Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mubes Nahdliyin Nusantara desak petinggi PBNU segera sudahi konflik
Mubes Nahdliyin Nusantara desak petinggi PBNU segera sudahi konflik. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Intinya sih...

  • Mubes Nahdliyin Nusantara mendesak PBNU selesaikan konflik internal

  • Elit PBNU diminta perhatikan warga NU di kelas bawah dan jelata-jelata nahdliyyin

  • Mubes tidak dimaksudkan untuk mendorong penyelesaian masalah melalui Muktamar Luar Biasa (MLB)

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times - Forum Nahdliyin Nusantara mendesak para petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk segera menyudahi konflik internal apa pun latar belakang permasalahannya dan lebih memerhatikan persoalan warga NU di kelas bawah.

Desakan itu mengemuka melalui Musyawarah Besar alias Mubes Nahdliyin Nusantara yang dihelat di salah satu kafe, daerah Ngemplak, Sleman, DIY, Jumat (28/11/2025) petang. Mubes diselenggarakan merespons gejolak antara ketua umum dan rais aam PBNU saat ini.

1. Mau soal tambang atau zionis, kisruh harus selesai

Ketum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf usai rakor dengan PWNU se-Indonesia. (IDN Times/Khusnul Hasana)

Nahdliyin Nusantara melalui mubes itu mengeluarkan pernyataan sikap. Mereka berpandangan, elite PBNU semestinya mampu menjadi oase atau penyejuk di tengah situasi himpitan ekonomi dan ketidapastian sosial yang melanda umatnya. Bukannya malah terjebak dalam konflik internal antara jajaran Syuriah dan Tanfidziyah seperti sekarang ini.

Nahdliyin Nusantara melihat jajaran Syuriah dan Tanfidziyah kini dipandang banyak dipengaruhi oleh kepentingan oligarki serta kekuatan politik di luar NU.

"NU di kaum bawah ini lebih besar daripada yang di Jakarta. Artinya apa? Kekhawatiran kita itu, kita berlepas dari isu tambang, isu Zionis atau apapun itu (yang disinyalir memicu konflik internal lembaga), kita itu cuma khawatir kisruh ini ndak selesai, kemudian tidak ada program kerakyatan," kata Zuhdi Abdurrahman yang juga merupakan salah satu pengurus Ansor Bantul.

"Kalau dari kita semua, itu kembali ke kyai-nya masyarakat itu loh. Jadi apapun latar belakangnya, terserah ke mereka yang di Jakarta, tapi harus segera selesai. Karena kita tidak mau digiring ke arah blok Barat atau blok Timur. Kalau nanti kita kayak gitu ya nambah nambah keruh kira-kira itu. Jadi apapun yang melatarbelakangi yang di sana terjadi, segera selesaikan," sambungnya.

2. Pikirkan kembali warga NU di kelas bawah dan jelata-jelata nahdliyyin

Mubes Nahdliyin Nusantara desak petinggi PBNU segera sudahi konflik. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Melihat kebuntuan komunikasi atau deadlock yang kian parah antara Tanfidziyah dan Syuriah PBNU, Nahdlatul Nusantara pun mengajak seluruh pemegang mandataris Muktamar untuk segera melakukan langkah konkret.

Pertama, memohon kepada jajaran syuriah dan tanfidziyah untuk mengedepankan silaturahmi serta tabayyun dalam mengelola persoalan organisasi.

Kedua, mengharap kepada semua elit PBNU agar lebih memperhatikan persoalan warga NU di kelas bawah dan jelata-jelata nahdliyyin. Ajakan ini dibacakan sebagai salah satu bentuk pernyataan dari mubes ini.

3. Bukan maksud dorong Muktamar Luar Biasa

Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Miftachul Akhyar (dok. Kemenag)

Hasan Basri, Koordinator Mubes Nahdliyin Nusantara, sementara itu menegaskan jika forum kali ini bukan dimaksudkan untuk mendorong penyelesaian masalah melalui Muktamar Luar Biasa (MLB). Hasan menekankan, tidak pernah ada MLB dalam sejarah NU. Nahdliyin Nusantara lebih berharap uluran tangan para kiai sepuh dalam penyelesaian masalah ini.

"Kalau percepatan muktamar mungkin preseden-presedennya yang enggak ada. Tetapi itu yang kami harapkan agar terjadi apa, islah internal melalui mekanisme internal, yang paling mungkin melakukannya adalah kiai-kiai sepuh," ujar Hasan.

Salah satu pendiri Ponpes Bumi Cendekia, Nur Kholik Ridwan berharap konflik internal yang terjadi dapat segera terselesaikan. Menurutnya, sikap saling menegasikan akan terus mengemuka apabila kedua belah pihak tak lekas bertabayyun.

"Kalau silaturahmi dilakukan, tabayyun dilakukan tapi tidak ada sikap untuk tolong-menolong, kemampuan atau kemauan untuk melakukan saling tolong-menolong, ya akan terjadi saling menegasikan," cetusnya.

Infografis Ribut Tambang Buat Kursi Ketum PBNU Gus Yahya Digoyang (IDN Times/Mardya Shakti)
Infografis Ribut Tambang Buat Kursi Ketum PBNU Gus Yahya Digoyang (IDN Times/Mardya Shakti)

Editorial Team