Peribadatan di Candi Prambanan. (Dok. Istimewa)
Prosesi Maha Gangga Tirta Gamana, di mana air dipersatukan sebagai simbol pemurnian diri dan harmoni semesta tersimpan makna tentang keterhubungan manusia, alam, dan spiritualitas. Ini sebagai simbol pembersihan diri dari segala kekotoran pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Memasuki inti ritual, umat akan mengikuti persembahyangan Abhisekam atau upacara penyucian candi yang terdiri dari Abhisekam Mahashivaratri sebagai ritual persembahan puncak serta dilanjutkan dengan Abhisekam 4 dan Abhisekam 5 yang merupakan persembahyangan hingga fajar menyingsing.
Suasana magis akan dihadirkan melalui Festival Dhipa dengan 1.008 dipa yang dinyalakan secara serentak diiringi bunyi damaru yang menggetarkan sukma. Kemegahan visual juga akan dihadirkan melalui atraksi video mapping yang membalut candi dengan teknologi cahaya, di area concourse dengan dekorasi yang menambah kekhusyukan suasana.
“Melalui nyala dipa ini, manusia diingatkan untuk kembali pada keseimbangan hidup. Filosofi tiga sisi dipa mencerminkan energi Trimurti: Dewa Brahma sebagai penghasil cahaya awal, Dewa Wisnu sebagai penjaga harmoni dan kasih agar cahaya tetap hidup, serta Dewa Shiva yang melebur kegelapan untuk menuntun manusia menuju kesadaran diri tertinggi,” ujar Nyoman Ariawan.
Wisatawan dapat berpartisipasi dalam penyalaan 1008 dipa pada Minggu, 15 Februari 2026 pukul 20.00 WIB dengan tiket seharga Rp85.000, yang sudah mencakup fasilitas dipa dan gelang nawadatu. Tersedia pula paket khusus seharga Rp159.000, untuk dua orang dan Rp299.000, untuk empat orang, guna mendorong kehadiran keluarga dan komunitas dalam merayakan malam penyucian di Candi Prambanan.
Mahashivaratri diselenggarakan secara kolaboratif oleh berbagai pihak, di antaranya Kementerian Pariwisata RI, Kementerian Agama RI melalui Dirjen Bimas Hindu, dan Tim Pemanfaatan Candi Prambanan, Kementerian Kebudayaan, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan InJourney Destination Management.