Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, DIY, Kamis (28/1/2026). (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Intinya sih...

  • India gercep lockdown untuk virus Nipah

  • Pengetatan baru di Thailand terkait pemeriksaan kesehatan di bandara

  • Belum sampai 1.000 kasus virus Nipah secara global

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyebut Pemerintah Indonesia belum akan melakukan skrining model era pandemi Covid-19 di bandara-bandara untuk mencegah masuknya virus Nipah.

"Indonesia itu otomatis sudah melakukan skrining, jd kita punya alat deteksi pasien suhu tinggi sudah bisa dideteksi. Tapi memang proses skrining seperti covid belum kita lakukan," kata Benjamin di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, DIY, Kamis (28/1/2026).

1. India gercep lockdown

ilustrasi peta negara India sebagai lokasi penyebaran virus Nipah (unsplash.com/Joshua Olsen)

Benjamin menuturkan, India sebagai negara dengan temuan virus Nipah baru-baru ini telah melakukan 'lockdown' guna mencegah penyakit tersebut meluas. Sekalipun, menurut Benjamin, temuan kasus terkonfirmasi di sana juga masih sangat rendah.

"Jadi di India pun sudah langsung melakukan lockdown, di India pun kenceng, mereka nggak mau kasusnya terbang ke negara lain," ucapnya.

2. Pengetatan baru di Thailand

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, DIY, Kamis (28/1/2026). (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Untuk di Asia Tenggara, kata Benjamin, negara yang memberlakukan pengetatan pemeriksaan kesehatan pada bandaranya sejauh ini baru Thailand. Thailand memperketat pemeriksaan kesehatan di beberapa bandara setelah India mendeteksi lima kasus virus Nipah di negara bagian Benggala Barat.

"Di Thailand sudah bagus, dilakukan skrining," katanya.

3. Belum sampai 1.000 kasus sedunia

ilustrasi Virus Nipah (unsplash.com/Fusion Medical Animation)

Benjamin menjelaskan, virus Nipah ini kali pertama ditemukan sejak 1998 silam. Risiko kematian akibat virus ini pun tergolong tinggi. Hanya saja, penyebaran penyakit akibat virus ini secara global bisa dibilang rendah sampai hari ini.

"Memang angka kematiannya sangat tinggi, tetapi jumlah kasus di dunia ini belum sampe seribu kasus. Jadi, belum sampe Indonesia," pungkasnya.

Editorial Team