Sleman, IDN Times – Dua dekade pasca gempa bumi mengguncang Jogja dan Jawa Tengah, pemerintah bersama berbagai unsur lintas sektor menggelar Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan di Lapangan Garuda Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan, Sabtu (23/5/2026). Peringatan 20 tahun bencana gempa 27 Mei 2006 itu menjadi momentum untuk memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana di tengah tingginya risiko kebencanaan Indonesia.
Apel kesiapsiagaan dihadiri sejumlah pejabat kementerian dan lembaga. Selain itu sejumlah perwakilan dunia usaha, relawan, dan komunitas kebencanaan. Peringatan 20 Tahun Gempa Jogja – Jateng sebelumnya juga diisi dengan edukasi kesiapsiagaan menghadapi bencana di SMA N 1 Kalasan.
Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Lilik Kurniawan mengatakan, peringatan 20 tahun gempa bumi Jogja dan Jawa Tengah bukan sekadar mengenang tragedi masa lalu, tetapi menjadi pengingat penting bahwa kesiapsiagaan harus menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.
“Peringatan ini harus menjadi sarana refleksi bersama untuk memperkuat memori kolektif bangsa bahwa kesiapsiagaan merupakan investasi yang sangat penting dalam upaya mengurangi risiko bencana,” ujar Lilik.
Ia mengingatkan, gempa berkekuatan 5,9 magnitudo pada 27 Mei 2006 selama sekitar 57 detik meninggalkan luka mendalam. Bencana tersebut menyebabkan lebih dari 5.700 orang meninggal dunia, lebih dari 200 ribu rumah dan infrastruktur rusak, serta kerugian ditaksir mencapai lebih Rp29 triliun pada saat itu. “Peristiwa tersebut mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat secara luas,” katanya.