Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
(IDN Times/Halbert Caniago)
Ilustrasi petugas dapur umum menyiapkan makanan untuk MBG (IDN Times/Halbert Caniago)

Intinya sih...

  • Penyebab keracunan penerima manfaat MBG di Bantul adalah menu makanan yang disimpan dalam ompreng dalam waktu lama, bukan karena bahan makanan.

  • Makanan yang masih panas di ompreng tak segera dikonsumsi bisa menyebabkan keracunan, perbaikan proses pengolahan makanan telah dilakukan untuk menghindari kasus serupa.

  • SPPG yang belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan Bantul diminta segera mengurus perizinan tersebut untuk menjamin keamanan pangan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bantul, IDN Times - Sejumlah kasus keracunan menimpa penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bantul beberapa waktu lalu. Dampak dari kejadian tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengolah menu MBG pun ditutup sementara.

Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, mengatakan MBG merupakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto. Meski demikian, ia menilai program yang masih tergolong baru ini perlu dievaluasi agar ke depan tidak lagi terjadi kasus keracunan pada penerima manfaat.

“Program MBG merupakan program untuk menciptakan generasi Indonesia Emas pada tahun 2045 yang akan datang. Ini program yang mulia,” ujarnya, Sabtu (3/1/2026).

‎1. Penyebab penerimaan manfaat MBG mengalami keracunan

Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta.(IDN Times/Daruwaskita)

Menurut Aris, kasus keracunan MBG di Bantul terus dievaluasi agar tidak terulang. Berdasarkan hasil evaluasi dan pemeriksaan laboratorium, keracunan tersebut bukan murni disebabkan bahan makanan, melainkan faktor lain yang memengaruhi kualitas menu.

“Setelah dilakukan evaluasi berdasarkan hasil laboratorium, penyebab keracunan adalah menu makanan yang disimpan dalam ompreng dalam waktu lama sehingga bisa menimbulkan keracunan,” ujarnya.

2. Menu makanan yang masih panas di ompreng tak segera dikonsumsi bisa menyebabkan keracunan

Ilustrasi ompreng MBG. (IDN Times/Putra F. D. Bali Mula)

Setelah makanan selesai dimasak dalam kondisi panas lalu dimasukkan ke dalam ompreng dan ditutup, konsumsi dalam jeda waktu yang terlalu lama ternyata dapat membuat makanan menjadi tidak higienis dan berpotensi mengandung racun.

“Setelah penyebab keracunan MBG ditemukan, kami melakukan perbaikan pada proses pengolahan makanan, mulai dari pengemasan hingga waktu pengiriman. Jarak waktu dari makanan dimasukkan ke ompreng sampai dikonsumsi tidak boleh lama. Setelah perbaikan itu, tidak ditemukan lagi kasus keracunan MBG di Bantul,” ungkap Aris.

Ia berharap temuan tersebut menjadi pembelajaran agar kasus serupa tidak terulang. “Semoga dengan temuan ini, tidak ada lagi kasus keracunan MBG di Bumi Projotamansari,” ujarnya.

‎3. SPPG segera urus SLHS ke Dinas Kesehatan Bantul

Ilustrasi Dapur MBG. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Terlepas dari itu, Aris berharap SPPG yang hingga kini belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan Bantul segera mengurus perizinan tersebut. Pasalnya, SLHS menjadi syarat utama untuk menjamin keamanan pangan, terlebih satu SPPG dalam sehari melayani ribuan penerima manfaat MBG.

“Silakan mengurus SLHS sesuai persyaratan yang ada. Sebab SLHS menjadi jaminan bahwa makanan yang dikonsumsi aman,” tandasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team