Yogyakarta, IDN Times - Sejumlah data mengatakan bahwa persoalan literasi di Indonesia bukan semata soal minat baca, melainkan juga kemampuan dalam memahami dan mengkritisi bacaan. Banyak anak muda yang mampu membaca secara teknis, tetapi sulit menangkap makna, konteks, maupun pesan inti dari teks yang dibaca. Pola membaca cepat, mengandalkan ringkasan, serta preferensi pada konten pendek membuat proses membaca mendalam kian jarang dilakukan.
Kondisi tersebut tecermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-69 dari 80 negara dalam kemampuan membaca, dengan skor 359 poin—jauh di bawah rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang ada di angka 476.
Situasi tersebut diperkuat temuan survei IDN Times terhadap 200 responden anak muda, yang menunjukkan hampir separuh mengaku kesulitan memahami bacaan panjang atau ilmiah, sementara 39,5 persen menggunakan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu memahami teks. AI pun kerap menjadi jalan pintas, bukan sarana untuk memperdalam pemahaman.
Di tengah derasnya arus informasi digital, algoritma media sosial, dan dominasi konten visual singkat, kemampuan berpikir kritis anak muda menghadapi tantangan serius. Membaca mendalam membutuhkan waktu, fokus, dan ketenangan—sesuatu yang makin langka di era zombie scrolling atau scroll cepat di media sosial tanpa tujuan.
Dalam konteks ini, pemetaan kondisi literasi Gen Z dan Gen Alpha menjadi krusial, termasuk bagaimana teknologi membentuk cara mereka membaca, memahami, dan menyaring informasi. Untuk menelaah hal tersebut, IDN Times mewawancarai Hafiz Noer, Head of Research at Center for Digital Society Universitas Gadjah Mada (CfDS UGM), beberapa waktu lalu. Bagaimana CfDS UGM melihat kondisi tersebut, sekaligus peluang dan intervensi yang bisa dilakukan ke depan?
