Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jauhar Mustofa menerima kunjungan silaturahmi para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi asal DIY di Kantor Wilayah Kemenhaj DIY, Jumat (13/2/2026). (IDN Times/Yogie Fadila)
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jauhar Mustofa menerima kunjungan silaturahmi para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi asal DIY di Kantor Wilayah Kemenhaj DIY, Jumat (13/2/2026). (IDN Times/Yogie Fadila)

Kota Yogyakarta, IDN Times - Menjadi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Tanah Suci adalah tugas mulia sekaligus ujian keikhlasan. Hal ini ditekankan dengan keras oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) DIY, M. Jauhar Mustofa, saat menerima kunjungan para petugas haji asal DIY, Jumat (13/2/2026).

Jauhar mengingatkan bahwa niat utama para petugas yang diberangkatkan oleh negara adalah untuk bekerja dan melayani ratusan ribu Tamu Allah, bukan untuk memprioritaskan ibadah sunah pribadi di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

1. Jarang ke Masjidil Haram karena fokus bertugas

Masjidil Haram (pexels.com/ahmar graphy)

Dalam arahannya, Jauhar membagikan pengalaman pribadinya saat bertugas menjadi PPIH di Makkah. Ia mengaku intensitasnya pergi ke Masjidil Haram bisa dihitung dengan jari karena tingginya beban kerja melayani jemaah di sektor penginapan.

"Ibadah kita petugas itu melayani. Saya ketika bertugas di sana, ke Masjidil Haram itu bisa dihitung. Waktu itu saya di Sektor Dua, jaraknya lumayan jauh sekitar 4 sampai 5 kilometer ke Haram," ungkap Jauhar di hadapan para petugas.

Ia menegaskan, akan sangat janggal dan tidak etis jika ada petugas yang ditempatkan di sektor, namun setiap hari justru terlihat sibuk pergi ke Masjidil Haram untuk beribadah dan meninggalkan pos tugasnya.

"Saru (tidak pantas-red) namanya ketika setiap hari ada petugas yang selalu ke masjid. Kalau jenengan ditugaskan di sektor, ya di sektor itulah jenengan harus serius bekerja. Bahkan kalau ke masjid tidak pakai seragam, itu nanti akan jadi masalah," tuturnya tegas.

2. Sambut jemaah hingga subuh

Kedatangan Jemaah Haji gelombang kedua di Bandara Internasional King Abdul Azis Jeddah (IDN Times/Sunariyah)

Lebih lanjut, Jauhar menggambarkan ritme kerja PPIH yang seolah tak kenal waktu. Pelayanan jemaah beroperasi 24 jam penuh.

"Sering saya bekerja itu selesainya jam setengah lima, hampir Subuh. Meskipun jenengan di bagian transportasi, konsumsi, atau akomodasi, ketika ada jemaah datang tengah malam, semua tenaga dikerahkan untuk membantu loading (bongkar muat-red) barang dan penempatan jemaah. Wuih, kalau jemaah sudah datang dari sore sampai dini hari, itu luar biasa," jelasnya.

3. Ada tim yang mengawasi petugas yang keluyuran

Peserta Diklat PPIH saling mengucapkan selamat atas pengukuhan mereka sebagai petugas haji (IDN Times/Yogie Fadila)

Sebagai bentuk kedisiplinan, Kemenhaj telah menerjunkan tim Pengendali Petugas sejak tahun 2024. Tim ini bertugas khusus memantau dan mengawasi pergerakan para petugas haji di lapangan.

Jauhar mewanti-wanti para petugas agar selalu mengenakan atribut resmi baik rompi maupun seragam saat keluar dari hotel. Ia menyoroti fenomena indisipliner tahun-tahun sebelumnya, di mana ada oknum petugas yang tertangkap basah asyik berbelanja atau jalan-jalan tanpa seragam di tengah waktu sibuk.

"Menjadi pemandangan yang aneh ketika saat penyelenggaraan haji, ada petugas yang asyik belanja di Kakiyah (pasar grosir di Makkah-red) atau selfie di Jabal Rahmah. Ini akan jadi catatan. Tahun kemarin ada yang seperti itu lalu diunggah ke Instagram dan viral," singgung Jauhar.

Ia pun menyentil oknum petugas yang akhirnya malu saat ketahuan melanggar aturan oleh tim pengawas.

"Mangkate ora nganggo cadar, baline cadaran. Mergo isin (Berangkatnya tidak pakai cadar/penutup wajah, pulangnya pakai cadar. Karena malu kepergok). Meskipun kita ya tetap paham siapa dia," canda Jauhar yang disambut senyum para peserta.

Menutup arahannya, Jauhar meminta agar amanat yang dibebankan negara melalui APBN ini benar-benar dipertanggungjawabkan dengan dedikasi tinggi.

"Mari amanat ini dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Niatkan bahwa ibadah kita sebagai petugas adalah melayani jemaah haji," pungkasnya.

Editorial Team