Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Muhammadiyah Kecam Penculikan Jurnalis dan Aktivis oleh Israel
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengecam keras penculikan jurnalis dan aktivis Indonesia oleh militer Israel di perairan internasional dekat Siprus saat menjalankan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla.
  • Haedar menegaskan bahwa para jurnalis dan aktivis tidak memiliki kepentingan politik serta meminta PBB bertindak tegas terhadap tindakan sewenang-wenang Israel terhadap pihak yang membawa misi perdamaian.
  • Insiden penahanan lima WNI oleh militer Israel memicu langkah diplomasi pemerintah Indonesia, sementara empat lainnya masih belum diketahui keberadaannya menurut pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengecam penculikan jurnalis dan aktivis Indonesia oleh militer Israel di perairan internasional dekat Siprus dan Mediterania Timur. Berbagai bentuk politik kekerasan dinilai hanya merugikan semua pihak.

“Muhammadiyah selalu mengecam setiap bentuk intervensi, bahkan juga menggunakan kekerasan atau politik kekerasan yang akhirnya merugikan semua,” ungkap Haedar, seusai agenda Milad Aisyiyah ke-108, di Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Selasa (19/5/2026).

1. Jurnalis dan aktivis menjalankan misi kemanusiaan

ilustrasi Palestina (pixabay.com/hosnysalah)

Haedar menilai pihak jurnalis dan aktivis kemanusiaan yang tengah menjalankan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Gaza, Palestina, tidak memiliki kepentingan politik. “Pihak, jurnalis, para aktivis kemanusiaan, mereka kan tidak punya kepentingan politik apa pun,” ungkap Haedar. 

Haedar mengingatkan Israel untuk tidak membabi-buta terhadap segala hal yang berhubungan dengan Palestina. Terlebih selama ini Israel telah berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat Palestina. 

“Sudah misalkan berbuat sewenang-wenang untuk rakyat Gaza, pada saat yang sama juga berbuat sewenang-wenang terhadap berbagai pihak yang sebenarnya bertujuan untuk perdamaian dan kemanusiaan. PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) harus bertindak kalau menurut saya,” tegas Haedar.

2. Tantangan besar untuk perdamaian

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Haedar juga menyinggung bahwa di level global saat ini tengah menghadapi tantangan besar, ketika perang menjadi pilihan oleh sebagian negara, bahkan negara adidaya. “Yang itu sebenarnya menunjukkan kita sudah tidak ada lagi dalam falsafah hidup modern yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Bahkan menjadi lorong buntu kemodernan,” ujar Haedar.

Menurut Haedar semestinya setelah Perang Dunia I dan II, tidak boleh lagi ada perang. PBB yang seharusnya mengambil peran untuk mempelopori perdamaian, dirasa juga tidak melakukan. “Ini yang sering saya sebut sebagai prahara global atau global catastrophe. Di mana susah menghentikan karena pelakunya adalah yang punya dominasi di PBB, punya hak veto, dan menjadi negara adidaya,” ungkapnya.

Haedar mengajak bangsa-bangsa untuk menyerukan perdamaian dan menghentikan perang yang terjadi. “Kami mengharapkan kepada seluruh bangsa-bangsa di dunia untuk terus saja menyuarakan agar perang berhenti,” ucap Haedar.

3. Jurnalis dan aktivis diculik

ilustrasi jurnalistik (unsplash.com/Markus Winkler)

Dilansir dari IDN Times sebelumnya diketahui empat jurnalis dan satu relawan asal Indonesia menjadi korban penahanan oleh militer Israel saat mengikuti misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Gaza, Palestina. Insiden tersebut terjadi ketika armada kemanusiaan yang membawa bantuan untuk warga Gaza dicegat di perairan internasional dekat Siprus dan Mediterania Timur. 

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, mengatakan, dari sembilan orang WNI yang ikut dalam rombongan, lima orang tertangkap dan empat orang masih ada di beberapa tempat.

“Saya sudah komunikasi dengan Kemlu untuk segera melakukan pendekatan melalui jalur diplomasi, sampai sekarang belum bisa dipastikan posisi terkini dari sembilan orang. Lima orang tertangkap dan empat orang masih di beberapa tempat, nanti berita terbaru saya kabari,” ujar Dudung saat dihubungi, Selasa (19/5/2026).

WNI yang dilaporkan ditangkap itu adalah jurnalis Republika, Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai, jurnalis Tempo, Andre Prasetyo Nugroho, serta jurnalis yang berkontribusi untuk iNewsTV, BeritaSatu, dan CNN Indonesia, Rahendro Herubowo. Selain itu, aktivis Andi Angga juga dilaporkan berada dalam daftar korban intersepsi militer Israel.

Editorial Team