karena masih banyak dijumpai pabrik tahu skala besar yang melakukan pengontrolan pH secara manual saat pengolahan limbah cair. Jika limbah tersebut tidak terkontrol dengan baik, maka dapat merusak lingkungan.

Baca Juga: Mahasiswa UNY Rancang Sky Trem, Transportasi Umum Ramah Lingkungan 

1. Limbah tahu cair harus dikelola dengan baik

Mahasiswa UNY Buat Kendali pH Otomatis untuk Limbah TahuAlat kendali pH otomatis pada pabrik tahu besutan mahasiswa UNY. Dok: istimewa

Ikhsan menjelaskan, limbah tahu merupakan hasil sisa dari pengolahan kedelai menjadi produk makanan berupa tahu. Pada umumnya limbah tersebut terbagi menjadi dua jenis, yakni padat dan cair. Untuk limbah padat berupa ampas tahu dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Sedangkan limbah cair didapatkan dari buangan sisa-sisa proses perendaman, pencucian, penggilingan, perebusan, dan penyaringan.

"Limbah ini jika tidak diolah dengan baik sebelum pembuangan dapat merusak lingkungan alam sekitarnya karena cairan ini mengandung kadar protein yang cukup tinggi dan apabila tidak diproses terlebih dahulu maka akan menimbulkan bau busuk. Jika nantinya limbah ini dibuang ke sungai maka akan membuat pencemaran lingkungan yang cukup parah dan dapat berpengaruh fatal bagi biota sungai," ungkapnya.

2. Memanfaatkan Arduino

Mahasiswa UNY Buat Kendali pH Otomatis untuk Limbah TahuAlat kendali pH otomatis pada pabrik tahu besutan mahasiswa UNY. Dok: istimewa

Menurut Ikhsan, agar limbah cair ini bisa terkontrol dengan baik, oleh karenanya dirinya bersama dengan tim membuat alat kontrol Potential of Hydrogen (pH) otomatis dengan memanfaatkan Arduino sebagai controlling perangkat relay, LCD, sensor pH, sensor Turbidity, dan sensor TDS.

“Dengan berkembangnya teknologi yang sangat cepat serta semakin dituntutnya efisiensi dalam melakukan pekerjaan diperlukannya suatu alat otomatisasi untuk memudahkan pekerjaan manusia yang sebelumnya dilakukan secara manual dengan penuh risiko," terangnya.

Ikhsan menjelaskan, pada bagian perakitan, perangkat keras sensor dihubungkan dengan mikrokontroler. Kemudian, sensor diletakkan pada ketinggian yang sesuai dengan permukaan limbah cair tahu.

Kemudian pada bagian pengolahan data terdiri dari perangkat keras mikrokontroler, RTC, dan SD Card. Semua komponen tersebut dihubungkan ke mikrokontroler melalui kabel jumper. Setelah semua perangkat terhubung, dimasukkan ke sebuah wadah yang terbuat dari plastik akrilik berbentuk kotak agar semua perangkat tersebut terlindung dari debu maupun air yang dapat merusak komponen.

"Pada bagian perlakuan aksi terhadap data hasil keluaran terdiri dari perangkat keras LCD, relay, dan aktuator. LCD dan relay dihubungkan ke mikrokontroler melalui kabel jumper," katanya.

3. Cara kerja alat

Mahasiswa UNY Buat Kendali pH Otomatis untuk Limbah TahuAlat kendali pH otomatis pada pabrik tahu besutan mahasiswa UNY. Dok: istimewa

Fitria Alsya Yasmin menjelaskan, cara kerja alat ini yakni, pertama limbah cair tahu dikendalikan nilai EC-nya pada bak yang terpisah. Selanjutnya limbah tersebut dikirimkan ke bak yang digunakan untuk mengendalikan pH yang telah diletakkan dua sensor yaitu sensor suhu DS18B20 dan sensor pH.

Kedua sensor tersebut membaca suhu dan nilai pH larutan nutrisi. Hasil pembacaan nilai pH nutrisi dijadikan sebagai faktor utama untuk memberikan aksi dari mikrokontroler ke relay yang disambungkan ke masing-masing pompa.

Ketika nilai pH<5,3 maka pompa larutan basa hidup selama dua detik, lalu menunggu larutan tersebut tercampur selama tiga menit dan mengukur kembali nilai pH-nya. Ketika nilai pH>7 maka pompa larutan asam hidup selama dua detik, lalu menunggu larutan tersebut tercampur selama tiga menit dan mengukur kembali nilai pH nya. Ketika nilai pH 5,3–7 maka pompa larutan nutrisi hidup untuk membasahi akar tanaman selama 1 menit 35 detik.

Setelah nutrisi disalurkan ke instalasi hidroponik maka mikrokontroler mengulang proses dari awal hingga alat dimatikan," paparnya.

Baca Juga: Mahasiswa UNY Rancang Alat Keselamatan Pekerja Konstruksi 

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya