Ilustrasi Pilkada (IDN Times/Mhd Saifullah)
Arya mengungkapkan saat ini secara statistik memang belum bisa terlihat berapa pasang atau orang yang akan maju atau termasuk dalam lingkaran dinasti politik maupun klientelisme, hingga nanti saat penutupan pendaftaran akhir Agustus 2024. "Nah sekarang kan semua orang masih dalam proses pencalonan. Jadi masih seleksi, masih menominasi siapa yang dicalonkan," ungkap Arya.
Arya menambahkan dari jumlah secara statistik belum tahu dari 500 lebih daerah, apa separuh atau seperti apa yang masuk dalam dinasti politik. Jika melihat tren pencalonan kepala daerah 10-20 tahun terakhir, trennya meningkat terkait pencalonan incumbent.
"Beberapa studi mengatakan, kepala daerah dengan popularitas kuat tinggi, atau kalau tidak populer, tapi dia incumbent habis masa jabatan 2 periode, kecenderungan sangat besar, dia akan mencalonkan keluarganya, entah anak istri atau kerabat," ujar Arya.
Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan UGM itu menjelaskan bahwa keluarga merupakan institusi politik paling efektif, sejak era prasejarah, sejak institusi demokrasi dikenal. Keluarga menjadi institusi politik paling solid, keluarga sangat mudah dikonsolidasikan.
"Tidak ada kepentingan lain selain kepentingan sesama anggota keluarga," ujar Arya.