Comscore Tracker

Data Kasus COVID di Sleman dan Pemda DIY Berbeda, Ini Penyebabnya 

Data di awal tahun 2021 sudah 3 kali berbeda

Sleman, IDN Times - Laporan data harian COVID-19 yang dikeluarkan Pemda DI Yogyakarta dengan Kabupaten Sleman kerap mengalami perbedaan. Di awal tahun 2021 ini, sudah terjadi tiga kali perbedaan data penambahan kasus baru COVID-19. 

Merujuk laporan pada Senin (11/1/2021), konfirmasi kasus COVID-19 positif yang dikeluarkan Satgas Penanganan COVID-19 DIY sebanyak 59 kasus. Sementara akun Twitter resmi Pemkab Sleman mengumumkan penambahan kasus baru sebanyak 69 pasien.

Pada Selasa (12/1/2021), data Pemda DIY menyebutkan sebanyak 54 kasus positif tambahan terjadi Kabupaten Sleman. Sementara akun Twitter Pemkab Sleman @kabarsleman mengumumkan 82 kasus positif.

Di hari Rabu (13/1/2021) perbedaan data masih teta[ terjadi, di mana provinsi mengumumkan penambahan sebanyak 82 kasus positif, sedangkan akun Twitter Pemkab Sleman mengungkapkan ada 101 tambahan kasus positif.

 

 

1. Ini penyebab terjadinya perbedaan data

Data Kasus COVID di Sleman dan Pemda DIY Berbeda, Ini Penyebabnya Data COVID-19 Pemda DIY. Sumber: corona.jogjaprov.go.id/

Juru Bicara Penanganan COVID-19 pemda DIY Berty Murtiningsih membenarkan jika laporan harian COVID-19 yang diumumkan provinsi dengan kabupaten/kota sering mengalami perbedaan. Menurutnya, data yang diumumkan DIY selama ini sama dengan pusat, hal ini lantaran diambil dari data yang sudah di-entry dalam aplikasi All Record (NAR). Sementara untuk kabupaten harus tetap mengumumkan dan segera melakukan tindak lanjut tracing meskipun data yang ada belum ter-entry dalam NAR.

"Ya. Memang begitu karena kabupaten/kota harus segera melaporkan dan melakukan tindak lanjut tracing, jadi ada yang belum terentry dan verifikasi di NAR," ungkapnya pada Jumat (14/1/2021).

Baca Juga: DIY Darurat Rumah Sakit, Jangan Biarkan Jadi Kolaps Gegara COVID 

2. Data tambahan dimasukkan di laporan hari berikutnya

Data Kasus COVID di Sleman dan Pemda DIY Berbeda, Ini Penyebabnya Ilustrasi dokter di Aceh meninggal karena COVID-19. ANTARA FOTO/Ampelsa

Berty menggarisbawahi perbedaan yang ada selama ini hanyalah dalam waktu pengumuman saja. Semisal di suatu kabupaten/kota terdapat penambahan kasus setelah aplikasi NAR ditutup pukul 13.00 WIB oleh PHEOC, maka tambahan data tidak akan masuk di hari yang sama. Namun Berty memastikan data tambahan tersebut akan masuk di hari selanjutnya. 

"Bila kabupaten setelah itu ada tambahan kasus (setelah aplikasi NAR ditutup pukul 13.00 WIB), maka tidak masuk pengumuman hari ini. Tetapi pasti akan masuk entry dan verif NAR di hari berikutnya, sehingga tetap sama hanya dari sisi waktu pengumuman yang berbeda," katanya.

3. Kabupaten melakukan update data hingga sore hari

Data Kasus COVID di Sleman dan Pemda DIY Berbeda, Ini Penyebabnya Ilustrasi. Petugas medis yang tangani pasien COVID-19 harus mengenakan alat pelindung diri atau APD (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Adanya perbedaan data laporan harian COVID-19 antara Pemda DIY dan Kabupaten Sleman juga diakui oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo. Menurut Joko selama ini jika ada konfirmasi kasus COVID-19, rumah sakit langsung memasukkan data ke NAR. Sementara di Kabupaten Sleman hingga sore data masih di-update terus. Hal tersebut yang menimbulkan adanya perbedaan antara provinsi dengan kabupaten.

"Dari rumah sakit kan langsung ke all record (NAR). Nah nanti bisa diunduh oleh provinsi, cuma provinsi meng-cut off jam 12. Sementara di kabupaten sampai jam 6 sore masih kita update terus, jadi kadang masih ada perbedaan. Itu yang membuat ada perbedaan," jelasnya.

Joko mengungkapkan meski di laporan harian sering terjadi perbedaan, namun di waktu tertentu pihaknya bersama dengan provinsi akan melakukan pencocokan data. Menurut Joko jika terjadi selisih angka tidak terlalu banyak.

4. Swab untuk kontak erat saat ini hanya untuk yang bergejala

Data Kasus COVID di Sleman dan Pemda DIY Berbeda, Ini Penyebabnya Ilustrasi Swab Test. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Berkaitan dengan makin tingginya kasus positif COVID-19 di Kabupaten Sleman, Joko menjelaskan tracing masih terus dilakukan. Tapi saat ini setiap ada kasus, tracing hanya dilakukan rata-rata kepada 3 hingga 5 orang saja. 

"Tracing tetap dilakukan sekatang yang tidak itu swabnya. Swab hanya untuk yang kontak erat yang bergejala baru dilakukan swab. Tapi yang kontak erat tidak bergejala itu tidak swab hanya dipantau melalui gadget," katanya.

5. Dinkes Sleman akui alami beberapa kendala saat tracing

Data Kasus COVID di Sleman dan Pemda DIY Berbeda, Ini Penyebabnya Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo. IDN Times/Siti Umaiyah

Menurut Joko yang dilakukan Sleman terkadang menemui kendala di lapangan. Seperti beberapa puskesmas yang memiliki kasus sangat banyak lantaran mobilitas warganya yang tinggi. Sementara untuk SDM yang ada sangatlah terbatas, ditambah adanya pembatasan yang membuat SDM harus Work From Home (WFH) untuk sementara waktu.

"Puskesmas kasus tinggi pertama Ngaglik I, Gamping II, Depok I, II, III. Sementara tenaganya ya terbatas. Apalagi sekarang diharuskan menerapkan WFH sebagian, nah kita tetap mengambil cara walaupun WFH dia bisa memantau lewat HP masing-masing ke kontak eratnya," paparnya.

Baca Juga: Tak Hanya Raffi Ahmad, Inilah Momen Meriah Pesta Ulang Tahun Bos KFC 

Topic:

  • Siti Umaiyah
  • Febriana Sintasari
  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya