Comscore Tracker

Ratusan Anak di DIY Terpaksa Kehilangan Orangtua Akibat COVID-19

Sejauh ini sudah terdata setidaknya 150 anak yatim piatu

Yogyakarta, IDN Times - Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengungkap ratusan anak kehilangan orangtua selama pandemi COVID-19. Anak-anak tersebut kini berstatus yatim piatu usai orangtua mereka meninggal akibat terpapar virus Corona.

Baca Juga: MCCC DIY, Mendata Anak Yatim Piatu Akibat COVID-19 Lintas Agama

1. Sudah 150 anak jadi yatim piatu

Ratusan Anak di DIY Terpaksa Kehilangan Orangtua Akibat COVID-19Ilustrasi anak yatim piatu. (Dok. Istimewa)

Kepala DP3AP2 DIY Erlina Hidayati Sumardi menyebut, berdasarkan hasil pendataan sementara didapati kurang lebih 150 anak kehilangan orangtuanya.

Angka tersebut diperoleh dari 5 kabupaten/kota se-DIY. Meskipun belum menyeluruh.

"Statusnya anak-anak yang orangtuanya terpapar Covid-19 dan meninggal. Ada yang yatim piatu artinya sekaligus dua-duanya orang tuanya meninggal, ada yang salah satu," kata Erlina dihubungi, Rabu (4/8/2021).

Kategori anak menurut DP3AP2 adalah mereka yang berusia 0-18 tahun. Dalam kasus ini, tak sedikit anak usia nol kehilangan ibunya ketika proses melahirkan.

"Di (data) antaranya adalah bayi-bayi yang ibunya waktu melahirkan terpapar COVID-19 kemudian ibunya meninggal. Bisa dikatakan banyak karena di atas 10 ya," paparnya.

2. Bisa lebih banyak

Ratusan Anak di DIY Terpaksa Kehilangan Orangtua Akibat COVID-19Ilustrasi tenaga medis mengenakan APD untuk menangani pasien virus corona. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Apa yang disampaikan Erlina adalah data anak secara komplet dengan rincian identitas pribadi. Menurutnya, DP3AP2 DIY masih berupaya melengkapi pendataan ini.

Termasuk, melakukan kroscek dengan hasil pendataan yang dilakukan berbagai lembaga lain guna menghindari duplikasi. Semacam Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Muhammadiyah.

Namun, sejauh ini Kabupaten Sleman dan Bantul paling dominan untuk jumlah anak kehilangan orangtua akibat paparan COVID-19.

"(Pendataan) belum semuanya. Makanya angkanya akan lebih banyak daripada itu ketika nanti kami bisa kumpulkan dari kabupaten/kota. Yang saya katakan ini kan yang sudah ada nama, alamat, dan sebagainya itu artinya sudah ada data yang lebih komplit," bebernya.

"Semoga minggu ini dapat fix gitu. Karena kami kan juga harus mendata kaitannya nanti dengan apa yang harus kami bantukan kepada anak-anak tersebut," sambung Erlina.

3. Pastikan masa depan anak

Ratusan Anak di DIY Terpaksa Kehilangan Orangtua Akibat COVID-19Ilustrasi anak-anak (IDN Times/Ayu Afria)

Adalah tugas DP3AP2 DIY memastikan bantuan atau dukungan bagi anak-anak yang kehilangan orang tua tersebut.

Bantuan atau dukungan bisa meliputi pendampingan terhadap anak, pemberian dukungan psikologis, pemenuhan kebutuhan kesehatan, kemudahan akses melanjutkan pendidikan, dan lain sebagainya.

"Karena anak-anak yang kehilangan orang tua apalagi yang dua-duanya gitu kemudian kalaupun kehilangan satu orang tua tapi orangtuanya pencari nafkah utama kan harus kita perhatikan sangat pemenuhan hak-hak anaknya sama keterlindungan si anak," imbuh Erlina.

"Jangan sampai nanti anak sudah jadi korban COVID-19 sekaligus kehilangan orang tua sekaligus menjadi korban lainnya misalnya perdagangan anak atau tidak diasuh dengan baik dan sebagainya," sambungnya menegaskan.

4. Tekan hulu dan hilir

Ratusan Anak di DIY Terpaksa Kehilangan Orangtua Akibat COVID-19Selter Isolasi COVID-19 di University Club (UC) Hotel Universitas Gadjah Mada. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Erlina tak menampik kasus penularan Covid-19 pada keluarga yang masih marak. DP3AP2 DIY mengklaim telah berupaya melakukan sosialisasi dan edukasi dari hulu ke hilir.

Kendati melihat kasus penularan klaster keluarga masih merebak, Erlina menuturkan, saat ini pihaknya melakukan penguatan pada sisi hilir. Salah satunya dengan mendorong para pasien agar bersedia dievakuasi ke shelter, termasuk mencarikannya guna menghindari jatuhnya korban.

Pasalnya, salah satu kendala terbesar saat ini adalah pasien kekeh untuk menjalani isolasi di rumah masing-masing ketimbang di shelter dengan alasan kenyamanan. Padahal, dari segi monitoring kesehatan intensif dan pemenuhan kebutuhan medis belum tentu terjamin. 

Belum lagi adanya potensi penyebaran virus di lingkaran terkecil atau keluarga. Anak-anak atau kelompok rentan lainnya tentu bisa menjadi korban.

"Saya rasakan sendiri saya pernah positif COVID-19. Perkembangan menjadi gejala yang lebih berat itu bisa dalam hitungan satu dua hari. Kalau yang rentan ini isoman di rumah satu dua hari itu sangat berarti untuk bisa sukses mencari layanan yang bisa melayani. Makanya ini temen-temen relawan satgas PPA itu kan selalu memantau yang seperti itu keliling," pungkasnya.

Baca Juga: Kisah Gadis Kembar di Bantul yang Jadi Sebatang Kara Akibat COVID-19

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya