Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi Inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)

Intinya sih...

  • Inflasi bulan Maret 2025 di DIY mencapai 1,25 persen (mtm) dan 0,52 persen (yoy).
  • Terjadi inflasi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan BBRT serta pada komoditas emas perhiasan.
  • KPwBI DIY optimis inflasi DIY tahun 2025 dapat terjaga pada kisaran target sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times – Peningkatan harga saat Idulfitri 2025 memicu inflasi bulan Maret 2025.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) DIY bulan Maret 2025, tercatat terjadi inflasi sebesar 1,25 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan Februari 2025 yang mengalami deflasi sebesar 0,86 persen (mtm). Dengan perkembangan tersebut IHK DIY secara tahunan mengalami inflasi sebesar 0,52 persen (yoy). Berdasarkan IHK, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunungkidul pada periode laporan mengalami inflasi masing-masing sebesar 1,29 persen (mtm) dan 1,24 persen (mtm), atau secara tahunan masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,83 persen (yoy) dan 0,28 persen (yoy).

1.Pendorong terjadinya inflasi

Ilustrasi Listrik PLN. (IDN Times/Arief Rahmat)

Inflasi terutama terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga (BBRT) seiring berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen kepada pelanggan rumah tangga PT. PLN (Persero) dengan daya terpasang listrik hingga 2.200VA yang berlaku pada bulan Januari-Februari 2025. Berakhirnya kebijakan tersebut berdampak pada kembali normalnya tarif listrik bagi kelompok pelanggan prabayar untuk pembelian listrik pada bulan Maret 2025. Sedangkan bagi kelompok pelanggan pascabayar, penggunaan listrik bulan Januari dan Februari setelah mendapatkan diskon ditagihkan pada satu bulan setelahnya, yaitu masing-masing pada bulan Februari dan Maret.
 
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, khususnya pada komoditas emas perhiasan juga turut memberikan andil terhadap inflasi pada periode Maret 2025. Inflasi emas perhiasan (0,07 persen, mtm) dipicu oleh dinamika harga emas global di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Hal tersebut berdampak pada naiknya permintaan terhadap emas global yang tertransmisi pada emas perhiasan sebagai aset safe haven.

2.Berbagai kebutuhan mengalami peningkatan permintaan

Ilustrasi cabai rawit (IDN Times/Umi Kalsum)

Sedangkan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, inflasi disebabkan oleh komoditas bawang merah dan cabai rawit. Andil inflasi bawang merah (0,07 persen, mtm) dan cabai rawit (0,05 persen, mtm) dipicu tekanan permintaan masyarakat yang meningkat pada momen Idulfitri. Selain itu, terdapat keterbatasan pasokan di beberapa wilayah sentra produksi seperti Nganjuk, Magetan, dan Purwodadi.
 
Meski begitu, tekanan inflasi pada kelompok ini tertahan oleh andil deflasi beberapa komoditas aneka sayur seperti buncis (0,08 persen, mtm), tomat (0,03 persen, mtm), dan kacang panjang (0,02 persen, mtm). Kondisi tersebut salah satunya disebabkan oleh kondisi pasokan yang terjaga di beberapa daerah pemasok seperti Magelang dan Wonosobo.

3.Optimis inflasi masih terjaga

ilustrasi inflasi (IDN Times/Aditya Pratama)

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY (KPw BI DIY), Ibrahim mengatakan KPwBI DIY optimis inflasi DIY tahun 2025 dapat terjaga pada kisaran target sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen.
 
"Kondisi tersebut didukung upaya TPID DIY dalam kerangka 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif) melalui penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) DIY," terang Ibrahim pada Rabu (9/8/2025). 

Selain terus mendorong keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dalam gerakan Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi (MRANTASI), pada tahun 2025 ini KPwBI DIY juga mendukung upaya pembentukan sistem logistik daerah yang rencananya akan diinisiasi oleh PT. Taru Martani (BUMD DIY).
 
”Selain itu, gerakan sosial masyarakat terkait stabilias harga perlu terus diperluas dan didukung, seperti gerakan masjid Nurul Ashri sebagai aggregator. Kemudian dalam upaya menjaga ketersediaan pasokan di daerah seiring implementasi berbagai program strategis pemerintah pusat, maka Kerjasama Antar Daerah (KAD) baik antar provinsi maupun intra provinsi perlu terus diperkuat,” ujar Ibrahim.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team