Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Sri Sultan menegaskan bahwa sebuah wilayah tidak lagi dipahami sebagai kumpulan sektor yang berjalan sendiri-sendiri. Namun, merupakan ekosistem nilai, sebuah struktur keselarasan, di mana berbagai aktor saling terhubung, untuk mewujudkan suatu proposisi kemanfaatan bersama. Ekosistem menuntut bukan hanya partisipasi, tetapi alignment. Bukan hanya kehadiran, tetapi kesepahaman arah.
“Dalam kerangka itu, Kadin kabupaten/kota adalah penggerak ekonomi wilayahnya masing-masing. Kadin bukan sekadar representasi dunia usaha, melainkan simpul orkestrasi pertumbuhan. Saudara berada pada posisi strategis untuk menggerakkan industri, menguatkan UMKM, dan menjembatani aspirasi pelaku usaha dengan kebijakan publik,” kata Sri Sultan.
Sri Sultan mengatakan DIY tidak dibangun di atas pola monolitik. Namun, tumbuh dalam kebersamaan potensi. Sleman dengan keunggulan pendidikan dan teknologi; Bantul dengan industri kreatif dan manufaktur; Kulon Progo dengan konektivitas logistik dan peluang kawasan industri; Gunungkidul dengan kekuatan agro-maritim dan pariwisata alam; Kota Yogyakarta dengan jasa, perdagangan, dan hospitality.
“Dalam perspektif teori ekosistem, keberagaman tersebut adalah komplementaritas non-generik dan saling melengkapi. Justru pada diferensiasi itulah, daya saing kolektif DIY bertumpu,” ujar Sri Sultan.