Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mendorong optimalisasi pemanfaatan kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI) dalam proses pemugaran candi di Indonesia agar lebih cepat. (IDNTimes/Tunggul Damarjati)
Dengan alasan itu, Fadli mendorong adanya terobosan dengan memanfaatkan teknologi modern agar proses pemugaran bisa lebih cepat dan efisien.
"Nah, kita membutuhkan sebenarnya tenaga pemugar yang cepat. Karena kalau tidak, ini bisa puluhan tahun nih kayak begini. Saya katakan nih kalau bisa dua tahun selesai gitu ya, dengan teknologi gitu ya. Jadi bukan hanya istilahnya itu susun coba. Cobalah kita pakai teknologi, kalau perlu pakai AI ya," ujar Fadli.
Ia menjelaskan, teknologi komputer dan AI dapat dimanfaatkan untuk membantu proses penyusunan batu candi yang saat ini masih berserakan. Dengan pendekatan tersebut, waktu pemugaran dinilai bisa dipangkas secara signifikan.
"Menurut saya nih bisa dua bulan, sebulan mungkin Jangan-jangan bisa satu perwara kalau kita pakai teknologi. Untuk apa kita menemukan teknologi komputer, apalagi sekarang sudah AI ya, tinggal menyusun puzzle batu-batu yang ada," ujarnya.
Meski demikian, Fadli menegaskan pemugaran tetap mengikuti aturan dan kaidah pelestarian cagar budaya. Ia menyebut dalam praktik pemugaran tidak mungkin sepenuhnya menggunakan artefak lama maupun sepenuhnya batu baru.
"Ya saya kira di dalam pemugaran itu tidak bisa sepenuhnya mungkin ada artefak yang 100 persen lama, dan tidak bisa juga 100 persen baru. Jadi ini gabungan," kata politikus Gerindra itu.